MASIH ADA CINTA DI LANGIT SANA

Posted on

Ruang ICU

“Kak, aku mencintai suamiku.”

Suara itu masih terdengar jelas di telingaku. Suara itu lembut, selembut wajah wanita yang mengucapkannya padaku. Tapi matanya tak bisa membohongi kegundahan hatinya. Ada luka yang sedang menari–nari di jiwanya. Aku melihatnya.Ya aku melihatnya dibalik rona matanya yang menitikkan air bening yang sampai ke pipinya itu.

****************************

10 Tahun yang lalu

“Satu dua satu dua satu dua, berhenti grak !”

“Haduh, maaf !”

“Heh kamu ! Hallo ! Kupingnya masih terpasang kan ?”

“I..iii ya kak saya.”

“Ambil posisi push up ! Cepat !.

“Siap kak. Kerjakan !”

“Ada apa nih Ron ?”

“Ini Zal, tadi kan aba–abanya berhenti, eh ni anak malah nylonong aja seenaknya. Tak kasih hadiah tuh. Biar nyaho sekalian. Ngapain lihat – lihat. push up 10 kali lagi !”

“i..ii ya kak !”

“Wah, bisa langsing tuh anak. Sudah Ron jangan banyak–banyak. Kasihan juga.”

“Wah, kalau sang ketua OSIS yang nyuruh, sebagai anak buah yang baik, pasti aku nurut nih. hehee. Eh, Kamu gak naksir kan Zal sama tuh cewek. Soalnya aku perhatikan, cantik juga tuh cewek. Kaya Kate Winslet. Hihiiii.”

“Apaan sih Ron. Aku  gak suka ajah ada acara ploncoan kayak gini. Aku rasa gak akan bikin adik–adik kelas ini simpati sama kita. Malahan bisa jadi dendam. Lagi pula kan Pak Harjo waktu rapat OSIS kemaren kan bilang kalau jangan mengedepankan hukuman fisik. Hukuman itu memang perlu untuk kedisiplinan, tapi jangan mengutamakan hukuman seperti ini. Kita ini kan pelajar. Kaum intelektual katanya. Jadi harus mengedepankan empati, bukan emosi.”

“Waahh panjang betul ceramahmu Zal, kaya pak Kamto.”

“Siapa tuh pak Kamto ?”

“Orang gila di kompleks rumahku. Ha ha.”

“Sialan kamu Ron !.”

Tumben nih kantin sekolah sepi. Biasanya jam segini anak–anak lagi pada ngumpul sambil menikmati bakso sama sebotol coca cola. Ugh, sialan. Kenapa tadi Aku ga ngajak si Roni. Sialan juga tuh anak, sudah dua hari ini ngerjain Aku. Kemarin kirim salam buat Hera, katanya dari Aku. Padahal dia sendiri yang naksir Hera. Dasar aneh. Hari ini, sepatu Aku diumpetin di lacinya Raymond. Untung dia tidak marah. Soalnya sudah hampir tiga bulan sepatuku tidak kena air alias tidak dicuci. Hiks.

“Assalaamu ‘alaikum.”

“Wa ‘alaikumussalaam.”

Upz, ada bidadari berjilbab di depanku. Rasanya seperti….

“Kok ngalamun kak, perkenalkan, nama saya Azizah. Azizah Kania Dewi.”

Langsung saja Aku mengulurkan tangan untuk menyalaminya, tentu saja dengan maksud memperkenalkan diri.

“Eits, maaf ya kak, kita bukan muhrim. Jadi tangan Azizah begini ajah yah kak?”

Ah muhrim. Apa pula itu?. Terlihat kedua tangannya dalam posisi seperti menyembah, tapi di depan dadanya.

“Azizah cuman mau ngucapin terima kasih sama kakak. Soalnya waktu kegiatan sore kemarin kakak nulungin Azizah.”

“Maksudnya ???”

“Azizah jadi gak push up banyak. Hi hi.”

Baru Aku ingat, nih cewek yang disuruh push up sama Roni.

“Ya sama – sama. Aku cuman tidak suka ada acara ploncoan kayak gitu.”

“Oh ya kak, sebagai tanda terima kasih, Azizah kasih sesuatu buat kakak Faizal. Terima ya kak. Ini hasil karya Azizah lho.”

See also  PADA SUATU MALAM DI HUTAN SUATU PULAU

“Apaan nih ?”

“Boneka lucu dari kain perca.”

“Hah, boneka ?” Bengong dah Aku.

“Sekali lagi, makasih ya kak.” Langsung dia pergi tanpa basa basi.

Waduh aku belum memperkenalkan namaku. “Namaku Faizal ! Panggil saja kak Izal.” Teriakku keras.

“Saya tahu kak.” Sahutnya lebih keras sambil melemparkan senyum kepadaku.

Selepas peristiwa itu hubungan kami tambah akrab saja. Apalagi ternyata rumah Azizah satu kompleks denganku. Ternyata dia anak pindahan dari Sumatera. Hampir tiap hari naik angkot bersama. Satu hal yang membuat aku kagum dengan gadis berjilbab ini adalah sopan santunnya. Setiap bertemu siapa saja di sekolah. Apakah itu guru, teman, penjaga sekolah, bahkan mang Ucup yang punya kantin, ia selalu mengucapkan salam. Ucapannya halus, tersirat ketulusan dan kebahagiaan dalam salamnya. Hanya saja ada ciri khas yang menjadi pergunjingan teman – temannya di SMA ini, yaitu ia tidak mau bersalaman dengan teman cowoknya. Mencium tanganpun ia lakukan hanya kepada Ibu–ibu guru. Kepada Bapak Guru ? No !.

Teman – temannya menganggap kalau ia adalah cewek aneh dan terlalu fanatik terhadap agamanya. Entahlah, mungkin ini sekolah umum, bukan madrasah. Kata Diaz, teman cewek Azizah, Azizah itu dari SD sampai SMP sekolahnya di Pesantren. Pesantren modern katanya. Modern ? ahhh menurut Aku dia tidak modern. Tapi kolot.

“Hei Zal, gemana nih kegiatan Rohisnya ?”

“Emang kenapa non ? nyantai aja lagi. Ingat kan iklan ini, Bbikin hidup lebih hidup.”

“Jangan bercanda kamu Zal, Ini serius!. Soalnya rencana pengajian untuk  rohis  nanti sore terancam gagal !”

“Apa ? Kenapa Lel ?”

Leli nama cewek ini. Dia sekretaris  di OSIS. Wajahnya imut, badannya proporsional kayak Tamara Geraldine, tapi galaknya minta ampun. Lebih galak dari mpok Nori !.

“Gini Zal, Akhmad sakit mendadak.”

“Gila tuh anak ! Kenapa harus sakit mendadak sih. Harusnya kalau mau sakit bilang kek dari kemaren. Sialan !”

“Hallo, emangnya sakitnya kayak Jailangkung apa. Musti diundang segala. Gemana nih Zal ?”

“Mana Roni ???”

“Tuh!”

“Hei Ron, sini !” Kampret tuh anak, ternyata lagi nggodain Rina. Cewek paling aduhai di sekolah ini.

“Ada apa Bos ?”

“ Si Akhmad sakit, padahal nanti sore kan ada kegiatan pengajian rohis di sekolah ini. Gemana nih ? Dia kan koordinator sekaligus pengisi tausiahnya. Gemana nih Ron ?”

Hmm. kami sama–sama terdiam.

“Begini.” Suara kami hampir berbarengan.

“Gemana Ron ?”

“Kamu dulu dech Zal !”

“Okey.  Bagaimana kalau koordinatornya langsung Aku handle,  trus yang ngisi kultum. Dia !”

Tangan ini langsung refleks pada cewek berjilbab yang lagi membaca buku di bawah pohon akasia di depan kelas paling timur sana.

“Dia ?”

“Iya Lel. Kenapa ?”

“Cewek aneh itu ?” Celoteh Leli.

“Iya. Azizah !”

“Gila kamu Zal. Kamu mau dia ngisi pengajian di sekolah ini? Gak salah kamu Zal ?”

“Aku rasa tidak.”

“Kamu yakin Zal ?”

Si Leli tampaknya masih penasaran dengan keputusanku.

See also  Catatan Lorong Hati ( Teruntuk Anak Indonesia )

“Kenapa tidak ? “ jawabku enteng.

Kamipun saling berpandangan.

“ Begini, selama ini kan kita menganggap dia itu sebagai cewek aneh, naahh, nanti sore kita adain sesi tanya jawab  biar anak–anak bertanya tentang berbagai hal yang menjadi rumor dia  selama ini. Ya, rumor tentang keanehan yang dipraktekkanya selama ini. Bagaimana?”

“Kamu mau menjatuhkan dia Zal ? Kamu mau mempermalukan dia Zal ?”

No ! Bukan begitu Ron. Bukankah dengan cara seperti itu kita bisa mengetahui tentang segala sesuatu yang nyleneh – nyleneh itu? Hal-hal yang dipraktekannya selama ini. Seperti tidak mau berjabat tangan dengan anak lelaki dan Bapak-bapak guru kita ?”

Hmmm. Kali ini mereka diam.

“Rapat selesai !”

Okey Bos. Setuju !”

“Kamu Lel ??”

“Gemana ya ? Setuju saja deh bos.”

Sorenya terjadilah apa yang kami rencanakan. Setelah bersusah payah membujuk Azizah, akhirnya goal juga bujukanku. Azizah akan mengisi pengajian di sore ini. Hanya saja ia mempunyai syarat, waktu pengajian dia meminta para cewek di barisan depan, sedangkan anak–anak cowok dibelakang dengan ditutup menggunakan tirai. Untung musholla sekolahan mendukung hal tersebut. Kalau tidak, bisa berabe nih acara. Tapi Aku masih bisa melihat wajahnya, ya, Aku kan kordinatornya, jadi terserah aku mau berada dimana. Aku pilih diluar, disamping jendela musholla. Jadi dengan leluasa Aku bisa memandang wajahnya.

Pengajian Rohis  berjalan sukses. Kami masih terdiam memikirkan untaian kalimat-kalimat yang terucap dari bibir Azizah itu, dan tentunya sederetan jawaban dari pertanyaan anak – anak bahkan guru–guru yang bertanya seputar pengetahun Agama Islam dan cara bergaulnya selama ini. Ahh, aku merasa bodoh dibuatnya. Jujur baru kali ini aku mendapat siraman rohani yang menurutku bagus banget buat kehidupanku saat ini. Ditambah keteduhan dan ketenangannya dalam membawakan materi dan menjawab berbagai pertanyaan yang menyeruak. Dia benar-benar memukulku kali ini.

Ahhh, malam selarut ini Aku masih teringat wajahnya. Oh my God. Ada apa ini ?.

Semenjak pengajian  itu, aku dan Roni jadi sering pulang lebih sore. Untuk apa ? untuk sholat Ashar terlebih dahulu. Kalau dhuhur memang sering kami lakukan. Maklumlah Aku ketua OSIS masa waktu dhuhur aku tidak ke musholla sekolah. Malu aku. Kalau Ashar aku jarang. Apalagi si Roni, tidak pernah katanya. Untung bulan ini mulai les jadi pulangnya sore, jam setengah empat sore tepatnya. Jadi cukup mendukung. Dan entah kenapa pula tiba- tiba hidupku merasa tentram. Dan ketika melihat Azizah, entah kenapa hati ini bergetar keras. Ahh Azizah, kau merubah hidupku.

**********************

7 tahun yang lalu

“Kamu hebat Faizal. Cumlaude, selamat yah !”.

“Terima kasih Lel. Kamu juga hebat. Kerja atau merit nih Lel ?”

“Aku mau ke London Zal. Bokapku ternyata sudah ngedaftarin aku buat ngambil S2 disana. Pisah dong Zal. “

Sambil Aku kerdipkan mata, aku bilang kepadanya, “ Life must go on.”

Leli pun tersenyum. Yiahhh, sedari TK kami selalu bersama. SD, SMP, SMA, bahkan kuliahpun kami di Fakultas dan Universitas yang sama. Hari ini adalah wisuda kami, pertemuan yang mungkin juga menjadi pertemuan terakhir kami. Soalnya keluarga Leli juga pindah ke Kalimantan. Ayahnya pensiun dan ingin hidup damai di kampung halamannya di Martapura sana. Ahhh, selamat yah Lel, Maafin Aku selama ini, Aku sering nyusahin kamu. Ternyata menangis juga batinku kehilangan sahabat terbaik, sahabat seperjuangan, sahabat dalam suka dan duka. Ah, selamat jalan ya Lel. Batinku sedih.

See also  THANKS FOR THE MEMORIES

**********************

Ruang ICU

“Dok bagaimana keadaan suami saya ? Apakah dia baik–baik saja. Bagaimana luka di dadanya ?”

“Sabar  bu, kami sudah mengusahakan yang terbaik buat suami ibu. Berdo’a ya bu. Saya yakin Allah akan memberikan yang terbaik untuk ustadz Faizal.”

Badan ini serasa dingin. Kepala ini sakit luar biasa seperti ada ribuan paku yang menancap di otakku. Oh, benar – benar sakit. Tubuhku mulai menggigil, mataku perlahan tapi pasti mulai tak melihat apa–apa lagi. Yang kulihat hanyalah kegelapan, nafasku mulai sesak, dadaku begitu perih. Perih yang tak terhingga. Tanganku sudah tidak bisa kugerakkan. Ya Allah. Ampuni hamba. Engkaulah Dzat Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, ampuni hamba Yaa Robb.

“Abah, maafin umi.” Suara itu, ya suara itu adalah suara Leli isteriku. Terdengar suaranya lirih dan kurasakan ada air menetes di keningku. Ah, ini air mata isteriku. Maafkan aku isteriku. Maafkan aku. Aku bukan suami yang baik untuk mu. Aku memang suamimu, tapi wajah Azizah senantiasa menyelimuti hari-hariku. Maafkan aku isteriku. Maafkan aku. Tak kuasa air matakupun menetes dipipiku.

“Selamat sore bu. Saya Bripda Anggoro. Kami sudah menangkap Inspektur Roni. Dia yang menembak Ustadz Faizal. Saya mohon ibu bersabar dan bersedia ke kantor kami saat ini juga. Kata pelaku, dia mengenal ibu dan juga Ustadz Faizal.”

Ah, maafkan aku juga Ron. Aku tidak melakukan apa–apa kepada isterimu. Aku tidak melakukan apa–apa terhadap Azizah. Dia mempunyai penyakit kanker otak, dia menyembunyikan penyakitnya selama ini. Sebagaimana aku menyembunyikan perasaan cintaku kepadanya sampai saat ini, sampai detik ini.

Kami tidak sengaja bertemu di lobby hotel itu, dia kaget begitu juga aku. Tiba–tiba dia pingsan, lalu kugotong dia ke kamarku, itu kulakukan karena aku panik. Ketika mulai siuman ia berkata lirih ditelingaku kalau  dia terkena kanker otak. Dan dia bercerita kepadaku bahwa suaminya adalah kau Ron. Dia mengatakan kalau dia sangat mencintaimu, walau aku tak percaya itu. Ah, tak seharusnya aku melakukan itu, tak sepantasnya aku membawa isterimu masuk ke kamarku. Karena ada embel–embel ustadz di depan namaku saat ini. Tapi aku panik Ron.

Tapi kau juga ceroboh, sama seperti waktu SMA dulu.. Kenapa kau langsung menembak dadaku ini?  Kenapa kau tidak bertanya terlebih dahulu kepadaku perihal apa yang telah terjadi diantara kami. Ah, kau benar – benar bodoh Ron !.

Asyhadu ala ilaa ha illallah. Wa asyhadu ana Muhammadurrasulullah…..

“Maafkan kami bu, kami sudah berusaha. Ternyata Allah sangat mencintai Ustadz Faizal. Beliau telah dipanggil kepangkuan cinta-Nya bu. Sabar ya bu.”

“Abaah !”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *