Oh, My Book…….

Posted on

Pemirsa yang budiman, ceileh, kayak penyiar TVRI jaman 80- an saja nich. Pakai pemirsa yang budiman segala. ๐Ÿ™‚

Membuat buku adalah cita-citaku dari dulu. Sejak SMP saya sudah pengen punya buku sendiri. Ya minimal buku kumpulan puisi lah. Lha wong waktu SMP aku sudah berhasil membuat puisi satu buku tulis. Sayang sudah dituker bawang merah sama bawang putih oleh orang tua saya. Eh dulu sudah pernah aku ceritakan disini kan? Hayo, coba dech oprek-oprek lagi blogku ini. Hehehe.

Namun sampai saat ini, buku yang aku idam-idamkan tersebut tak kunjung jadi juga. Entahlah, padahal kalau dihitung-hitung sudah ada lebih dari tiga bahan untuk penulisan buku saya.

Bukan hanya bahan, bahkan sudah ada tulisan yang sebenarnya sudah siap terbit. Sayang, kendala dana dan beberapa kendala lainnya yang tak bisa aku ceritakan disini menjadikan bukuku belum terbit juga sampai sekarang. Huhuhu….

Akhirnya, berdasarkan ide dan analisis sendiri, aku memutuskan untuk menulis buku yang berhubungan dengan motivasi. Dengan gaya slengekan,ย tulisan tersebut sampai sekarang sudah sampai di halaman 79. Tapi apa yang terjadi pemirsa yang budiman? Tiba-tiba saja ada beberapa hal yang menyebabkan aku terhenti di halaman 79 tersebut. Nah lho, kok bisa?

Ya begitulah. Mungkin aku masih ababil, alias ABG labil, sehingga seolah-olah jiwaku masih ndak jelas kesana-kesini. Padahal ide sudah mulai berjalan dan dituliskan.

Baiklah pemirsa yang budiman, aku cantumkan saja kegalauanku ini lewat blog. Ya daripada lewatย WC rumahmu, kan mending lewat blogku yang wangi ini. #kabuurrrr!

Beberapa kegalauan yang membuatku untuk sementara berhenti itu diantaranya adalah seperti ini :

*oh ya, alasan-alasan ini pernah aku muat dalam bentuk komentar di blog enjeklopedia ๐Ÿ™‚

    • Jangan-jangan buku itu nanti tak laku.ย Sudah keluar biaya banyak, eh malah tak laku. Ya memang sih ada yang bilang bahwa menulis itu bukanlah semata-mata untuk dikomersilkan saja. Ada nilai intelektual dan histori tersendiri bagi si penulis. Ya mungkin itu benar. Tapi bukankah sebagai manusia yang masih mempunyai kebutuhan, khususnya kebutuhan rumah tangga, maka penghasilan masih menjadi pertimbangan. Saya jadi ingat, dulu saya pernah membaca sebuah cerita tentang Pak Dahlan Iskan. Bagi Beliau, koran yang baik itu adalah koran yang berisi berita yang bagus serta berita yang “menjual”. Percuma saja ย beritanya bagus, tetapi korannya tak bisa laku dijual. Bukankah wartawan dan segenap orang yang bergelut didunia persuratkabaran tesebut harus makan? ๐Ÿ™‚
See also  BEGITULAH KATA MUKIDI

 

    • Jangan-jangan tulisan saya bepengaruh negatif pada pembacanya. Jujur saja, walaupun tulisan tersebut berhubungan dengan motivasi, tapi saya khawatir kalau nanti malah justru melemahkan jiwa-jiwa pembacanya. Kok bisa? Ya entahlah. Namanya juga kegalauan.

 

  • Masih mikir pemasarannya. Sudah jadi tapi tak bisa menjual, ya apalah gunanya. Kata Mastah Dewa Eka Prayoga, no closing, nothing. Nah lho ๐Ÿ™‚ Percuma sudah punya buku, tapi masih pusing memikirkan cara pemasarannya.

Pengen kasih tahu lagi yang lainnya, tapi mbak Agnes Mo nyamperin saya untuk latihan menjadi penari latar di acara konsernya. Mbuehehehe………

Sontoloyo kau ini coy!

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *