BANGKU DI POJOK TAMAN ITU (sebuah essay cinta)

Posted on

Aku tidak tahu bagaimana rasanya mencicipi cintamu. Yang kutahu, bahwasanya aku mencintaimu. Itu saja ! Seperti aroma dahlia di waktu itu. Aku hanya terpaku menatap keindahannya dari bangku di pojok taman itu. Wanginya semerbak, menyeruak masuk ke relung jiwaku. Ah, mencintaimu memang melelahkan. Tapi adakah sesuatu yang lebih baik dari sesuatu yang bernama mencintaimu ?

BANGKU

Seperti biasanya, pagi ini aku menikmati keindahan wajahmu. Masih sama, dari pojok taman itu. Taman yang dihiasi beraneka rupa bunga dan tanaman hijau didalamnya. Ada gemericik air dari air terjun kecil buatan sang maestro. Masih didalamnya, beraneka bebatuan berwarna berjajar rapi bertautan. Upz, sesekali kupu-kupu yang nakal mencubit sedikit lentiknya mata sang bunga. Ah, taman yang manis. Dan selalu dari sanalah aku memandangi keelokan wajahmu.

Di suatu malam, aku dapati ceceran kertas jingga. Oh, ada tulisanmu disana. Kembali aku merindukanmu. Sedangkan sisa-sisa cintaku mulai habis terkikis duri-duri sadis. Untuk apa aku membaca tulisanmu ?

Pagi berikutnya, kulihat ada serombongan burung pipit berjejalan di atap rumahmu. Masih sama, aku tak bisa melihat wajahmu disana. Padahal pipit itu bernyanyi perihal rindu dan keabadian. Apakah takdirku memang harus melihatmu dari bangku di pojok taman itu ? Entahlah.

Ah, mencintaimu memang menyakitkan. Tapi sekali lagi aku bertanya, “Adakah sesuatu yang lebih baik dari sesuatu yang bernama mencintaimu ?”

Ilustrated by : 123rf.com

See also  RISALAH RINDU