MENCINTAI ORANG TUA, THE WAY TO BE SUCCESS

Posted on

Rindu, ya rindu. Jadi inget salah satu lagu jawa, Gethuk judul lagu itu. Dinyanyikan oleh Manthous dan, emm… siapa ya yang perempuan, lupa tuh. Hehe. Maklum sudah lama banget tuh lagunya. Seperti ini penggalan syair dalam lagu itu, rindu-rindu tambane kudu ketemu. Artinya, rindu-rindu (jika rindu) obatnya ya harus bertemu. Wuih, cakep dech tuh lagu. Hehe. Eh, ngomong-ngomong masalah rindu, beberapa bulan yang lalu aku merindukan salah satu sahabat lamaku. Sahabat ketika masih SMP dulu. Dia satu kelas denganku. Anaknya jangkung, rambutnya agak kriting, dan yang paling menonjol dari sahabatku ini adalah kerutan wajahnya yang kelihatan sedikit tua. Hehe. Memang begitu keadaanya, dia dua atau tiga tahun lebih tua dibanding usiaku. Harusnya sih dia SMA tapi biasalah, keadaan oikos nomos alias ekonomilah yang akhirnya membuat ia satu angkatan denganku. Eng ing oong.

Rindu yang tepat pada waktunya, begitu gumamku. Kenapa ? karena disaat aku ingin bertemu dengannya, secara tiba-tiba aku ditunjuk sebagai ketua panitia reuni akbar SMP. Hehe. Rupa-rupanya rinduku benar-benar tidak akan bertepuk sebelah tangan nih. Sambil menyelam minum susu, begitu kata pepatah lama yang sering kudengar.

Dan benar saja, ketika rapat pembagian tugas, walaupun aku sebagai ketuanya, ternyata aku juga diberi tugas menarik dana dari teman-teman alumni seangkatanku. Jadi deh bertemu dengan sahabat yang kurindukan itu. Oh ya, sebenarnya hampir tiap tahun, ketika lebaran aku berkunjung ke kampung temanku itu, tak terkecuali menemui sahabat yang kurindukan itu. Namun setelah aku menikah, aku sudah tidak lagi berkunjung kesana. Maklumlah, sibuk (sok sibuk tepatnya).

Singkat cerita sampailah aku di rumah sahabatku itu. Wuih, ternyata dia sudah punya isteri, belum lama menikah katanya. Asem, aku tidak diundang. Begitu gerutuku padanya. Tapi, ada satu hal yang sebenarnya membuatku lebih kaget. Ketika kami sedang bersantai di beranda rumahnya, tiba-tiba ada seorang wanita setengah baya yang langsung nyerocos minta bayaran. Sahabatku itu bertanya, “Sampeyan kerja berapa hari yu  ? Lantas si wanita menjawab, “Lima hari bos.”. Wuih, gaul juga nih si ibu itu, make kata bos segala. Hehe.  Langsung deh dikasih uang si wanita tadi sama sahabatku ini. “Wuih, jadi bos nih sekarang bro ?”, tanyaku. “Ya jelaslah bro.” Begitu jawabnya. Asem, benar-benar bos dia. Akhirnya naluri intelku menutunku untuk mengupas lebih jauh perjalanan hidupnya yang selama ini tidak aku ketahui.

See also  BACK TO CAMPUS

Namanya juga sahabat baik, akhirnya dia menceritakan pengalaman kerjanya padaku. Sepengetahuanku, dulu ketika dia lulus STM, dia langsung kerja ke Jakarta. Sudah menjadi tradisi, hampir setiap tahun setelah lulusan, banyak anak-anak muda di kampungku dan juga di kampung-kampung tetanggaku merantau ke Jakarta. Soalnya bingung, di kampung mau ngapain, ndak ada yang bisa menghasilkan uang. Begitu alasan mereka. Tak terkecuali temanku itu.

Di perantauan, tak seenak yang dibayangkan. Begitu temanku mulai bercerita. Dia pernah bekerja sebagai kuli panggul di salah satu depot pengisian air mineral. Pekerjaannya ya bongkar muat dan menata galon-galon air mineral. Rekasa (susah), ucapnya. Sudah capek, bayarannya tak sebanding dengan kerjanya. Waktupun berlalu, dia cukup lama kerja di depot air mineral tersebut. Sampai akhirnya dia bekerja di salah satu restoran mie ternama di ibu kota. Kebetulan ada keponakan dan teman-temannya yang bekerja di restoran tersebut. Istilah jawanya, dicawel (dibawa, dimasukkan) bekerja di restoran mie ternama itu sebagai pelayan. Garis nasib pun mulai berubah. Penghasilannya relatif besar, walau tergolong karyawan baru. Hehe.

Dengan kesabaran, keuletan, dan dedikasi yang tinggi pada tempat kerjanya, akhirnya temanku ini dipercaya sebagai koki. Sambil menyedu teh manis, ia pun melanjutkan ceritanya. Ini adalah hal yang sangat penting dalam hidupku, ucap temanku. Yang namanya kerja di restoran, salah satu pekerjaan yang sangat penting adalah koki. Karena sebagai koki, secara otomatis ilmu-ilmu yang berkaitan dengan masakan, dan tentunya resep-resep rahasia akan diberikan kepada si koki. Itulah mengapa temanku menganggap bahwa bekerja sebagai koki direstoran tempat kerjanya adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya. Dan benar saja, sebagai koki bukan hanya penghasilannya saja yang bertambah, tapi kelihaian memasaknyapun juga bertambah.

See also  PERCAYALAH, KEBAHAGIAAN BISA DATANG DI SAAT YANG TAK TERDUGA

Sudah siang, tapi aku masih tertarik dengan cerita temanku ini, soalnya belum klimak, jadi belum enak. He he. Dengan pekerjaan enak dan penghasilan besar sebagai koki, lalu kenapa temanku ini justru memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya ? Nah loh.

Jujur saja aku heran. Siapa sih yang tidak ingin bekerja dengan gaji besar ? Setiap orang termasuk Anda, pasti menginginkannya. Tapi kenapa temanku ini malah nekad keluar dari zona nyamannya itu ? Inilah keberanian yang aku yakin, tidak dimiliki oleh setiap orang. Apalagi bagi mereka yang takut menghadapi resiko, sungguh bukan pilihan yang mudah, karena ini berkaitan dengan hidup dan penghidupan.

Kembali temanku ini melanjutkan ceritanya. Setelah dia mendapatkan pekerjaan yang mapan, tiba-tiba dia teringat ayahnya yang hidup sendiri di rumahnya. Memang ada saudara di sekitar rumah ayahnya, ada kakaknya, tapi ia merasa iba dan ingin merawat ayahnya selagi ayahnya masih hidup. Dan karena alasan inilah ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Sejenak aku terdiam. Sungguh, aku tidak menyangka ternyata inilah alasan mengapa ia keluar dari tempat kerjanya. Ingin berbakti pada ayahandanya yang tinggal sendiri di rumahnya. Hebat, batinku.

Dengan modal kemampuan memasaknya, sebenarnya ia ingin membuka usaha nasi goreng ataupun mie goreng disekitar kampungnya. Namun dengan insting bisnisnya, ia justru melirik pada usaha selai pisang. Selai yang ia jual adalah selai kering. Usaha ini bukan tanpa alasan, ia melirik usaha ini karena ia tahu persis kalau camilan ini sangat digemari di ibu kota. Selain  itu, keponakannya juga bersedia memasarkannya di daerah Jakarta dan sekitarnya.

Akhirnya dengan penuh kemantapan, ia mulai usahanya itu dari rumah. Awalnya ia membuat sendiri, lambat laun karena penjualannya tergolong bagus akhirnya ia pun mulai kewalahan. Baik dari segi pembuatan maupun dari pencarian bahan baku pisang, yang memang tidak setiap hari ada dalam jumlah yang besar. Ia pun memutuskan untuk mempekerjakan sekitar enam orang ibu rumah tangga disekitar rumahnya agar usahanya semakin berkembang dan berkualitas. Selain itu, ia juga harus berkonsentrasi dalam berburu pisang sebagai bahan baku pembuatan selainya. Dikarenakan tidak setiap hari ada pisang berkualitas bagus di jual di pasaran. Ia pun melintas ke  kabupaten lain di sekitar banyumas untuk mencari pisang berkualitas tersebut. Hebat, kata temanku ini, berapapun selai yang ia buat, selalu ludes dipasaran. Bahkan keponakannya yang bekerja sebagai karyawan restoran  akhirnya memutuskan berhenti dari restoran tempat bekerjanya untuk konsentrasi pada penjualan selai yang makin hari makin bertambah pembelinya. Bahkan ada pedagang besar yang bersedia membeli selai temanku ini, seberapapun jumlahnya. Good.

See also  TENTANG CAHAYA TUHAN YANG MASUK KE HATI

Selesai sudah cerita temanku ini. Dengan penuh bangga ia pun memberikan sumbangan reuni kepadaku. “Payah ! Masa juragan selai cuman kasih sumbangan Rp. 20.000,00 ! Lagi mabuk yah kowe ?” Umpatku pada temanku itu.

“Huss, bisnis bro. Kalau pengin lebih banyak, tahun depan kesini lagi !”.

Asem !!!”

Tuhan tidak akan memberikan kesengsaraan pada hamba-Nya yang mengasihi orang tuanya. Dia selalu memberi jalan, memberi gagasan, memberi ide, dan memberi rezeki tanpa diduga dari mana arah datangnya semua itu. Kerja keras, kerja cerdas, bersungguh-sungguh, ikhlas, dan tawakal menjadi pelajaranku pada kisah sahabatku itu.

Salam waras !

🙂

02 Agustus 2013.

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *