Belajar Bersyukur Kembali

Posted on
Suatu hari, gurunda yang mulia berkata kepada saya :

“No, (Panggilan akrab guru saya ke saya. Namaku kan Darsono. Hehehe) sing jenengane menungsa kuwe nduwe sipat ora puas karo apa sing wis deparingna sekang Pengeran. Ora kabehan sih. Enggane dewei gunung emas sekalipun, menungsa tetep bakalan ora puas.”

Wah bahasa mana tuh mas? Bahasa Banyumas tuh bos. Hehehe.

Jika saya terjemahkan maka artinya kurang lebih begini, “No, yang namanya manusia itu memiliki sifat atau tabiat kurang puas terhadap segala sesuatu yang telah diberikan oleh Tuhan. Tidak semuanya sih. Andaikata ia diberi gunung emas sekalipun, yang namanya manusia tetaplah tidak akan puas.”

Kembali saya teringat nasihat yang mulia dari guru saya tersebut. Lantas, kenapa tiba-tiba saya teringat untaian kalimat itu kembali?

Kebetulan saja dalam hari-hari terakhir di minggu ini ada sedikit perubahan situasi hati pada diri saya. Ceileh, situasi hati. Korban vickinisasi mah ini. Halah!

Ada dua suasana hati yang saling berhadapan di hari-hari terakhir minggu ini. Pertama suasana hati yang bahagia. Sedangkan yang kedua adalah suasana hati yang… ehemmm, rada kecewa 😉

Bahagia karena gaji saya ditempat kerja saya akhirnya naik. Duh bahagianya. Bayangkan saja, sudah lima tahun lebih gaji saya baru naik. Memang sih masih jauh dari UMR, tapi setidaknya instansi dimana tempat saya bekerja tersebut sudah berkenan menaikkan gaji tenaga wiyata bhakti seperti saya dan beberapa rekan lainnya. Dan yang luar biasa hebatnya adalah, kenaikan gaji tersebut dirapatkan bersama. Lho, itu kan sudah biasa mas? Mungkin diperusahaan-perusahaan swasta itu sudah biasa, namun di instansi sekolah, baru kali ini saya mengalaminya.

Biasanya kenaikan gaji tersebut hanya dibicarakan oleh beberapa pihak yang berwenang yang sudah ditunjuk oleh sekolah, namun kali ini benar-benar berbeda. Kenapa? Ya itu tadi, seluruh tenaga wiyata bhakti dikumpulkan untuk dengar pendapat perihal kenaikan gaji yang dihitung per Januari tahun ini.

Lalu kenapa harus ada suasana hati yang rada kecewa? Nah kita lanjutkan.

Kembali ke cerita, rapat tersebut berjalan dengan penuh canda. Eh, serius ini lho 🙂  Tapi ya namanya juga rapat, walaupun penuh canda, ada saja hal-hal “seru” yang terjadi di rapat itu. Memang sih tidak sempat lempar-lemparan kursi, apalagi nyembunyiin palunya sang ketua rapat. Hahaha. Tapi itu adalah suatu hal yang wajar dan biasa tentunya.

Singkat cerita, selesailah rapat itu dan diputuskanlah berapa-berapa kenaikan gaji untuk masing-masing pegawai. Dan namanya juga kebijakan, mana ada sih kebijakan yang sempurna, apalagi kebijakan tersebut menyangkut banyak orang. Pasti ada yang ngedumel, kecewa, senang, bahagia dan sebagainya.

Dan sekali lagi itu wajar. Bagi yang merasa sudah cukup kenaikannya, kemungkinan mereka akan bahagia. Sedangkan sebaliknya, jika ada yang merasa kurang, pasti dech dongkol adanya. Hehehe.

Lantas dimanakah posisi saya? Dongkol alias kecewa, atau justeru termasuk golongan yang berbahagia?

Karena suasana hati yang saya tulis diblog ini ada dua, yaitu bahagia dan kecewa, bahagia karena naik gajinya, lantas kecewanya dimana?

Ya kecewanya karena saya ingin agar gaji saya di atas 5 juta. Diberi tambahan penghasilan sebanyak 7 juta, diberikan fasilitas tambahan berupa kuda betina, serta mendapatkan batu akik yang harganya ratusan ribu dollar saja. Itu yang bikin saya kecewa! Hahahahaha……… Kuampret lu coy!

Ya begitulah manusia, selalu merasa kurang apa adanya. Maka bersyukur adalah kuncinya. Dan sepertinya saya harus belajar kembali tentang makna syukur yang sesungguhnya.

Nb. Tulisan ini dibuat dengan sesadar sadarnya dan masih hafal sama PANCASILA. So, enjoy aja 😉

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *