SALAHKAH AKU MENCINTAIMU ?

Posted on

Mencintaimu sungguh menjemukan. Aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan agar kamu mencintaiku. Jangankan mencintaiku, memperhatikanku saja sepertinya tidak. Sungguh melelahkan ! Tapi aku benar-benar tidak sanggup untuk membendung cintaku yang menggebu-gebu ini. Harus bagaimana aku ini ?

“Selamat pagi mas ? Oh ya, nanti sore datang ya ke rumahku. Ada yang hendak aku sampaikan kepada mas. Datang ya !”

Aku hanya tersenyum. Belum sempat aku menjawab pertanyaanmu, engkau sudah hilang tertelan pagi. Ah, mengesankan.

“Assalaamu ‘alaikum…. ”

“Wa’alaikumussalaam warahmatullah….  Selamat datang mas. Silakan duduk !”

Untuk sejenak engkau pergi dari ruang tamu. Entah apa yang kau kerjakan di dalam. Sementara mataku mulai memandangi setiap sudut ruang tamu di rumahmu yang mungil itu. Ada goresan pena pada dinding yang bercat pink itu. Umi, I love you….  Hmm, sungguh indah tulisan itu. Ada juga kaligrafi berlafadz basmallah. Jika dipandang dari beberapa meter, maka kaligrafi itu menyerupai gambar seekor burung dengan ekor panjang yang aduhai cantiknya.

Belum selesai aku memandang sudut-sudut ruang tamu itu, tiba-tiba engkau sudah datang membawakanku segelas air putih.

“Maaf mas, hanya air putih. Kebetulan kita sekeluarga hanya mengkonsumsi air putih sebagai minuman. Maaf kalau mas kurang berkenan.”

“Tidak apa-apa de. Mas juga mengkonsumsi air putih kok untuk minuman keseharian mas. Kok bisa sama ya ?” Aku mulai membuka percakapan di sore yang menurutku indah. Menurutku tentu saja.

“Bisa jadi mas. Mungkin banyak kesamaan diantara kita. Oleh karena itulah aku menyanggupi permintaan mas. Aku bersedia menjadi isteri mas Hafiz.”

Deg. Jantungku seakan berhenti berdenyut. Perempuan yang selama ini aku cintai, ternyata bersedia menjadi isteriku. Aku benar-benar tak menyangkanya. Perempuan yang selama ini seolah-oleh tak memperhatikanku. Ternyata ia mencintaiku. Benarkah ?

See also  MASIH ADA CINTA DI LANGIT SANA

” Mas ! Kok diam ? Jujur saja mas, aku mencintai mas Hafiz semenjak pertama kali melihat mas di ujung perumahan itu. Hanya saja aku takut untuk menjawab pertanyaan cinta mas Hafiz. Aku takut mas ! Aku tidak mau gagal untuk yang kedua kalinya. Itu alasan pertamaku. Alasan selanjutnya adalah, apakah mas benar-benar mencintaiku ? Aku lebih tua dari mas Hafiz. Disamping itu, aku adalah janda beranak dua. Aku benar-benar tak berani menjawab pertanyaan mas Hafiz perihal kesediaanku sebagai isteri mas. Oleh karena itulah aku senantiasa berusaha untuk menjauhi mas Hafiz. Tapi mas…. Semakin aku berusaha menjauhi mas Hafiz, semakin kuat pula perasaan cinta ini sama mas. Maafkan aku mas. Maafkan aku… Karena baru kali ini aku menyetujui permintaan mas Hafiz. Bagaimana mas ? Apakah mas masih mencintaiku ?”

Oh my God, tentu saja aku masih mencintaimu. Aku hanya bingung. Ya bingung. Setelah engkau bersedia menerimaku sebagai suamimu, apakah isteriku akan bersedia menerimamu sebagai isteri keduaku ?

 

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *