CINDERELLA DAN SEPATU KACA(U)

Tak seperti biasanya, sehabis kondangan isteriku ngajak belanja di salah satu supermarket terkenal di Purwokerto. Tak seperti biasanya, karena kebiasaan kami setelah kondangan ya langsung pulang ke rumah, ndak ada acara-acaraan lagi. He he he. Apalagi waktu itu turun hujan…. Hmmmm, sesuatu banget ๐Ÿ™‚

Alhasil, dengan pakain “formil” kondangan kamipun berbelanja di supermarket tersebut. Aneh juga sih, baru kali ini kami mengenakan baju kondangan ke supermarket. Gemana gitu……. ๐Ÿ™‚

Sebagai lelaki yang sudah menikah, percayalah, bahwasanya menemani isteri ke supermarket adalah kebahagiaan tersendiri. Lupakan sejenak tentang dompet yang mungkin terkuras. Lupakan sejenak tentang troli- troli berat yang harus didorong. Lupakan juga kebosanan ketika isteri milih itu milih ini dengan lamanya. Kenapa? Karena banyak SPG cantik-cantik disana…. Hahahahahahhahaaa…….   #MODUS

Sebenarnya saya bingung juga, baru kali ini isteriku maksa-maksa bingit untuk belanja. Mau beli apakah gerangan? Eng ing ong…. Ternyata sepatu ๐Ÿ™‚

Ya …. cuman beli sepatu. Dan sudah menjadi kebiasaan, disamping sebagai suami, aku memang sudah ditunjuk secara resmi tanpa SK oleh isteriku untuk menjadi penasihat ulung dibidang pakaian dan berbagai macam asesoris yang biasa diapakai isteriku. Oleh karena itulah, aku harus ikut menentukan sepatu mana yang akan dibeli oleh isteriku ๐Ÿ˜‰

Akhirnya, mataku tertuju pada sepasang sepatu warna hijau yang cukup unik. Wah, sesuai nih. Batinku. Langsung saja aku “seret” isteriku (hahahaha bahasanya….) untuk melihat sekaligus mencoba sepatu hijau itu…. and, seperti yang sudah aku kira, hijau adalah warna favorit isteriku, begitu melihat warnanya saja dia langsung senyam senyum kaya apa gitu… hahaha… Dan ukurannyapun cocok markocok. Dan harganya? Wuihhhh…. ternyata sesuai isi dompet dan isi ATM seluruh pengunjung warteg di kampungku. Hahahaa…. Akhirnya, jadilah isteriku membeli sepatu itu.

Ketika mau ke kasir, eit…. Tiba-tiba saja isteriku nyeletuk sembari memandang sepatu coklatku yang basah karena kehujanan tadi.

“Abi….  Sepatu abi kok ketawa-ketawa seperti itu!”

Langsung saja aku lihat sepatuku yang kebetulan sepatu favoritku… Oh My God, ternyata sepatuku memang tertawa alias rusak pada bagian depan. Upz, mengelupas!

Weleh, ternyata bukan hanya sepatu Cinderellaku yang mulai rusak, ternyata sepatuku juga mulai kacau…. Hahaha….

Siapa saja berhak untuk galau, termasuk elo dan gue

Okey mas bro dan mbak sist, kali ini kita akan membicarakan masalah galau. Hmmm, kayaknya asyik nich, sore-sore ngebahas galau sambil ngopi or minum teh hijau. Sueger……

Tahukah kalian, bahwasanya salah satu kehebatan dari si galau ini, ia tak pandang siapa. Kok bisa? Ya tentu saja bisa. Karena galau tak punya mata. Kalau dia punya mata, kayaknya dia bakalan milih manusia-manusia yang kuat saja. Lho kok bisa? Ya biar si galau lekas pergi. Kalau nyemplung ame manusia  lemah, wah bisa berabad-abad baru bisa  keluar tuh dari tubuh itu. Lebay!

Laiknya cinta dan banci, eh benci. Galau ini pun dapat tumbuh dan berkembang pada siapa saja. Wah kaya klinik saja ya, tumbuh dan berkembang. Mbuehehhe….

Anak-anak, ABG, anak yang bener-bener sudah gede, orang tua, orang waras, orang gila (wkwkwk), tukang becak, pegawai negeri, karyawan, pengusaha, pengamen, presiden, yang kurus, yang gemuk, yang lurus, yang bengkok, yang bulet, yang bodoh, yang pinter kerap ia kunjungi.

Pokoknya galau itu ibarat pengelana. Langit sebagai atap rumahnya dan bumi sebagai lantainya. Hidupnya menyusuri jalan. Sisa orang yang aku makan. #malah nyanyi.

Ngawur! Emangnya pernah survey mas bro? Kok berani nulis kek gitu? Ya karena semuanya manusia mas bro. Pastinya ya pernah galau. Hehehe.

Siapa sih yang tak pernah galau? Bahkan konon, para pemuka Agama atau para rohaniawan merupakan manusia-manusia yang mempunyai tingkat kegalauan paling tinggi.

Apalagi di zaman seperti ini. Zaman dimana yang salah bisa menjadi benar, dan yang benar bisa disulap menjadi salah.

Merekalah para rohaniawan yang paling galau kalau sudah seperti ini. Kok tahu? Ya tahu lah. Karena gue pernah berbincang-bincang dengan beberapa diantara mereka. Sungguh mereka memiliki tingkat kegalauan yang teramat tinggi dimana ketika manusia-manusia sudah mulai berani melawan Tuhannya.

Galau memang identik dengan sifat kemanusiaan. Manusia yang tidak pernah galau justeru dipertanyakan kemanusiaannya. Hanya saja, galau yang seperti apa yang dimaksud?

Jika kita galau karena adanya ketidakbenaran dalam hidup, maka galau seperti itu adalah galau yang diperbolehkan, bahkan wajib. Gemana nih maksudnya? Kenapa wajib?

Tentu saja wajib. Coba elo jawab pertanyaan berikut ini. Apakah elo tidak galau ketika banyak ketidakbenaran semakin merajai di sekelilingmu?

Fitnah, korupsi, kolusi dan aneka kejahatan lainnya yang berada dilingkungan sekitarmu.

Tidak galau bang! Wah wah wah…. Buahaya itu.

Jika ada galau yang sifatnya wajib, lalu ada gak sih galau yang sifatnya kagak wajib? Sunah gitu? Wehehehe…

Tentu saja ada! Untuk lebih lanjutnya, kita ikuti dulu dech pesan-pesan berikut ini!

Eng ing ong…

Ada ada saja bang darsono ini. Pakai iklan segala. Emangnya acara kawinan apa? Hikz.

Contoh galau yang tidak wajib itu misalnya, galau karena putus cinta. Wah, jlep banget nih bang. Masa putus cinta tidak galau? Kelainan ini!

Tunggu sebentar yah. Jika elo merasa bahwa elo itu cewek or cowok yang perkasa, harusnya ketika elo putus dengan pacar elo maka elo akan bilang, โ€œGue rapopo.โ€ Jangan sampai elo bilang, โ€œSakitnya tuh disini.โ€ Sembari memegang upil kamu. Eh!

Jika elo putus dengan pacar, seperti yang sudah biasa kita baca dan kita dengar, maka kalimat yang semestinya keluar dari hati elo adalah ucapan terima kasih.

Terima kasih atas petunjuk yang diberikan oleh Tuhan. Petunjuk bahwasanya mantan lo itu bukanlah orang yang terbaik untuk mendampingi hidup lo. Dengan putus, maka Tuhan telah memberikan petunjuk kepada elo guna nyari pasangan yang lebih baik lagi. Gitu…

Makanya jika elo putus cinta, harusnya elo jangan galau, tapi … menangislah! #wehlah

Wah kok jadi panjang lebar kayak rumus persegi panjang yah?

Intinya, siapa saja bisa dan berhak dihinggapi perasaan galau ini. Karena galau adalah salah satu sifat yang bernilai universal bagi makhluk-Nya. Wuihhh bahasanya….

So, sudahkah kalian galau di hari ini?

Hehehe….

Aku dan Jennifer Lopez

Semenjak perkenalanku dengan Jennifer Lopez alias Jelo, aku makin kesengsem dengan tingkah lakunya yang menggemaskan. Perkenalanku itu berlangsung ketika aku masih duduk di bangku SMA. Sungguh mengesankan bisa berkenalan dengan artis sekaliber Jelo. Ruaarrr binasa… Begitu kata iklan di tivi yang bisa mewakili isi hatiku dan isi dompetku tentunya. Mbuehehehe….

Seperti pepatah lama, witing tresna jalaran saka kulina atau dalam bahasa enggrisnya, waiting tresyen bikos of kuleyen, maka seiring berjalannya waktu, aku semakin kesengsem sama Jelo. Bagiku, walaupun dia beda agama, beda budaya, dan beda tinggi badan tentunya, namun cintaku ternyata tumbuh tak terhentikan seperti rambut yang ada di anuku, itu… di kepalaku maksudnya.

Dan begitulah cinta….. Dari dulu deritanya itu-itu saja. Begitu kata siluman basi dalam film Kerak Sakit. Seperti itu juga kisah cintaku….

Walaupun aku sudah sangat mencintainya, tapi apa daya, ia tak dapat melihat wajahku yang ketampanannya tak terbantahkan (versi majalah TRABAS).

Lha bagaimana dia bisa melihatku, wong selama ini aku hanya mengenalnya lewat tivi kok ๐Ÿ˜‰ Oh, Jelo… Kutunggu sendal kau…. Wekekekekek…..

Life must gogon…. eh, go on

Hampir setiap minggu bahkan hari, ada saja keluh kesah tentang hidup dan kehidupan yang konon semakin susah saja di negeri ini.

Keluh kesah tersebut bukan hanya nangkring di dunia maya saja, tapi pada kehidupan nyatapun demikian, sama saja.

bergerak

Mulai dari mengeluh soal harga-harga kebutuhan pokok yang naik, mengeluh karena biaya hidup lainnya yang juga semakin tinggi, sampai keluhan yang berbau politikpun tercurah hampir tiap hari di ranah-ranah sosial.

Sebenarnya sih keluhan itu wajar-wajar saja. Ya namanya juga manusia. Dulu ketika BBM naik, saya termasuk gerombolan keluhers. Mbuehehehe. Bagaimana ndak ngeluh, biasanya sehari cuman Rp. 15 ribu, gara-gara BBM naik, biaya bensin beserta biaya transport saya harus ikut menyesuaikan kenaikan tersebut. Padahal gaji saya waktu itu belum naik. Lha, makjleb banget mbok?   ๐Ÿ˜›

Memang sih ada motivator yang bilang, bahwa harga-harga yang naik bukanlah suatu masalah. Yang penting kita bisa menaikkan pendapatan kita. Jika tidak bisa menaikkan pendapatan, maka berhematlah dan pintar-pintarlah mengatur uang. Hmmm…

Terasa bijak sekali omongan itu. Namun bagaimana dengan orang-orang yang memang tidak mampu menaikkan pendapatan karena kehidupannya mau tidak mau tergantung pada uang gajian bulanan mereka?

Bagaimana juga dengan orang-orang yang memang sudah hemat? Apalagi yang mau dihematin? Heuheueheu…..

Lantas, bagaimana pula nasib orang-orang yang memang sudah mengatur dengan pintar keuangannya? Apalagi yang perlu diatur? Mbuehehe…

Namun, begitulah seni kehidupan ini. Life must  gogon eh, go on!

Jika kita terlalu menyalahkan pemerintahan, itu juga tidak fair dan bukan solutif. Bukankah kita sendiri juga ikut andil dalam memilih mereka?

Nah, dengan sedikit tulisan yang ada di blog ini, saya berharap masih ada beberapa jengkal kebahagiaan yang masih tertanam di hati anak-anak bangsa ini. Bukankah kebahagiaan adalah sebuah pilihan?

Marilah kita lanjutkan hidup, perkuat diri, tingkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang hidup dan kehidupan. Bukankah Tuhan senantiasa berjalan di atas segala pengharapan?

Mari bergerak!

๐Ÿ™‚

Ternyata, hidup bahagia di zaman ini susah ya?

Semangat pagi kawan ๐Ÿ™‚

Sebelum aku lebih lanjut menulis postingan ini, sebelumnya jawablah pertanyaan berikut ini :

  1. Pada jam berapakah kalian pertama kali membuka gadget di pagi ini?
  2. Apa isi berita di gadget tersebut?
  3. Apa yang terlintas ketika kalian membaca informasi tersebut?
  4. Adakah pengaruhnya terhadap kalian dari informasi yang kalian dapatkan tersebut?

Nah pertanyaan yang kelima sengaja tidak aku kasih nomor. Kenapa? Ya iseng saja. Mbuehehehe.

Lantas, apa sih pertanyaan yang nomor 5 tersebut. Pertanyaannya sederhana. Ketika sudah mendapatkan informasi tersebut, apakah kesimpulan yang ada pada pikiran kalian (kesimpulan kalian dari informasi itu) langsung kalian tulis di media sosial? Facebook atau twittter misalnya? Hayo jawab ๐Ÿ™‚

Hmmm, sebenarnya mau ngomong apaan sih, kok muter-muter kayak gini. Apalagi kalau dihubungkan dengan judul postingannya. Apa hubungannya boy? He he he.

Baiklah, saya cuman berharap semoga informasi pertama kali ketika kalian membuka gadget atau informasi via  internet adalah informasi yang menyejukkan hati.

Syukur-syukur bisa membahagiakan hati kalian. Contohnya, kamu diterima di universitas favoritmu, kamu diterima kerja, dapat tips-tips berguna, dapat hadiah on line dan sebagainya. Pokoknya yang happy-happy sajalah.

Kenapa? Karena jika sebelum beraktivitas suasana hati kamu lagi happy, maka nanti ketika kamu memulai beraktivitas akan tercipta suasana positif dan manis. Ceileh bahasanya ๐Ÿ™‚

Tapi seandainya informasi yang kalian dapatkan adalah informasi yang bikin suasana hati kamu miris, kecewa, marah atawa bersedih, maka aku berharap kamu tetep happy-happy ajah ๐Ÿ™‚

Karen jika sebelum beraktivitas saja suasana hatimu sudah bersedih, kecewa, ataupun marah, maka akan menimbulkan hil-hil eh hal-hal yang kurang baik terhadap kehidupanmu di hari ini. Khususnya adalah kebahagiaanmu ๐Ÿ™‚

Tidak percaya? Sudahlah…. Percaya saja sama aku. #maksaBingit

Dan sayang seribu kali sayang…. Berdasarkan pengamatanku pribadi, ternyata adagium good news is bad news, masih mendominasi dunia informasi di negeri ini, bahkan jagat raya ini.

Berita-berita yang “negatif” justru menjadi popular news atawa trending topics di kalangan netizen.Tak percaya, lihat saja popular news di dunia maya di pagi ini. Bagaimana menurut kalian?

Bukan hanya di dunia maya saja. Informasi-informasi di dunia elektronik lainpun kurang lebih sama.

Saling menjelek-jelekkan dan fitnah adalah hal yang lumrah. Misalnya, Pejabat anu membuat bla bla bla yang bikin rakyat jadi bla bla bla.

Jika bla bla nya positif, kayaknya jarang yang baca, Tapi jika bla blanya negatif, apalagi dibumbui dengan kata-kata bombastis yang sedemikian rupa, maka akan menjadi trending topic atawa popular news. Dan dapat dipastikan, komen-komenpun akan bejibun, termasuk komen-komen yang kurang pantas menurut segi agama maupun budaya ketimuran kita.

Entahlah, seolah hal-hal yang demikian sudah menjadi lumrah. Seperti tak ada batasannya. Bebas posting, bebas ngomong, fitnah ini fitnah itu, jegal sana jegal sini. Entah siapa yang benar siapa yang salah.Seakan menjadi abu-abu.

Dan parahnya, kita yang tidak bersinggungan dengan manusia-manusia ataupun hal-hal yang ada di pemberitaan tersebut, terkena dampaknya juga.

Nah lho, kok bisa? Ya iya lah. Jika kita membaca berita, korupsi misalnya (padahal belum tentu benar), maka hati kita seakan terkoyak.

Bagaimana tidak terkoyak, ditengah kemiskinan negeri ini, ternyata masih ada pejabat yang tega-teganya memakan uang rakyat.

Bagaimana perasaanmu? Miris bukan? Padahal belum tentu beritanya benar.

Bahkan, seandainya benar sekalipun, bukankah hati ini menjadi sedikit kecewa? Atau langsung marah? Hmmmm… Jadi berkurang kan kebahagiaannya. Atau justeru langsung hilang seketika?  ๐Ÿ˜‰

Sungguh saya, Anda, dan kalian pasti ingin bahagia. Tapi jejalan-jejalan informasi negatif dari beragai media  yang demikian sungguh kadang diluar dugaan.

Padahal, bagi kita yang doyan ngenet, tidak mungkin menghindari berita-berita yang demikian.

Hmmm, susah memang untuk mendapatkan kebahagiaan di zaman ini. Disaat kita ingin bahagia, eh tiba-tiba ada bacaan mengesalkan di internet. Jadi tidak bahagia dech! Mbuehehe.

Lalu, apa yah tipsnya biar kita hidup bahagia?

Bagaimana kalau gadget kita, kita lempar saja ke laut! Biar puteri duyung saja yang menderita. Setuja?

Hahahahaha…..

LASIH, SANG KEMBANG DESA

Malam semakin larut. Biduan-biduan cantik dari grup organ tunggal yang sedang meramaikan pesta pernikahan itu semakin menggairahkan. Tidak hanya suara saja yang mereka pamerkan. Keseksian gerakan tubuh dan desahan-desahan menggemaskan mereka keluarkan dengan penuh candaan. Tamu undangan dan penonton semakin malas untuk meninggalkan kemeriahan pesta itu.

Sementara itu di kamar pengantin, sang pengantin pria sudah bersiap-siap menunaikan kewajibannya. Senyumnya merekah, matanya tajam seperti singa yang hendak menangkap mangsanya.

Lasih, begitu nama sang mempelai wanita, masih tertegun dihadapan lelaki yang telah dengan sah menikahinya. Tidak seperti sang mempelai lelaki, perasaannya justru berseberangan dengan lelaki yang ada dihadapannya.

Ah, andai dia tahu, ini bukan pertama kalinya aku merasakan keringat lelaki. Dan sebentar lagi mungkin dia tahu. 

Apa yang harus aku lakukan? Apakah dia akan rela menerima keadaanku yang sesungguhnya? Atau… jangan-jangan malam ini menjadi malam terakhir dalam hidupku. Ahhh…. Mati aku…. Begitu batin Lasih berkata.

Lasih, kembang desa yang cantik, kini pulang ke kampungnya. Ia hanya pulang untuk menikah. Tidak ada lagi alasan kepulangannya selain itu. Ia tak pernah ditanya apa pekerjaannya di kota. Bahkan calon suaminya pun tak pernah menanyainya.

Lasih, kembang desa yang baru pulang ke kampungnya, hanyalah penghibur di ibu kota sana. Entah apa yang akan terjadi di malam pertamanya.

TIPS KELUAR DARI GOOGLE SANDBOX

Betapa senangnya ketika blog tercinta ini keluar dari dekapan sang google sandbox. Wuih…. Mak nyozz!

Dalam postingan ini saya tidak akan membahas apa itu google sandbox. Bisa kalian cari sendiri lah dengan bersurfer ria via mbah google ataupun tante yahud ๐Ÿ™‚

Jujur saja, setelah masuk dalam dekapan sandbox, aku jadi sering ngelongok traffic blog ini tiap harinya. Bahkan sampai sekarangpun aku masih rajin untuk melihat traffic blog. Sesuatu yang jarang saya lakukan. Ya seperti sarapan pagi lah. JARANG BOY! Hahahaha.

Siapa sih yang ndak mangkel kalau masuk kedalam dekapan mbah google sandbox? Pengunjung yang tiap harinya ratusan bahkan ribuan, tiba-tiba saja menjadi hanya puluhan saja. Weh!

Memang sih, bagi sebagian blogger mungkin traffic tidaklah penting. Ya karena tujuan mereka ngeblog hanya mengungkapkan isi hati maupun ide saja. Tapi bagi yang blognya digunakan untuk kepentingan entrepreneur, ya seperti saya ini, maka traffic menjadi salah satu hal yang krusial. Mbuehehehe.

Singkat cerita, akhirnya blog ini terbebas juga dari dekapan mbah sandbox. Yeahhh……..

Baiklah, bagi sobat blogger yang blognya masih masuk dalam dekapan sandbox, berikut cara yang saya gunakan untuk terbebas dari dekapan sandbox.

Pertama, cari postingan kamu yang merupakan hasil copas. Hapus segera, ndak usah nunggu ayam jantan berbunyi ๐Ÿ˜‰

Kedua, Tetaplah posting. Usahakan minimal sehari satu postingan. Jika ada satu hari yang terlewat, maka buatlah dua postingan. Jika tiga hari, buatlah tiga postingan. Dan seterusnya. Kuncinya, satu hari minimal satu postingan. Yang sabar yoooo?  ๐Ÿ™‚

Ketiga, share postingan kamu via media sosial seperti facebook dan twitter.

Keempat, lakukan lakukan dan lakukan terus. Ingat, disini diperlukan kesabaran. Saya saja hampir dua bulan setelah melakukan hal-hal diatas baru dapat keluar dari dekapan google sandbox.

Demikian tips dari saya untuk bisa keluar dari google sandbox. Semoga bermanfaat.

Keep blogging!

๐Ÿ™‚

Ssstt…. Apa alat musik yang kamu sukai?

Kalau ada musik, dunia menjadi berisik. Tapi kalau tak ada musik, dunia kurang asyik. Kurang lebih begitu penyampaian wa Haji Rhoma Irama pada salah satu lagunya yang berbicara tentang musik.

Untuk urusan musik, aku itu bisa dikatakan sebagai penikmat. Memang sih sedikit-sedikit bisa memainkan gitar, mulai dari kunci C,Am,Dm ke G ke C lagi. Begitu seterusnya sampai angkutan kota tiba. Mbuehehehe.

Selain bisa genjrang genjreng gitar seadanya, seruling adalah salah satu alat musik yang juga sedikit bisa aku mainkan. Sedari SMP aku memainkannya. Asyik juga. Main seruling sambil ngelihat pemandangan sungai Tajum. Apalagi kalau ada yang lagi mandi dan nyeberangin sungai. Perempuan lagi ๐Ÿ™‚  Hay hay hay… Jadi inget masa-masa ABG dulu ๐Ÿ˜‰

Nah, ketika aku bekerja, kebetulan ada organ di tempat kerjaku itu. Disana aku belajar sedikit demi sedikit. Ternyata sulit juga boy! Padahal ketika melihat Oom Purwacaraka main piano, kayaknya gampang banget tuh pianonya dimainin. Mungkin karena jariku jempol semua, akhirnya tuts-tuts organnya yang pada berlarian tuh. Sompret ๐Ÿ™‚

Sayang seribu kali sayang. Ada gitar di rumah tapi rusak. Serulingnya aku wariskan sama keponakanku. Kebetulan keponakanku suka banget sama Cartoon Krishna. So, dia minta dibeliin seruling sama ibunya. Akhirnya, aku kasihkan seruling keramatku pada keponakanku. Lha kok keramat? Ya karena seruling itu aku beli waktu SMP dulu. Mari kita hitung berapa usia seruling itu. Aku lulus SMP tahun 4320 SM. Halah! Ngawur………………………………………..

Ya pokoknya usianya lebih dari 17 tahun. Ketahuan dech umur gue ๐Ÿ˜‰ Wkwkwkwwk.

Lalu bagaimana nasib organ ditempat kerjaku?

Ternyata organnya bernasib lebih tragis dari nasibnya Maria Mercedez. Organnya raib dicuri orang bersama puluhan komputer di laboratorium komputer di tempat kerjaku. Hu hu hu……

Bagaimana dengan kamu? Apa alat musik yang biasa kamu mainin?

Have a nice day ๐Ÿ™‚

Lapangan Cabe

Sore itu, tak seperti biasanya si Panjul mengenakan pakaian lengkap ala pemain bola. Kaos, celana, sepatu, kasut, deker ia kenakan lengkap. Tak lupa ia juga membawa bola sepak yang baru saja ia beli di pasar loak terkenal di kecamatannya. Wah, pokoknya mantap murantap dech penampilan Panjul kali ini. Kayak pemain sepak bola ternama asal negeri tetangga, Dapid Bekam! Mbuehehehe.
ย 
“Mau kemana lu njul? tumben makai pakaian renang kek gitu. Ndak salah alamat kan elu?”
ย 
Baru beberapa meter Panjul keluar dari rumahnya, terdengar suara cempreng yang sudah sangat ia hafal sedari ia masih jadi orok. Siapa lagi kalau bukan suaranya si John Dhegle. Teman karibnya yang telah lama hilang. Namun seiring dengan banyaknya dupa dan mantra-mantra yang dibacakan kambing dan kucingnya, alhasil si John Dhegle berhasil pulang ke kampungnya dengan menaiki ojek monyet. Huh!
ย 
Kampret lu john! Ini bukan pakaian renang, tapi pakaian petugas penyedot tinja. Puas?”
ย 
Panjul langsung menjawab dengan gayanya yang bengis seperti para pantomim yang kehilangan mukanya ๐Ÿ˜‰
ย 
“Gitu aja marah. Santai aja Njul!”
ย 
“Santai kambing maksud lu John?” Jawab Panjul sedikit sewot.
ย 
“Ya terserah lu njul. Santai kambing atau santai Kuta sama saja. Sama-sama berakhiran O. Hahahahaha!”
ย 
“Hmmm…. Seandainya yang bilang kek gitu adalah Cindy Crawford, maka sudah aku lempar bibirnya dengan bibirku ini. Tapi karena yang bilang kek gitu adalah elu John, maka elu akan gue lempar pakai kentut gueย Terima ini, ciaattt! ย Duuuut! Hahahaha.”
ย 
“Sompret lu Njul!”
ย 
“Makanya, kalau ngomong sama orang ganteng kek gue, elu harus ngaca dulu di kolam ikan milik mbah Setra.”
ย 
“Okey lah Njul. Ngomong-ngomong mau main bola dimana njul?”
ย 
“Di meja pingpong! Ya dilapangan sepak bola lah John. Gitu aja nanya. Makanya kalau ngilang jangan terlalu lama, jadinya lu tahu perkembangan kampung ini. Huh, dasar! Gue cabut nich John. Keburu Maghrib nanti. Oh ya, kapan-kapan gue mampir kerumah lu John. Sudah lama gue tidak ngambil celana lu. Boleh kan? Hahahaha!”
ย 
Cah edian! okey njul, gue juga udah kangen kumpul sama lu. Besok saja lu ke rumah gue. kebetulan besok nyokap gue bikin sambel goreng lidah tuyul. Ntar gue kasih semuanya ke elu dech njul. Mbuehehe!”
ย 
“Huh, kampret!”
ย 
Singkat cerita, si Panjul akhirnya sampai juga di lapangan bola favoritnya. Namun si Panjul merasakan ada keganjilan disana. Tiba disana, bukannya lapangan penuh rumput yang ia lihat, tapi kebun cabe. Nah lho, apakah si Panjul salah jalan? Atau salah lihat? Entahlah, yang jelas gue gak salah ketik. Mbuehehe.
ย 
Tiba-tiba saja si Panjul melihat ada papan yang terbuat dari kayu yang terpampang di sebelah gawang yang masih tersisa. Sontak ia langsung mendekati papan tersebut. Ternyata di papan tersebut tertulis kata-kata yang mengusik perhatian si Panjul.
ย 
Begini tulisannya :
ย 
KARENA PENGURUS SEPAK BOLA DI KAMPUNG INI SERING BERKELAHI GARA-GARA PEREMPUAN DAN RAMBUTAN, MAKA DEMIย KEGIATAN PRODUKTIF YANG DAPAT MENGUNTUNGKAN PETANI, LAPANGAN INI DITUTUP DIUBAH MENJADI KEBUN CABE. BAGI YANG KEBERATAN BISA LANGSUNG MENEMUI SAYA LEWAT EMAIL MAUPUN MEDIA TIDAK SOSIAL LAINNYA.
ย 
TERIMA KASIH
ย 
TTD
ย 
LURAH HATI
ย 
Dengan wajah kecewa, akhirnya si Panjul kembali ke rumahnya sembari menyanyikan salah satu lagunya Ona Sutra yang berjudul BOLA.
ย 
“Bolaaaa…. tungguuu…..!”
ย 

“Permainan” Sang Mantan

Ada begitu banyak mantan di dunia ini. Mulai dari mantan petinju sampai kambing. Lho, kok kambing? Ya itu, kambing “mantan”.

Hadeuh, kambing jantan kaleee ๐Ÿ˜›

Nah, untuk mantan yang akan kita bahas disini adalah mantan pacar. Sebelum membaca lebih lanjut postingan ini, coba deh, kamu hitung berapa jumlah mantan pacar kamu yang masih tersisa. Eh, terkenang maksudku ๐Ÿ™‚

Okey, kita mulai penghitungannya setelah semua gajah di ragunan disunat semua oleh si bapak mantri. Mbuehehehe.

Bagaimana, apakah sudah kamu hitung semua mantan pacar kamu yang masih tersisa di dunia ini. Ih, sisa. Nasi mbok ๐Ÿ˜›

Okey, kita lanjutkan permainannya ๐Ÿ˜‰

Dari mantan-mantan yang sudah kamu hitung itu :

1. Berapa dari mereka yang masih kasih perhatian ke kamu?

2. Berapa dari mereka yang sampai detik ini masih membencimu?

3. Berapa dari mereka yang sampai saat ini masih suka berhubungan, eh menghubungimu?

4. Berapa dari mereka yang masih mencintai kamu?

Nah, jika sudah menjawab semua pertanyaan di atas, cobalah kalian laporkan hasil dari utak atik di atas tadi pada pasangan kamu hari ini juga. Laporkan sedetil mungkin, jangan ada yang disembunyikan di balik peci kalian.

BERANI?

๐Ÿ˜‰