TAK ADA LAGI JALAN KECIL DI JALAN ITU

Posted on

Masih berkisah tentang masa-masa SMA ku dulu. Hmm, entah kenapa beberapa hari ini aku terngiang masa laluku tempo dulu, especially masa-masa sewaktu masih SMA dulu.

Aku beri tahu kepada kalian, dulu di depan SMA ku ada jalan yang begitu rindang. Kenapa rindang? Karena berderet pepohonan. Rapi, dari arah barat menuju ke timur. Jika kalian tinggal di Purwokerto, atau mungkin pernah menyambangi kota itu, aku yakin tak akan asing dengan nama jalan ini. Jalan Dr. Angka.

Ya, di jalan Dr. Angka inilah SMA ku berada. Dulu, dari arah barat ke timur, sampai ke perempatan Rumah Sakit DKT (sekarang sudah ada juga Hotel Aston), jalan itu terbagi menjadi tiga. Satu jalan raya besar, dan dua jalan raya kecil. Seingatku, jalan raya yang berada di tengah, digunakan untuk kendaraan-kendaraan besar dan sepeda motor. Sedangkan jalan yang kecil, jalan yang berada di sisi kanan dan kiri jalan besar digunakan untuk sepeda onthel dan becak.

Jalan-jalan kecil itu dibatasi oleh semacam trotoar, namun ditanami pohon dan aneka tanaman hias. Indah dan teduh. Sebelum aku indekost, aku biasa nungguin angkot I2 ataupun I1 menuju terminal Purwokerto.

Setelah aku indekost, aku terbiasa jalan pagi di jalan kecil itu. Bukan sembarang jalan-jalan, tapi jalan-jalan mencari sarapan. Hehehe.

Namun, seiring dengan pesatnya pembangunan, jalan-jalan yang kecil itu dihilangkan. Alhasil, jalan Dr. Angka semakin lebar. Satu sisi aku senang, mengingat banyaknya volume kendaraan yang semakin meningkat. Dengan dilebarkannya jalan tersebut, secara otomatis memudahkan pengguna jalan raya selama berlalu lintas. Namun, sisi lainnya, sisi yang tak bisa lepas dari sejarah hidupku adalah hilangnya berbagai kenangan indah dan pahit tentunya, di jalan-jalan kecil itu.

See also  UZUR TAPI MANJUR

Jalan kecil itu adalah saksi bisu ketika aku menunggu angkot. Jalan kecil dengan pohon rindang itu adalah saksi bisu ketika saban hari Selasa dan Kamis aku belatih karate di SMA 4 Purwokerto. Jalan coy! Maklum waktu itu masih kere. Belum punya sepeda yang ada mesinnya. Wehehe. Jalan kecil itu adalah juga saksi bisuku ketika setiap malam tertentu aku bisa menikmati wajahnya yang ayu 🙂

Dan masih banyak lagi kenangan di sepanjang jalan itu. Termasuk melihat salah satu temanku yang dikejar-kejar wanita penghibur gara-gara temanku itu menghina sang wanita yang berprofesi sebagai penghibur di salah satu tempat hiburan malam yang kebetulan juga berada di jalur jalan itu. Hahaha.

Sudahlah. Sebenarnya aku masih ingin banyak bercerita perihal jalan kecil di jalan raya itu. Namun mataku tampaknya sudah terkontaminasi virus ngantuk. Hehehe.

Oh ya, sekedar pertanyaan kecil sebelum aku menyudahi tulisan ini. Kira-kira nasib mobil Esemka pegimane ye?

Salam MOBNAS 😉

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *