PERHATIAN : JOMBLO DILARANG PACARAN!

Saya itu heran sama beberapa teman yang sampai saat ini masih membujang. Tentu saja teman seangkatan maupun teman seangkutan. Eh… wortel kali diangkut-angkut πŸ™‚ Diatas angkatan saya tentunya. Bagaimana ndak heran, lah wong usianya saja pada di atas 30 an (Masih imut kan) tapi pada belom kawin juga.   #lemparinCangkul. Mbuehehehe…

Saya dulu bercita-cita untuk kawin, eh nikah dibawah usia 30-an. Alhamdulillah seiring detak jam dinding berbunyi, kesampean juga. MERDEKAAA!!!

Keheranan saya bertumpuk manakala melihat teman-teman saya itu sudah pada bekerja. Bahkan secara penghasilan, gaji mereka melebihi gaji saya. Ya bagaimana lagi, wong gaji saya di bawah UMR kok. Mbuehehehehe….

Seharusnya mereka harus lebih berani untuk menikah dibanding saya dulu. Iya nggak bro?

Tapi tunggu dulu, bisa jadi mereka belum menikah karena faktor lain. Apa itu? Ya ndak tahu lah. Memang ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan untuk menikah. Bukan sekadar duit! Bisa jadi kesiapan mental, orang tua, dan ada  jodohnya terutama. Hihihihihi….

Namun dari pengalamanku dan pengalaman beberapa temanku yang biasa curcolcurcolan denganku, salah satu cobaan bagi mereka yang mau melangsungkan pernikahan biasanya adalah modal. Ya maklumlah saya termasuk tipe pria yang suka ini suka itu semasa lajangnya.  #ketahuan Belangnya, eh borosnya πŸ˜‰

Tapi secara umum, kebanyakan masalah yang lumayan bikin pusing alias mumeti ya  itu itu…. MODAL. Oleh karena itu saran saya yang sudah jadi orang tua (wehehehehe), rajin-rajinlah menabung, terutama emas.

Dan buat yang masih jomblo, DILARANG PACARAN! Segera saja MENIKAH!

Jika ada kendala dengan modal, silahkan hubungi saya. Nanti saya kasih alamat bank di kota-kota sampeyan…. Ben ngutang nang kana……

Wahahahaha…………

Ngapain Ngeblog?

Eng ing ooong…….

Dengan penuh keringat dan berlimbahkan air liur, akhirnya bisa ngeblog lagi ini. Mbuehehhee…

Ngemeng-ngemeng kemane aje mas, kok hari  gini baru nongol? Ya biasalah lelaki sibuk. Ngurus ini ngurus itu. Ninggalin ini ninggalin itu. Nyuekin sini nyuekin situ. Pergi ke negara ini ke negara itu (bo ‘ong bingit). Pokoknya ada-ada saja yang  tidak dikerjakan. Akhirnya ya blognya zooooonk. Karena jarang ngeblog alias ngeposting di blog ini. Mbuehehehe.  #lemparSendal

Kadang saya mikir, sebenarnya apa sih yang saya inginkan dengan ngeblog ini. Duit? Belum dapet banyak. Ketenaran? Belum tenar juga. Buktinya sampai saat ini belum banyak yang tahu nomor sepatu saya. Apalagi wajah imutku. Jauuuh. #tiarap

Lalu (lintas) apa ya sebenarnya yang dicari dengan ngeblog seperti ini? Coba aja sampeyan bayangin. Udah cakep kek gini, dandannya rapi, belum makan siang pula, gajian tinggal sedikit, anak masih basata (bawah satu tahun brooo), kerjaan masih berjubel, eh sempat-sempatnya ngeblog. Bukankah ngeblog itu butuh inspirasi. Butuh pikiran. Emangnya sampeyan, copas-copas melulu. Mbuehehehehe…..   #kabur

Jadi sebenarnya apa ya yang sedang saya cari dalam dunia blogging ini?

Pertanyaan yang cukup merisaukan hati isteri, eh hati ini. Saya yakin, sampeyan-sampeyan yang ngeblog juga punya alasan mengapa kok seneng banget ngeblog. Ngapain ngeblog? Saya yakin pertanyaan itu pernah terbang rendah di hati sampeyan-sampeyan pada. Dan jawabannya sayapun meyakini akan berbeda-beda.

So, ngapain ngeblog?

Nb. Pertanyaan diatas nggak USAH dijawab. Karena sudah diketahui oleh TUHAN YANG MAHA KUASA…….

Mbuehehehehhe…………….

THANKS FOR THE MEMORIES

Aku tak tahu, apa lagi yang harus aku lakukan setelah melepasmu pergi. Dahan cemara masih basah waktu itu. Sementara dedaunan limau masih menunggui embun dengan cantiknya. Oh sungguh mengharukan. Tak terasa butiran air jernih menetes di pipi mungilku. Sekali lagi, apa yang harus aku lakukan setelah aku melepas kepergianmu?

Bukit di utara sana berdiri dengan tegarnya. Ingin sekali aku menirunya. Tapi…. bisakah aku?

Seperti merpati yang kehilangan satu sayapnya, begitulah gambaran jiwaku waktu itu. Perlahan namun pasti, kau bunuh sisa-sisa rindu yang terkadang masih menyapaku. Begitu kejamkah dirimu? Dan untuk kesekian kalinya, apa yang harus aku lakukan setelah melepas kepergianmu?

Lukisan wanita yang berjudul “Violet” itu masih menempel di dinding kamarku. Lukisan yang kau berikan sepuluh tahun yang lalu. Lukisan yang kau buat sendiri dengan jari-jari indahmu itu. Masih ingatkah kamu?

Sepasang sapu tangan dengan bordir “hati” ditengahya masih kulihat di almari pakaianku. Sapu tangan yang dulu kau beli dengan keringatmu sendiri. Sapu tangan yang memikat hati siapa saja yang melihatnya. Masih ingatkah kamu?

Sementara di sisi ruangan lain di rumahku, masih saja kulihat bonsai indah yang mulai mengering. Bonsai yang kau bawa sendiri dengan sepeda motor bututmu yang dulu. Masih ingatkah kamu?

Setiap pagi, kicauan kenari masih terdengar dari rumah sebelah. Kicauan yang dulu kau banggakan dengan segenap perkataan manismu. Masih ingatkah kamu?

Ah, terlalu banyak hal yang semestinya aku buang jauh ke telaga sana. Apalagi sekarang, ketika aku melihatmu dipelaminan itu. Pelaminan yang dulu kau harapkan, sekarang terkabul jua. Hanya satu yang membuatku terluka. Sangat terluka…..

Aku…… tak ada disampingnya.

BACK TO CAMPUS

Bagi beberapa orang, dapat menikmati bangku kuliah adalah hal yang mudah dan biasa. Mereka yang mampu secara finansial dan kemauan tentunya, pasti dapat merasakan indahnya berburu ilmu di universitas yang mereka kehendaki. Namun tidak bagi saya. Mimpi untuk dapat mengecap ilmu di bangku kuliah baru saya dapatkan setelah delapan tahun lulus dari SMU. Itupun baru sebatas pendidikan diploma tiga (D3). Impian saya adalah kuliah sampai strata satu (S1). Tanpa mengurangi rasa syukur, saya berucap alhamdulillah atas selesainya program diploma tiga saya itu.

Sebagai anak pertama, istilah orang di Banyumas sini adalah mbarep, jujur saya merasa mempunyai beban yang lebih berat ketimbang dua adik perempuan saya. Apalagi keluarga saya bukanlah keluarga yang tergolong mampu secara finansial. Maka sekedar bermimpi untuk kuliahpun adalah ibarat pungguk merindukan bulan. Bagaimana tidak, sekedar untuk makan saja kami harus pandai-pandai mengatur uang. Apalagi kuliah.

Kenapa saya ingin sekali kuliah? Karena saya yakin dengan janji Tuhan di kitab-Nya. Bahwa Ia akan meninggikan derajat umat-Nya yang beriman dan berilmu. Menimbang bahwa saya dilahirkan oleh keluarga yang menurut saya secara derajat sosial berada di lapisan bawah, maka saya harus menimba ilmu setinggi-tingginya untuk menaikan derajat saya dan keluarga saya.

Di tahun dua ribu saya berhasil menyelesaikan SMU saya. Saking semangatnya saya untuk bisa kuliah, diam-diam saya mendaftar Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) di Purwokerto. Tapi ibarat pepatah, sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai pasti akan ketahuan juga, ternyata ayahku mengetahuinya. Tapi Beliau merestuiku untuk mendaftar.

Alhasil, saya tidak lulus dalam ujian tersebut. Kegalauan mulai melanda jiwaku waktu itu. Cita-cita untuk menimba ilmu di perguruan tinggi seakan tinggal kenangan. Saya benar-benar frustrasi waktu itu. Mau bekerja, bekerja sebagai apa. Berbekal ijazah SMU, apa yang bisa aku lakukan. Sedangkan cita-citaku waktu itu adalah kerja kantoran (Ya seperti saat ini. Hehe).

Ditengah kegalauan tersebut akhirnya saya memantapkan diri untuk mengikuti kursus komputer dan administrasi perkantoran. Tentu saja dalam rangka merealisasikan cita-cita saya untuk bekerja sebagai pekerja kantoran. Namun, apakah keinginan untuk berkuliah masih ada? Tentu saja masih ada. Dan saya yakin, suatu saat nanti saya pasti bisa menikmati indahnya mengais ilmu di bangku perguruan tinggi.

Waktupun mulai berlalu. Dengan bersusah payah aku menyelesaikan kursus komputer dan administrasi tersebut. Berbekal ilmu di tempat kursus itu, akhirnya saya bisa bekerja di salah satu perusahaan komanditer di Purwokerto. Tugas saya adalah sebagai tenaga pemasaran. Perusahaan yang bergerak di jual beli komputer itu adalah tempat kerja pertama saya. Dari tempat inilah mimpi untuk bisa kembali kuliah saya bangun kembali. Saya yakin dengan kondisi keuangan saya waktu itu, selain saya bisa membantu orang tua saya, saya pasti bisa membiayai kuliah sendiri.

Namun apa hendak dikata, baru tiga bulan saya bekerja di perusahaan tersebut, perusahaan dimana saya bekerja disana ternyata mengalami masalah keuangan. Konon, dari sumber-sumber yang bisa aku percaya, ada perselisahan diantara para pemilik perusahaan komanditer tersebut. Akhirnya perusahaan itu dinyatakan kolaps dan akhirnya bubar jalan. Akhirnya saya menjadi pengangguran. Dan sekali lagi, semangat untuk kuliah waktu itu mulai pudar.

Sebagai pengangguran yang hidup di kampung, sungguh sangat menjemukan. Sebagai orang yang tak terbiasa dengan tidak melakukan apa-apa, maka bekerja serabutanpun saya lakukan. Mulai dari kuli sampai jualan minyak wangi saya lakukan. Selain itu, saya juga aktif pada salah satu organisasi kepemudaan di kampungku. Sampai pada suatu waktu, aku didaulat untuk menjadi ketua organisasi itu. Saya juga aktif di musholla kampung sebagai jamaah dan guru ngaji untuk anak-anak di kampungku.

Mungkin inilah salah satu jawaban lagi dari Tuhan perihal janji-Nya yang lain. Barang siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolong hamba-nya itu. Saya sangat yakin dengan janji-janji Tuhan. Hingga pada suatu malam, ketika saya mengajar ngaji tetangga saya yang juga masih berkerabat dengan saya, saya ditawari untuk bekerja ditempat ibu dari si anak yang sayan ajari mengaji ini. Beliau adalah kepala staf tata usaha pada salah satu sekolah negeri di desaku. Akhirnya dengan berbekal keyakinan, saya mendaftar di sekolah tersebut. Lantas, apakah saya langsung diterima?

Mungkin Tuhan masih merindukan rintihan hamba-Nya sepertiku. Rintihan berupa alunan do’a setiap sehabis sholat. Dimana salah satu kalimat dalam do’aku adalah sebagai berikut :

” Ya Allah, berilah hamba kesempatan untuk bekerja sembari kuliah.”

Begitu salah satu kalimat dalam do’a ku.

Di bulan kesembilan dari hari melamar pekerjaanku di sekolah itu, akhirnya ditahun 2005 itu, aku diterima sebagai staf tata usaha dan ditugasi sebagai tenaga operator komputer sampai sekarang.

Akhirnya cita-cita untuk bisa kuliah muncul lagi. Namun ada yang menjadi sedikit ganjalan di hatiku. Apa itu? Tentu saja gaji. Sebagai tenaga wiyata bhakti saya hanya mendapat gaji yang sedikit. Jauh dari upah minimum regional atau UMR. Tapi saya berkeyakinan, bahwa saya pasti bisa kuliah. Dan waktupun menjawab semua itu. Di tahun 2008, salah satu teman kantorku kuliah di salah satu politeknik swasta di Purwokerto. Aku diajaknya. Dan karena  politeknik baru, biaya kuliah di kampus tersebut tergolong murah, bahkan sangat murah. Alhamdulillah, ditahun keempat, di tahun 2012 saya berhasil menyelesaikan kuliah saya itu.

Lantas apakah saya sudah puas? Tentu saja belum! Cita-cita saya hingga saat ini adalah kuliah sampai S1. Apakah saya bisa? Kembali muncul pertanyaan seperti itu dalam diri saya. Bukan karena sebab. Karena saat ini saya sudah menikah dan dikaruniai seorang anak kecil yang lucu yang baru berusia lima bulan. Dan tolong dicatat, saat ini saya masih bekerja sebagai tenaga wiyata bhakti dan gajinya? Hahaha. Tentu masih jauh dari UMR.

Lalu apa yang saya lakukan untuk mengejar cita-cita saya untuk kembali ke kampus guna menempuh jalur pendidikan yang lebih tinggi ini?

Pertama, saya menyisihkan sedikit demi sedikit uang yang saya punya. Kebetulan ada beberapa kegiatan yang dari kegiatan tersebut saya mendapatkan sedikit uang. Misalnya saja kegiatan pramuka, sepakbola, maupun kegiatan lainnya yang dilaksanakan di sekolah saya ini.

Kedua, saat ini saya mempunyai bisnis sampingan sebagai internet marketer. Alhamdulillah sudah ada beberapa pelanggan yang berkenan memakai jasa saya.

Dan yang ketiga, adalah juga termasuk mimpi saya selanjutnya, adalah mendapatkan penghasilan dari buku saya yang insyaallah dalam waktu dekat ini akan segera terbit.

Semoga Tuhan memudahkan saya agar di tahun 2015 ini saya bisa melanjutkan lagi kuliah saya ke jenjang strata satu (S1).

KAMAR 7

Bahar masih menikam gadis cantik itu di depanku. Laksana singa yang sedang kelaparan, berkali-kali ia tusuk perut wanita pujaannya itu. Seperti kesetanan, ia tak mempedulikan lagi sekitarnya. Bahkan aku yang berada kurang lebih tiga depa dari badannya seakan tak kelihatan dimatanya yang nanar. Merah. Menyeramkan. Sungguh mengerikan!

Sungguh pemandangan yang berbanding terbalik. Sejam yang lalu, Bahar, seorang lelaki muda dengan bekas sayatan silet diwajahnya, masih berbincang manis dengan wanita itu. Sepengetahuanku, mereka sudah menjalin hubungan terlarang itu semenjak tiga bulan yang lalu. 

Rosmela nama wanita itu. Aku dikenalkan padanya oleh Bahar ketika aku baru saja menghirup udara kebebasanku. Di depan para sipir yang sudah berteman denganku selama empat belas tahun ini, ia memperkenalkan Rosmela sebagai kekasih barunya. Ah, Bahar, kelakuanmu masih saja sama. Suka bermain wanita.

Semenjak itu, aku dan Rosmela biasa bertemu di gang itu. Gang yang berisi para mami dengan anak-anak asuhan mereka. Gang dimana aku terbiasa mencicipi kopi bersama Bahar ketika aku belum masuk penjara dulu. Rosmela ternyata penghuni baru di gang itu.

“Bang, bisa kita bertemu sekarang? Segera bang! Aku butuh bantuanmu.”

Pesan yang baru saja masuk di handphoneku itu sedikit mengusik ketenanganku.  Spontan aku telepon dia.

“Maaf ini siapa?”

“Aku Rosmela bang!”

Rosmela? Apa yang membuatnya ingin segera bertemu denganku. Ah, beribu tanya hinggap dalam otakku.

“Bisa kan bang?”

Aku masih terpaku mendengar permintaannya.

“Baiklah. Dimana kita bertemu Ros?”

“Di losmen Kecik. Segera ya bang!”

Tanpa babibu segera aku berlari ke kamar mandi hanya untuk sekedar cuci muka. 

Ah, losmen Kecik. Bagaimana aku bisa melupakan losmen itu? Losmen dimana dulu aku menghabisi selingkuhan isteriku. Losmen dimana untuk pertama kalinya aku berurusan dengan para penegak hukum di negeri ini. Ah, Kecik Sialan! Gumamku.

Setelah beberapa menit, sampai pula aku di depan losmen itu. 

Benar saja, Rosmela sudah menungguku di depan losmen itu. Sekilas kulihat senyumnya begitu menawan. Ah, sialan! Aku tidak boleh berpikiran macam-macam. Apalagi dia adalah kekasih sahabatku.  Sahabat sedari aku kecil, Bahar.

Belum sampai aku di depannya, tiba-tiba handphoneku berdering. Sebuah pesan singkat masuk. Kamar 7 bang! Hmm, ternyata pesan dari Rosmela. Dan kulihat ke depan losmen, Rosmela sudah tak ada lagi di depan losmen itu.

Tiba di dalam losmen aku langsung menuju kamar nomor tujuh. Brengsek! Ini kamar dimana isteriku dulu berselingkuh. Apa sebenarnya maksud Rosmela? Ataukah ini hanya kebetulan saja? Ah, pikiranku sudah mulai tak karuan. Begitu aku masuk kamar itu, Rosmela langsung memelukku.

“Ros, lepaskan Ros! Lepaskan!”

“Maaf bang, aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan suatu rahasia pada abang. Ketahuilah bang, kalau….”

Belum sempat Rosmela mengakhiri pembicaraannya, tiba-tiba saja kamar kami didobrak. 

Alangkah terkejutnya kami. Bahar dengan garangnya langsung menusuk Rosmela yang masih dalam posisi memeluk tubuhku. 

Tendanganpun mendarat dipunggungku. Aku terhuyung dan jatuh beberapa depa dari mereka berdua.

Bahar menutup Rosmela dengan tangan kananya. Sementara tangan kirinya yang memegang pisau ditusukkannya berkali-kali ke perut Rosmela. 

Perlahan, tubuh Rosmela terlihat lemas. Dengan kasarnya Bahar membanting tubuh Rosmela yang sudah tak bernyawa itu ke lantai kamar.

“Sekarang giliranmu! Kau ingat, di kamar inilah dulu kau habisi nyawa adik angkatku. Sekarang, susullah adik angkatku itu! Bersiap-siaplah menyusulnya!”

Tiba-tiba saja bahar menjambak rambutku. Didekatkannya mulutnya ke telingaku.

“Susul juga mantan isterimu keparat! Asal kau tahu, semalam isterimu dan anakmu yang cantik itu aku habisi! Menyusullah segera keparat! Hahaha….”

Oalah Gusti…. 



Banyumas, 12 Februari 2015

BULLY MEMBULLY…………. #sedikit bicara politik

Jujur saya rada malas untuk membicarakan masalah yang bersentuhan dengan politik. Bukan berarti saya anti politik. Bukan! Saya hanya kecewa karena hakikat dari politik itu seakan hilang di negeri ini.

Bagi saya, hakikat politik adalah mensejahterakan manusia dan aneka rupa kehidupan yang menyertai manusia itu sendiri. Ndak tahu menurut kalian politik itu apa. Tapi menurut saya, itulah hakikat dari politik yang sebenarnya.

Politik, yang konon berasal dari bahasa luar sana (ndak tahu bahasa mana… wkwkwkwk), menurut saya adalah sesuatu yang mulia. Ia bukan sesuatu yang kotor. Ibarat pisau, maka ia tergantung pada si pemegang pisau tersebut. Mau digunakan buat ngiris bawang, atau justeru ngiris tangan orang lain. Hiy… ngeri!

Tulisan ini terinpirasi dari berbagai macam kasus yang sedang menjadi pembicaraan orang di negeri ini. Sudah cukup lama. Karena kelamaan itulah akhirnya saya menulis postingan ini. Kasus apakah itu? Kasus KPK dan POLRI. Kok tadi bilangnya berbagai macam kasus? Kan cuma satu. Hmmm, aku bilang berbagai macam kasus, karena banyaknya kasus yang menyertainya.

Tapi bukankah kasus tersebut adalah kasus hukum, bukanlah kasus politik? Ah, bagiku itu hanyalah pepesan kosong belaka. Sama seperti pencuri yang menasihati temannya untuk tidak mencuri. VERDONSEH!  πŸ™‚

Bagi saya selaku rakyat biasa, kasus KPK dan POLRI plus para politisi busuk itu sangat menyedihkan dan juga memalukan. Saling bully diantara mereka menjadi bahan pemberitaan bahkan headline di berbagai macam media. Saling serang dan tinju diantara mereka sungguh-sungguh memilukan. Ketika pukulan tepat mengenai kepala lawannya, lantas lawannya itu jatuh, maka teriakan yes akan bergema dimana-mana. Lucunya, bukan hanya teriakan mereka yang betarung saja yang terdengar, tapi teriakan dari semua orang termasuk media. Benar-benar menyedihkan!

Rasa puas ketika berhasil menjatuhkan lawan terekspos sedemikian rupa dimana-mana. Bukan hanya batin mereka saja yang bertarung yang mengatakan, “Rasain Lu”, tapi juga batin-batin yang lain yang menonton mereka diluar ring pertandingan. Bayangkan, hanya penonton!

Sejenak, pandangan manusia tertuju pada kasus itu. Bukan hanya pandangan saja, tapi cacian, makian, hinaan, dan alibi-alibi lain ikut meramaikan kasus tersebut. Sungguh bully membully diantara mereka dan KITA menjadi hal yang seolah-olah biasa saja.

Lantas pertanyaannya, siapakah sesungguhnya musuh diantara kita? Siapakah sesungguhnya yang paling benar diantara kita?

Pertarungan “derby” sesama anak bangsa ini sungguh harus segera dihentikan. Ingatlah, kita sudah miskin, bodoh, dan tak punya apa-apa lagi untuk dibanggakan. Lantas, kenapa kita harus berkelahi dengan anak-anak bangsa sendiri?

Tunggu dulu, tadi kau bilang kita miskin, bodoh, dan tak punya apa-apa lagi, apa maksudmu? Sudahlah, aku tak mau membahas disini. Tapi pertanyaan saya, Apakah Anda sudah merasa menjadi bangsa yang kaya? Jika kaya, apa yang kau punya?

Minyak?

Emas?

Tembaga?

Pasir laut?

Atau mobil-mobil yang berseliweran itu?

Milik kaliankah?

Itu baru beberapa bagian yang aku sebutkan. Bagian yang konon adalah milik kalian, wahai bangsa Nusantara!

Sudahlah, kita sudah beperang (maaf saya ndak mau bilang “kita dijajah”) dengan bangsa-bangsa Eropa selama ratusan tahun, dengan Dai Nipon 3,5 tahun. Dan sampai sekarang pun kita masih berperang melawan hegemoni-hegemoni kekuasaan jahat yang tidak rela agar bangsa nusantara ini menjadi bangsa yang makmur. Marilah kita sudahi “permusuhan” ini. Lihatlah di depan sana, masih banyak “musuh-musuh” lainnya yang membelenggu kita. Sudahlah….. Kita sudah terlalu capek untuk bertengkar dengan saudara sendiri. Ingatlah, masih ada anak cucu kita yang harus kita besarkan menjadi manusia-manusia merdeka. Malulah pada mereka! Malulah!

Dan ingatlah……. Ketika kematian itu tiba, apakah engkau mengira tidak ada pertanggungan jawab atasnya?

Nb. Sorry guys, gue udah gak tahan buat ngelanjutin ini tulisan πŸ™

TAK ADA LAGI JALAN KECIL DI JALAN ITU

Masih berkisah tentang masa-masa SMA ku dulu. Hmm, entah kenapa beberapa hari ini aku terngiang masa laluku tempo dulu, especially masa-masa sewaktu masih SMA dulu.

Aku beri tahu kepada kalian, dulu di depan SMA ku ada jalan yang begitu rindang. Kenapa rindang? Karena berderet pepohonan. Rapi, dari arah barat menuju ke timur. Jika kalian tinggal di Purwokerto, atau mungkin pernah menyambangi kota itu, aku yakin tak akan asing dengan nama jalan ini. Jalan Dr. Angka.

Ya, di jalan Dr. Angka inilah SMA ku berada. Dulu, dari arah barat ke timur, sampai ke perempatan Rumah Sakit DKT (sekarang sudah ada juga Hotel Aston), jalan itu terbagi menjadi tiga. Satu jalan raya besar, dan dua jalan raya kecil. Seingatku, jalan raya yang berada di tengah, digunakan untuk kendaraan-kendaraan besar dan sepeda motor. Sedangkan jalan yang kecil, jalan yang berada di sisi kanan dan kiri jalan besar digunakan untuk sepeda onthel dan becak.

Jalan-jalan kecil itu dibatasi oleh semacam trotoar, namun ditanami pohon dan aneka tanaman hias. Indah dan teduh. Sebelum aku indekost, aku biasa nungguin angkot I2 ataupun I1 menuju terminal Purwokerto.

Setelah aku indekost, aku terbiasa jalan pagi di jalan kecil itu. Bukan sembarang jalan-jalan, tapi jalan-jalan mencari sarapan. Hehehe.

Namun, seiring dengan pesatnya pembangunan, jalan-jalan yang kecil itu dihilangkan. Alhasil, jalan Dr. Angka semakin lebar. Satu sisi aku senang, mengingat banyaknya volume kendaraan yang semakin meningkat. Dengan dilebarkannya jalan tersebut, secara otomatis memudahkan pengguna jalan raya selama berlalu lintas. Namun, sisi lainnya, sisi yang tak bisa lepas dari sejarah hidupku adalah hilangnya berbagai kenangan indah dan pahit tentunya, di jalan-jalan kecil itu.

Jalan kecil itu adalah saksi bisu ketika aku menunggu angkot. Jalan kecil dengan pohon rindang itu adalah saksi bisu ketika saban hari Selasa dan Kamis aku belatih karate di SMA 4 Purwokerto. Jalan coy! Maklum waktu itu masih kere. Belum punya sepeda yang ada mesinnya. Wehehe. Jalan kecil itu adalah juga saksi bisuku ketika setiap malam tertentu aku bisa menikmati wajahnya yang ayu πŸ™‚

Dan masih banyak lagi kenangan di sepanjang jalan itu. Termasuk melihat salah satu temanku yang dikejar-kejar wanita penghibur gara-gara temanku itu menghina sang wanita yang berprofesi sebagai penghibur di salah satu tempat hiburan malam yang kebetulan juga berada di jalur jalan itu. Hahaha.

Sudahlah. Sebenarnya aku masih ingin banyak bercerita perihal jalan kecil di jalan raya itu. Namun mataku tampaknya sudah terkontaminasi virus ngantuk. Hehehe.

Oh ya, sekedar pertanyaan kecil sebelum aku menyudahi tulisan ini. Kira-kira nasib mobil Esemka pegimane ye?

Salam MOBNAS πŸ˜‰