Sudah jatuh, tertimpa cinta….

Upz, pagi tlah tiba… pagi tlah tiba… Hatiku sengsara !!  😛

Nyanyian itu terdengar merdu, walau dari balik gardu yang tak berpenjaga itu. Hmmm, siapa sih yang tak suka pagi ? Mungkin hanya para jomblo yang masih mempersulit bertemu pagi (mikir). Bukan kenapa, karena aku pernah merasakannya.

Bangun pagi, sholat shubuh, kerja, kerja, kerja. Sehabis kerja paling hanya nonton tivi atau nongkrong digardu itu bersama “kesebelasan” jomblowan (gubrak). Begituuuu tiap hari, sampai-sampai jadwalku dihafal betul oleh ibu-ibu yang suka ngerumpi di warung pojok rumah temanku (maklum artis).

Keadaan berubah ketika tiba-tiba aku terjatuh dari langit kesepian menuju langit kebahagiaan(apa pula ini). Seiring berjalannya pak pos, eh waktu akhirnya aku bisa jatuh cinta juga (sok bangedz). Ya namanya juga cinta, dia kan datang tak diundang dan pulangpun tak diantar, seperti pantun lama, dari mana datangnya lintah, dari sawah turun ke kali, disitulah lintahnya mandi. Wkwkwkwkwkk….

Oh ya singkat SMS 😛 akhirnya aku terjatuh dalam pelukan wanita yang begitu cantik. Tak bisa dibayangkan, lelaki sekeren aku (hahaha), berhasil mendapatkan bidadari cantik yang begitu baik. Jadwalpun berubah. Namun sayang, ikatan hati antara aku dengan “kesebelasan” jomblowan mulai sedikit goyah.

Ya maklumlah mulai saat itu aku sudah menjadi orang penting. Aku menempatkan diri sebagai penasihat spiritual kesebelasan jomblowan (Hahahaha). Tentu saja mereka tersinggung. Kenapa mereka tersinggung ? Bukankah penasihat spiritual adalah “profesi” mulia. Apalagi penasehat spiritual bagi kaum jomblo yang tersisihkan sebagai lelaki kalah ( hahahahahaaa… Nusuk bangedz). Kalian tahu kenapa ? Karena semua yang kuceritakan pada mereka tentang bidadari cantik dan pacar baru hanyalah cerita dalam mimpiku (gubrak).

#Tulisan ini dibuat dalam rangka menyemangati para Jomblo. Hayo semangat, ingatlah, Bahwa jomblo terjadi bukan karena ada niat dan kesempatan, tapi karena kamu tak laku saja !!!

😛

Pliss lah…. Pergi dari Hatiku (Essay Cinta)

Dewa Amor, mungkin kau kejam kali ini. Namun aku tidak bisa begitu saja mengumpatmu dari balik jendela hati ini. Bukankah aku yang menarik panahmu ? Hmmm, cinta memang sulit diterka, tapi ia datang bukan tanpa alasan (termangu).

Sekali lagi, aku tidak menggerutu atau menjadikan Panah Sang Amor sebagai kambing hitamku, aku hanya bercerita disini, bercerita tentang sepotong cinta yang terlalu kuat untuk dilunakkan. Sepotong cinta yang seharusnya telah berlalu, namun belum berkesudahan. Menyebalkan memang. Tapi … bukankah musafir harus berjalan menuju tujuannya ?

Masih dalam potongan-potongan kisah itu. Ketika kapal sudah tertambat di dermaga, maka tak mungkin ia akan pergi kemana. Namun, bukankah tsunami bisa saja merubah takdir tambatan itu ? Hmmm…. sekali lagi, menyebalkan ! Khawatir ? tidak ! sekali lagi kukatakan, Tidak ! Aku tidak perlu khawatir akan “kecurangan-kecurangan” cinta. Karena jiwaku sudah terpaut dalam… dalam… sangat dalam… Disana, dirongga hati sang Kamaratihku. Jadi aku tak risau. Lalu untuk apa essay cintaku ini ? Sudahlah, marilah kita lanjutkan. Biarlah pertanyaan demi pertanyaan menjadi bagian jawaban dari setiap pertanyaan-pertanyaan itu sendiri (mikir).

Today

Ini hari yang gila, mungkin sangat gila. Bagaimana tidak, engkau masih tersenyum di depanku (menyebalkan). Sudah kubilang, jangan mencoba tersenyum di depan wajah imutku (tendang)! Eh, masih saja engkau tersenyum. Awas ya, panah Amor itu beracun. Lain kali kulumasi dengan detergent yang sudah expired (lagi ngomong apa sihhh). Begitulah hari-hariku, bergelut dengan paras indah yang menyebalkan itu (gigit jari). Ugh !

Yesterday

Sama kayak today, tapi aku berhasil melarikan diri (yeahhh). Eksyen coy 🙂

Tomorrow

Mau pakai kacamata kuda, biar ga ngelihat kusirnya… Wahaha.

Cinta memang aneh. Tapi tak seaneh wajahmu yang sering kali kulihat nongkrong di panci dapurku (khayalan). Wesssstraaahhh….

#Sekadar coretan hati…

Met aktivitas semuanya 😉

Banyak Orang Miskin di Indonesia ? Kata Siapa ?

Kata siapa orang Indonesia miskin ?

Tiap tahun mall-mall megah dibangun, toh banyak orang yang belanja disana,

atau sekedar cuci mata kesana

Bukankah cuci mata kesana juga butuh biaya ?

Kata siapa orang Indonesia miskin ?

Tiap tahun mobil-mobil dengan harga yang fantastis selalu saja meningkat penjualannya,

Bahkan mobil-mobil yang “katanya” harganya milyaranpun banyak bertebaran di jalan-jalan aspal yang bergelombang

Aneh bukan ?

Lalu, kata siapa kalau orang Indonesia miskin ?

Properti yang harganya mulai puluhan sampai ratusan jutapun banyak yang memiliki

bahkan milyaranpun sanggup dibeli ?

Kata siapa orang Indonesia miskin ?

Disini, dikampungku yang rumahnya masih terbuat dari bambu, bahkan lantainyapun masih berdebu

setiap pagi ada dering telepon berbunyi dan penyanyi menari di televisi

Bajupun setiap hari berganti

Hmmm…

Lalu sebenarnya siapa yang miskin ?

#Ditulis dalam rangka menenangkan dan menyenangkan diri sendiri selaku rakyat biasa yang sering terbebani dan terbohongi…

Wkwkwkwkwkk….

🙂