SPIRITUALITAS, UNTUK APA ENGKAU KINI?

Posted on

Sebagai orang Jawa, dan kebetulan saya hidup dan dibesarkan di lingkungan kejawen tentunya saya sudah terbiasa dengan kehidupan para penganut aliran kejawen ini. Satu minggu, bahkan satu tahun tidaklah cukup untuk mengkaji para penganut aliran kejawen ini. Namun secara umum, para penganut aliran ini memiliki suatu “keistimewaan” berupa kebijaksanaan hidup yang menurut saya luar biasa dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Kebetulan juga, saya memiliki keluarga yang menganut aliran kejawen ini. Jarang sekali mereka melakukan keburukan-keburukan berupa tindakan maupun kata-kata. Tentu saja penilaian ini disandarkan pada sistem nilai yang ada pada masyarakat Jawa pada umumnya.

Ora ngenyek, ora ngomeih, ora ngece, ora maling, ora madon, dan toleransi yang sangat tinggi terhadap orang lain (tepa slira) serta beberapa kebaikan lainnya mereka terapkan dalam kehidupan mereka. Kebijaksanaan hidup yang sudah tertanam dalam hati menjadikan para penganut kejawen ini menjadi pribadi-pribadi yang baik dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Mungkin karena itulah, ketika agama-agama besar masuk ke bumi nusantara ini bisa diterima dengan baik oleh masyarakat nusantara, termasuk wong jawa.

Karena keistimewaaan berupa kebijaksanaan-kebijaksanaan hidup inilah, para “pentholan” kejawen pada zaman dahulu mendapatkan keistimewaan.

Salah satu keistimewaan tersebut adalah berupa penghormatan kepada pentholan/tokoh-tokoh tersebut dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka tidak hanya dihormati saja, tapi juga disegani. Saran dan nasihat-nasihat mereka senantiasa diugemi, dijunjung tinggi dan dipraktekan oleh masyarakat.

Begitulah keadaan masyarakat ini pada zaman itu. Orang-orang memberikan keistimewaan berupa penghormatan kepada seseorang karena spiritualitasnya, bukan hartanya.

Baiklah, mari sejenak kita masuk kepada era masuknya agama-agama besar di nusantara.

Pada zaman Hindu, betapa para brahmana sangat dihormati, bahkan oleh sang Raja sekalipun. Mereka menjadi penasihat raja. Sehingga keputusan-keputusan yang diambil oleh sang rajapun tidak terlepas dari faktor spiritual.

See also  Tuhan, dimanakah Engkau?

Sampai pada zaman kerajaan Islampun, para ulama menjadi tokoh yang tidak bisa dinafikan keberadaannya. Mereka sangat dihormati dan diugemi.

Lalu, apa yang terjadi di zaman kita ini?
Apakah nilai spiritualitas masih digunakan oleh masyarakat/penguasa dalam menghormati/mengagungkan seseorang?

Ah, entahlah…. marilah kita bertanya pada rumput yang terbakar…..

0 comments

  1. Yupz… masing2 daerah pasti mempunyai nilai2 lokal yg bijak…
    Sebenarnya ada pertanyaan besar yang terselip pada dada saya, kenapa yah kearifan2 lokal tersebut menurut saya banyak yg kurang dihiraukan lagi. Bahkan ada yg dihilangkan.
    Nilai2 yg diterapkan sekarang adalah nilai2 yg pragmatis. Kira2 menguntungkan, ya diambil saja ๐Ÿ™‚
    Serba instan ๐Ÿ™‚

  2. Awal 70-an dulu saya tinggal di lingkungan yang relatif banyak penganut kejawennya. Dulu tidak terasa ada yang istimewaโ€”tidak suka marah, berusaha mengerti masalah (mendengarkan) dulu sebelum bicara, tidak suka klaim pemilik kebenaran.. (masih banyak lagi) dan yang paling mengesankan bagi saya: satunya kata dan perbuatan. Membandingkan mereka dulu dengan saya sekarang.. yah, malu sendiri ๐Ÿ™‚

    Sayang sungguh, banyak sekali kearifan lokal (bukan cuma Jawa, pastinya) yang terkikis zaman..

  3. Iya, selain mempertahankan lebih susah daripada mencapai, apalagi yang dipertahankan adalah sesuatu yang baik, yang bertambah lagi tingkat kesulitannya :hehe.

  4. Nah… itu dia… saya juga lagi mengingatkan diri sendiri..
    kadang, terbawa arus juga nih mas bro ๐Ÿ™‚

    Sepertinya mempertahankan nilai2 lama yg sifatnya baik, tidak mudah membalikkan telapak tangan ๐Ÿ™‚

  5. Sistem nilai yang sangat pantas untuk kita teladani ya Mas. Banyak yang bisa kita pelajari dan terapkan dari masyarakat masa lalu, namun entahlah, agaknya semakin banyak orang di masa sekarang ini yang menutup mata terhadap nilai-nilai itu. Semoga tulisan ini bisa jadi pengingat dan membuat kita bisa belajar tentang apa yang mesti kita lakukan ya Mas :hehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *