MONOLOG JIWA

Posted on

Aku mungkin masih bisa menari disela-sela pagi. Mungkin, ya mungkin. Tentu saja ketika engkau sedikit menyibakkan wajahmu dari balik tirai yang tak beraturan itu. Mungkin? Ya, mungkin.

Tapi aku adalah lelaki yang tidak menyukai kemungkinan. Sangat….. sangat membenci kemungkinan. Mendengar kata “mungkin” saja perutku serasa mual. Muak! Aku tidak tahu kenapa.

Sedari kecil, aku sangat membenci kemungkinan. Sekali lagi aku tak tahu mengapa. Aku hanya menyukai kepastian. Walau pada akhirnya, karena kepastian itulah jiwaku terkoyak….. terhuyung…… lemah tak berdaya.

Hal apalagi yang lebih menyakitkan dari pada matinya jiwa? Bisakah kau menjawabnya?

Tepukan-tepukan kemungkinan makin menyesakkan dadaku. Bencana-bencana kepastian makin menohok tulang belulangku. Ah, apa pula ini.

Mungkin perkataanku hanya berlaku ketika engkau sudah berhasil memaku ruhku di samping kamarmu….. Sadarkah kamu?

See also  Dari Sebuah Makam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *