Sepatu Goweser dan Pabrik Kayu

Posted on
Ah, ini postingan telat. Ceritanyapun telat. Karena terjadi kemarin. Hehe.

Seperti pagi-pagi sebelumnya, kemarin gue berangkat kerja dengan penuh ceria, cinta, dan abra kadabra (apa pula itu).

Sampai di suatu tempat yang bernama Patikaraja, gue lihat ada biker yang menurut gue sih keren abis. Tapi bukan wajahnya! Upz…….. Ya karena wajahnya tertutup rapat pakai kondom, eh helm. Gue gak bisa ngelihat wajahnyaaaaaaaaaaa!!!!! Puas????

Yang keren dari biker itu adalah… eng ing ong…. SEPATUNYA!

Yupz, sepatu yang mengkilap dengan design yang menurut gue… keren….Beneran, keren banget! Lebih keren dari sepatu kuda yang biasa gue lihat di stadion olah raga sono…. Itu tuh, sepatu kuda yang biasa gue pake… nah lho….  *gak lucu

Ternyata, setelah gue teliti dengan ilmu pelet yang gue punya, sepatu keren tersebut adalah sepatu yang biasa digunakan oleh pecinta sepeda alias gowesers.

Mungkin gue yang katrok. Soalnya, sepatu kaya gitu aja gue kagak tahu. Ya maklumlah wong ndeso. Gue tahunya cuman pilem unyil (halah… bilang ajah bokep). Tapi jujur, ternyata buat harian, sepatu itu boleh juga. Apakah elu sudah pernah make sepatu kek gitu? Sekali-kali cobalah!

Jika belum punya, minjem aja ke tetangga sebelah. Kalau tetangga gak punya, pinjem lagi ke tetangga sebelahnya tetangga yang tidak punya tadi. Kalau tetangga sebelahnya tetangga yang tidak punya itu ternyata juga tidak punya, pinjam lah lagi ke tetangganya tetangga  tetangga sebelah yang juga tidak punya. Siapa tahu tetangga tetangganya tetangga sebelah yang tidak punya ternyata punya. Lah kalau tetangganya tetangga tetangga sebelah tidak punya bagaimana lagi? Ya pinjamlah sama tetangganya tetangga tetangga tetangga sebelah yang tidak punya itu. Lah kalau teteangganya tetangga tetangga tetangga sebelah tidak punya? ya pinjem lagi ke tetangganya tetangga tetangga tetangga tetangganya sebelah. Siapa tahu punya. Pokoknya begitu seterusnya sampai elu ketemu sama toko yang menjual perlengkapan biker sepeda.

Sudahlah, gue gak mau ngebahas masalah tetangga. Sekarang lanjut cerita berikutnya….

Sampai di Rawalo, tiba-tiba saja gue teringat sebuah pabrik kayu lapis yang baru beberapa bulan buka di sebelah SPBU Karanganyar- Jatilawang.

Jujur saja, walaupun gue tidak bekerja disana, akan tetapi gue turut berbahagia karena banyak teman-teman dan saudara gue yang kerja disana.

Beda dengan tempat tinggal yang saat ini gue tempati. Banyak pabrik dan juga gudang-gudang perusahaan multi nasional. Tentu saja, hal ini berdampak pada banyaknya tenaga kerja yang terserap di kampung gue dan kampung sekitarnya tentunya. Walaupun gaji mereka hanya pada kisaran IDR 1-2 juta, namun gue pikir untuk biaya hidup di kampung sudah terbilang lumayan bagus. Karena masih banyak barang/komoditi yang terbilang murah di kampung yang gue tinggali saat ini, termasuk juga makanan.

Beda dengan kampung asal gue. Harga-harga barang termasuk nasi rames lebih mahal dibandingkan dengan kampung yang saat ini gue tempati. Dan yang lebih memprihatinkan, banyak dari teman-teman gue yang belum mempunyai pekerjaan. Namun itu dulu…..

Setelah ada pabrik kayu lapis, alhamdulillah banyak teman-teman gue yang sekarang sudah mendapatkan pekerjaan. Di pabrik tersebut tentunya. Walaupun gue tidak tahu pasti, namun menurut “penglihatan” gue yang selama ini pulang-pergi melalui pabrik itu, banyak karyawan yang bekerja disitu. Dan akan semakin banyak tentunya, karena proses pembangunan pabrik tersebut belum selesai.

Kemarin, aku lihat asap membumbung tinggi dari pabrik kayu lapis itu. Namun asapnya tidak seperti biasa. Lebih tebal!

Dan benar saja, ternyata asap tebal tersebut bukanlah asap yang seperti biasanya. Pabrik tersebut terbakar!









0 comments

  1. Oh ada ya sepatu khusus pesepeda? Bagaimana bedanya dengan sepatu biasa Mas?
    Dan ya, memang kebakaran adalah kejadian yang asyik banget buat jadi objek foto-foto, tapi tidak adakah yang memanggil pemadam kebakaran saat itu? Soalnya saya lihat lokasi sekitar sepi-sepi saja… tapi mudah-mudahan apinya cepat padam dan kerugiannya tidak terlalu besar ya, supaya dampaknya tidak luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *