JADI KULI PASIR SAMPAI KERJA KANTORAN

Hei gaes, apa kabar kalian hari ini? Jangan selingkuh dulu yah! (Prolog apa-apaan ini).

Pada obrolan ngalor ngidul kali ini, saya akan berbagi pengalaman dengan kisanak dan nyisanak semua. 

Pengalaman jihad di Syria? Atau pengalaman nglonthe di Gang Sadar? 

Bukaaaan!!!! Bukan itu!!!

Pengalaman yang saya maksudkan disini adalah pengalaman pribadiku yang semoga bisa menambah gairah kehidupan aku dan kamu… Iyaaaa… kamuuu!  #terdodit-dodit.

Jujur saja, blog ini memang sangat urakan dan sedikit sadis. Tapi berhubung saya kece, maka akan saya bagikan tuturan-tuturan bengis yang justru menjadikan hidup saya menjadi manis. Tentu saja menurut versi kamus Bahasa Indonesia yang sudah sesuai EYD. Mbuehehe…

Yupz, bagi saya blog bukan hanya sebagai ajang menampang wajah semata (hikz), tapi juga sebagai ajang untuk berbagi pengalaman dan inspirasi. Dan semoga pengalaman yang akan saya bagikan ini berguna bagi mantan, nusa, dan bangsa…. Amiin…..

Mungkin kalian pernah dengar kata jablay, eh…. malah ngomongin jablay…. Mungkin kalian pernah mendengar atau bahkan pernah membaca sesuatu yang bernama POSITIF THINKING. Kalau dalam bahasa agama saya biasa disebut dengan khusnudzon. Kurang lebih artinya adalah berbaik sangka/berpikiran positif.

Nah, saya punya pengalaman tentang positif thinking ini. Sebelumnya, tanpa keraguan dan tanpa kemaluan… eh tanpa malu, saya sampaikan ke sampeyan-sampeyan pada bahwasanya saya bukanlah lelaki yang dilahirkan dalam lingkungan yang bertabur uang alias sugih binti kaya raya.

Memang sih, salah satu leluhur saya adalah orang terkaya di zamannya dan di kampungnya. Buyut saya dari pihak almarhum ayah adalah salah satu pedagang kaya. Terbukti dengan banyaknya tanah yang dimiliki oleh buyut saya. Bahkan sampai sekarang, tanah-tanah yang luas itu sebagian besar juga masih dinikmati oleh anak keturunannya. Namun saking banyaknya anak keturunan dan tentu saja kebutuhan, maka warisan kekayaan buyut saya itu tidaklah sebesar pada zaman kejayaan Beliau dulu. Banyak yang dijual dan ditumbuhi bangunan (halah) untuk tempat tinggal.

Dari jalur ibu saya, almarhumah nenek dan almarhum kakek saya alhamdulillah adalah menungsa yang mendapat aliran rezeki yang melimpah. Menurut cerita nenek dan kakek saya, di zaman penjajahan dulu, apalagi ketika penjajahan Jepang, banyak warga kampung saya yang makan minum dan berpakaian seadanya.

Jarang yang mampu membeli nasi, apalagi lauk pauk.

Bahkan banyak dari tetangga kakek dan nenek saya yang memakai karung untuk sekedar menutup aurat mereka. 

Lalu bagaimana dengan keadaan keluarga saya waktu itu? Alhamdulillah kakek dan nenek saya makan nasi dan lauk setiap harinya. Walaupun hanya sekedarnya saja. Dan pakaian Beliau berdua adalah pakaian yang terbuat dari kain, bukan karung. Alhamdulillah. Bahkan kakek dan nenek saya bisa mengecap bangku sekolah di zamannya. Kakek saya bahkan ditawari untuk menjadi guru di zaman Belanda dulu karena sering mendapatkan prestasi waktu sekolah dulu… Tapi beliau tidak berkenan πŸ™‚ 

Walaupun begitu, keluarga saya bukanlah termasuk kategori keluarga yang kaya raya, ya cukupan- lah gitu. Hehehe…

Lalu bagaimana dengan kehidupan saya dan orang tua saya? Ibu adalah pedagang yang ulet, tentu saja di zamannya (sekarang sudah tidak berjualan lagi). Faktor keturunan kali yak? Soalnya almarhumah nenek dan kakek saya (ibu dan ayah dari ibu saya) adalah juga pedagang dan tipe pekerja keras. 

Sedangkan ayah saya bekerja pada salah satu perusahaan oto bus antar kota dalam provinsi (Terakhir, sebelum Beliau berpulang ke haribaan illahi robbi, bekerja pada PO antar kota dalam provinsi, Purwokerto-Jogjakarta). Beliau adalah awak bus yang jujur.

Secara ekonomi, tentu saja keluarga kami bukanlah golongan borjuis yang necis. Sekadar melanjutkan sekolah saja, keluarga saya harus menjual kambing. Hahahaha…. Serius ini. Itu terjadi ketika saya masuk SMA. Sedangkan ketika saya masuk ke SMP, nenek saya menjual ayam untuk biaya masuk ke SMP nya. Hehehehe…. So, sudah ketahuan kan bagaimana keadaan ekonomi keluarga saya waktu itu. Namun alhamdulillah, ada saja rezeki yang mengalir dari Yang Maha Kuasa ke keluarga kami.

Setamat SMA saya tidak diterima di PTN manapun. Waktu itu ayah saya menyuruh saya untuk kuliah keguruan di salah satu Universitas swasta di Purwokerto, namun saya menolak! Bagaimana tidak menolak, lha wong guru saya saja banyak yang menyarankan saya untuk tidak bekerja menjadi guru. Waktu itu, gaji guru sangat miris…

 Jadi wajarlah jika guru saya justru menyuruh agar saya tidak bekerja menjadi guru. Kalau bisa menjadi karyawan perusahaan besar saja. Biar mapan katanya. Kalau tidak ya jadilah pengusaha. Karena salah satu takdir pengusaha adalah KAYA RAYA.

Oleh karena itulah, sewaktu saya mengikuti UMPTN dulu, saya mengambil jurusan Ekonomi dan Komunikasi. Kenapa saya memilih jurusan itu? Karena cita-cita saya waktu itu hanya dua, kalau tidak menjadi manajer ya jadi wartawan. Heuheuheu….

Alhasil kedua pilihan itu tak ada yang lolos sensor πŸ™‚

Makanya almarhum ayah menyuruh saya untuk kuliah keguruan πŸ™‚

Tekad sudah bulat, saya tidak mau menjadi guru.
 TITIK!

Akhirnya saya berniat untuk mengikuti seleksi UMPTN di tahun depannya lagi. Sembari menunggu tahun depan, saya mengambil kursus setara Diploma satu di salah satu sentra pendidikan bisnis di Purwokerto. 

Setelah menyelesaikan kursus saya tersebut, ternyata cita-cita saya berubah lagi. Tidak ingin menjadi manajer ataupun wartawan, tapi menjadi entrepreneur! 

Bukan tanpa sebab, sebabnya ya karena kursus yang setahun itu. Gemana tidak bercita-cita menjadi entrepreneur, lha wong setiap masuk kelas, instrukturnya selalu bilang seperti ini,
” Jika Anda sudah masuk di kelas ini, maka Anda bukanlah mahasiswa maupun karyawan. Anda adalah para pengusaha yang sedang menjalankan bisnis besar. Camkan itu!” #jlebz….

Gayungpun bersambut…. Setelah saya menyelesaikan program diploma satu tersebut, ada salah satu instruktur saya yang mengajak saya untuk mendirikan CV. Tanpa babi-bu apalagi gajah-bu, saya langsung join dengan instruktur saya tersebut. Saya hutang gaes ke bank… HUTANG!!!

Akhirnya perusahaan saya itu BANGKRUT hanya dalam waktu hitungan bulan. 

Marah, stress, bingung dan perasaan negatif lainnya bercampur padu menggempur jiwa saya saat itu…
Apalagi ketika itu wanita yang saya cintai jadian sama lelaki lain….
#Kamfret banget hidup gue!

Setelah kebangkrutan itu, saya bekerja apa saja. Sesungguhnya ayah saya menyuruh saya untuk kuliah. Tapi saya tidak mau menyusahkan lagi untuk kesekian kalinya. Tanggungan di bank saja akhirnya ayah dan ibu saya yang ikut melunasi πŸ™

Saya bekerja apa saja, mulai dari kuli batu bata, kuli pasir,jualan jamu pace, hingga jualan produk kecantikan.

Semuanya mengesankan, tapi yang paling mengesankan adalah ketika jualan jamu pace/mengkudu dan jualan produk kecantikan. Jalan kaki men!

Pernah saya keliling dalam kota Purwokerto. Sehari penuh gaes…. dan hasilnya NOL! Hahahaha….
#hasyuuu….

Selain tak berpengalaman, waktu itu memang saya tak cukup lihai menjual kata-kata persuasif. Ah… sudahlah…

Hingga suatu saat, ketika saya bersama sepupu saya sedang bekerja menjadi kuli pasir, tiba-tiba saja saya berkata kepada sepupu saya, ” Tol, suatu hari nanti, saya pasti akan kerja kantoran!”

Lantas apa kata sepupu saya….” Sakarepmu! Wong edan!…” 

Hahahaaa…. lantas kamipun tertawa bersama…

Kalian tahu gaes kenapa saya berani berkata seperti itu?
Yupz, karena saya yakin seyakin yakinnya bahwasanya Tuhan adalah Maha Adil. Tidak mungkin Dia mengingkari janji-Nya. Janji bahwasanya Ia akan meninggikan beberapa derajat bagi hamba-Nya yang berilmu dan beriman.

Bukannya saya sombong, tapi bagaimana mungkin orang berpendidikan seperti saya (walaupun cuman kursus setara D1) akan dikasih pekerjaan yang menyusahkan. Bukannya saya menghina teman-teman yang berprofesi sebagai kuli, saya hanya berpikiran positif, khusnudzon sama janji ALLAH SWT…. Apalagi waktu itu saya kondisi tubuh saya sering sakit-sakitan. So, mana mungkin Tuhan akan merepotkan saya? Ndak bingit lah…. Begitu gumam saya dalam hati.

Beberapa tahun setelah itu, akhirnya saya bekerja disini. Bekerja dalam ruangan ber AC. Dan sepupu saya yang waktu itu nguli pasir sama saya, sekarang bekerja sama dengan saya dalam bisnis jual beli sepeda motor dan pakaian distro saya πŸ™‚

Pikiran-pikiran positif selalu saya bangun ketika saya masih dalam fase hidup “susah” ketika itu. Saya yakin bahwa Tuhan akan memberikan “penghargaan” pada hamba-Nya yang mau berikhtiar.



Jujur, ada sebab lain lagi yang menjadikan saya bekerja disini sekarang…. Suatu saat jika ada kesempatan, akan saya ceritakan πŸ™‚

Intinya POSITIF THINKING terus gaes.  Jangan lupa untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan dan berikhtiar terus tanpa kenal lelah tentunya.

Semoga bermanfaat………







REVIEW BUKU CATATAN HATI IBUNDA (ASMA NADIA, DKK)

Bismillahirrohmaanirrohiim…

Assalamu ‘alaikum wahai penduduk dunia nyata maupun dunia maya…


Pada malam yang dingin dingin empuk ini, kayaknya asyik yak kalau dibawa ngelamun sambil dengerin lagunya Kuburan Band…


“Lupa…lupa lupa lupa lagi cangcutnya!…………….”


Baiklah, kita hilangkan masalah cangcut mengcangcut. Sebenarnya sih tadinya mau ngesposting perihal salah satu karakter lelaki yang sudah tidak asing lagi…. yaitu, MUNAFIK. Hehehe…


Munafik disini bukan berarti…. Ah, sudahlah. Berdasarkan pertimbangan fashion dan tata boga, maka postingan tentang kemunafikan para lelaki tersebut saya masukan kedaftar isi salah satu buku saya yang tentu saja masih dalam tahap penggodokan di papan keyboard. Wekekekek… Jangan lupa untuk beli buku saya yak! Nanti tentunya kalau udah terbit di ufuk timur sono πŸ™‚


Baiklah, kembali ke topik. Malam hari ini saya akan mereview buku yang ditulis oleh Asma Nadia dan kawan kawan ( Sofie Dewayani, Nadhira Khalid, Mariskova, Tria Barmawi, Bebu Haryanti Dewi, Novia Syahidah, Siska Susantrin, Sinta Yudisia, Okti Fitriana, Linda Nurhayati, Reni Nurul Aeni, Alifadha Pradana, Esti Handayani, Sari Meutia). Judul buku tersebut adalah CATATAN HATI IBUNDA.


Wah, banyak juga yo penulisnya? Yupz, namanya juga dkk alias dan kawan kawan. Jadinya ya rombongan kek gitu dong ah πŸ™‚


Dari judulnya kelihatan kalau buku ini adalah catatan hati pendekar syair berdarah… Halah!!!


Tentu saja buku CATATAN HATI IBUNDA ini adalah buku yang berhubungan dengan dunianya para ibu πŸ™‚


“Kalau berhubungan dengan dunianya para ibu, kok mas Darsono bisa-bisanya dan mau-maunya ngebaca buku ini? Udah berubah jenis kelamin mas?”


“KAYAKNYA SIH IYA!” Mbuehehhee…….


Ceritanya begini… Setiap beberapa bulan kan ada pembaruan buku di Perpustakaan sekolah. Nah, setiap datang, buku-buku baru tersebut harus mampir dulu ke ruang tata usaha untuk dimasukan ke daftar inventaris barang. Nah… Pas buku itu dikeluarkan dari dus, tiba-tiba saja mata saya tertuju kepada nama pengarangnya, ASMA NADIA.


Siapa sih yang tak mengenal ASMA NADIA? emangnya sampeyan…. Kodok dipelataran rumahku saja tidak kenal kok sama sampeyan? heuheueheu….


So, secepat kilat saya ambil itu buku sebelum terbang ke perpustakaan. Hahaha… Jadi kesimpulannya saya baca buku CATATAN HATI IBUNDA ini karena pengarangnya? Oooh tentu bukan… Alasannya adalah;;;; Saya ingin menyelami lebih dalam mengenai perasaan wanita…. SO WHAT GITU LOCH?


Dan benar saja. Ketika saya baru membaca artikel pertama (artikel atau judul yah) yang bertitle A Confession of Terrible mom, seolah-olah saya telah dihipnotis oleh sang penulis (Asma Nadia) menjadi ibu muda yang merasa tak becus menjadi ibu… Hadeuh….


Pada cerita itu dikisahkan tentang seorang ibu muda yang merasa bahwa dirinya bukanlah ibu yang perfect. Tak bisa masak masakan enak, panikan, seringnya bengong melihat keadaan rumah yang kayak kapal pecah, dan banyak menawarnya kepada pasangan.


Wah jujur, saya merasa menjadi perempuan ini. Maksudnya, betapa saya merasakan ternyata menjadi wanita itu tidaklah semudah yang dibayangkan.


Sekedar memasak masakan enakpun tidaklah semudah dan seenak yang memakannya πŸ™‚


Emangnya elu…. langsung caplok saja terus bilang…. Mak nyuzzz!!!


Apalagi yang ini nih, soal tawar menawar. Sebagai perempuan kadang banyak yang merasa bahwa setiap perkataan, himbauan, dan nasihat pasangan harus langsung kita anggukan dan siap 86! Padahal sih dalam hati si wanita kadang ada yang mengganjal bahkan kadang tidak setuju. Hmmm…. so complicated.


Itu baru beberapa contoh. Pokoknya, saya benar-benar merasa terhipnotis menjadi wanita ini. Hahahaha….


Menginjak ke tulisan kedua, tulisan yang ditulis oleh Sofie Dewayani dengan judul BUKAN DERET ANGKA, semakin mengokohkan diri ini bahwa menjadi ibu itu bukanlah sesuatu yag mudah.


Terkadang harus berakting seolah-olah semuanya serba beres dan serba good bahkan best di depan anak-anak. Padahal sesungguhnya sang ibu sedang berbohong dengan harapan agar anak-anaknya menjadi anak yang perfect. Tapi pada akhirnya, justru anaklah yang sering berbohong pada kita tanpa sungkan-sungkan. Anak adalah cermin… Begitu salah satu sub bab pada tulisan ini.


Ah, sungguh jika kalian wahai kaum lelaki membaca buku ini, maka perasaan kalian dijamin berubah drastis satu derajat, eh! Pokoknya dijamin berubah dech. Kalau tidak berubah, berarti tak ada Superman dan Super dede di negara ini πŸ™‚


Buku yang berisi tentang seabrek perasaan dan masalah-masalah seputar ibu dan perempuan ini menurut saya tergolong buku yang ampuh buat mengobrak abrik perasaan lelaki seperti saya ini. (Jangan beli yooo!) halah….


Buku yang menceritakan ujian dan tantangan yang mengintip hari-hari seorang ibu ini, konon merupakan kumpulan kisah nyata, Gemana ndak sadis wong isinya tentang rasa sakit, kekuatan, momen-momen indah bersama anak, momen-momen indah bersama pasangan, kecemasan, hingga kehilangan dan ajal.


Tulisan yang dikemas secara menarik ini sungguh menyentuh hati. Baru baca satu artikel saja, saya jamin kamu para lelaki akan geleng-geleng kumis karena kebakaran celana. Tata bahasa yang wow banget bakalan bikin kamu terhasut-hasut deh… Salut buat semua penulis di buku CATATAN HATI IBUNDA ini… Kalian berhasil meruntuhkan hati aku… Arghhh….


Kalimat sederhana dan mudah dimengerti merupakan salah satu ciri tulisan di buku ini. Selain itu, tulisannya sangat renyah buat dibaca. Apakah karena editornya? entahlah… Tapi yang jelas, beberapa dari penulis ini (Novia Syahidah dan Sinta yudisia) bukanlah nama yang asing di mata dan telinga saya. Sejak tahun 2001 saya berlangganan salah satu majalah yang berisi berbagai cerpen. Yupz, majalah Annida πŸ™‚ 


Kedua penulis itu pernah dibahas di majalah itu. Dan sepengetahuan saya, gaya tulisan mereka memang seperti apa yang ada pada buku CATATAN HATI IBUNDA ini πŸ™‚

Buku dengan tebal 304 halaman ini sungguh mampu menghadirkan beragam inspirasi. Saya pikir buku ini recommended sekali buat i

bu-ibu untuk meng upgrade diri menjadi seorang ibu yang shalihah, kuat, dan smart πŸ™‚

Bagi yang belum menikah, buku CATATAN HATI IBUNDA ini juga saya rekomendasikan ke kalian agar kalian wahai calon ibu mempunyai bekal terutama kekuatan mental untuk menapaki kehidupan pada jenjang berikutnya, menjadi seorang isteri dan ibu tentunya.


Buat kalian wahai lelaki jalang, buku ini saya rekomendasikan ke kalian agar kalian makin sayang sama isteri, makin paham bahwa menjadi ibu itu bukanlah sesuatu yang mudah, makin perhatian dan makin banyak kasih duit tentunya. Haahahaha….


Oh ya, di dalam buku ini juga disematkan hadits-hadits yang bermanfaat sebagai motivasi buat para pembacanya. Ciamik deh bukunya. So, tunggu apalagi…. buruan beli bukunya !!!!




Wassalaamu ‘alaikum wr.wb



Teluk Penyu Cilacap

Selamat siang wahai kisanak dan nyisanak. Sudahkah kalian mandi di pagi tadi? Jika belum, silahkan makan pagi dulu. Setelah itu, tidur lagi… Puas-puasin dech bau badan kalian… Mbuehehehe….

Entah sudah keberapa kalinya saya ke sini, Teluk Penyu Cilacap. Saking seringnya ke Teluk Penyu ini, saya benar-benar lupa sudah keberapa kalinya. Tidak membosankan! Begitu kalimat yang tepat untuk menggambarkan kesyahduan teluk ini.

Tahun 2014 … kala masih ganteng… tentu saja dilihat dari jarak segini… mbuehehehe….

Teluk Penyu ini berada di kabupaten Cilacap. Ombaknya yang tenang dan tentu saja kulinernya yang ciamik menjadi andalan teluk ini.

Lupa tahun berapa ini…. yang jelas saya yang lagi merem itu….  kampret pisan yang moto gue…. dasar!!!

Selain itu, kalau kalian pengen lihat pulau yang penuh kematian (karena biasa dijadikan tempat mengeksekusi narapidana sejak zaman Belanda) silahkan naik saja perahu untuk menuju pulau Nusakambangan. Murah kok… Dan bisa ditawar tentunya. Sekedar bocoran saja, biasanya kalau mereka melihat calon penumpangnya pakai mobil bagus, akan dikasih tarif tinggi. Naiklah becak kesana! Hahahaha…, Ya itu sih hasil dari pengalaman saya dan bisik-bisik beberapa pengemudi kapal yang mengangkut saya ke Nusakambangan beberapa tahun yang lalu.

Oh ya, sebenarnya banyak sekali obyek wisata pantai yang ada di kabupaten Cilacap ini. Disamping teluk penyu, ada juga pantai Widara Payung dan Pantai Bunton yang terkenal dengan ombaknya yang besar.

Sekedar saran, jika kalian berniat melakukan petualangan wisata pantai, jalur pantai selatan ini memiliki beberapa pantai yang menawan.

Pantai selatan dari jalur Cilacap sampai ke Kebumen, bahkan kalau diteruskan sampai ke daerah Jogjakarta Hadiningrat, merupakan deretan pantai yang indah. Bagi bikers yang hobby touring, biasa dicoba lho… Jalurnya keren broh!

Berikut beberapa momen ketika saya dan teman-teman pendekar lainnya berkunjung ke Teluk Penyu Cilacap. Photo diambil acak adri tahun berapa ke tahun berapa… ah..lupa pokoknya… Maklum, anak ganteng… Wkwkwkwkk…

WATU GAJAH

Selamat malam wahai penduduk yang sedang kehujanan πŸ™‚

Kali ini, saya akan berjuang dengan penuh cinta untuk mengenalkan suatu tempat yang menurut saya easy going banget (apa pula itu).

Nama tempatnya adalah Watu Gajah. Dalam bahasa Indonesia berarti batu gajah (Watu=batu, Gajah = Gajah).

Pada minggu kemarin saya bersama tim advokasi (halah), saya bersama anggota Dewan Penggalang RAMA SPENDA berkunjung kesana. Tempat yang indah dan tidak terlalu jauh dari pangkalan kami menjadi salah satu alasan kesana. Selain itu, musim hujan memungkinkan adanya penampakan pelangi. Nah, kalau pelangi muncul biasanya banyak paman-paman pada mandi di sendang bukit sana. Wkwkwkwk…

Oh ya, obyek Watu Gajah berada di perbukitan antara Kalisadang-Gerduren-Tunjung. Sebuah perbukitan yang berada di wilayah 3 Desa (Gentawangi, Tunjung dan Gerduren). Tiga wilayah tersebut berada di Kecamatan Jatilawang dan Purwojati Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Secara, Watu Gajah ini belum dimasukan sebagai kawasan wisata resmi di Banyumas. Watu Gajah ini hanya diketahui oleh warga sekitar saja. Dan masih sepi pengunjung. Paling para pencari rumput dan petani sekitar yang biasa beristirahat disekitar watu itu. Siapa tahu, dengan muncul di blog ini, Watu Gajah bakalan jadi objek wisata resmi di kabupaten Banyumas ini. Mbuehehe…

Bukan tanpa alasan, kan sudah ada objek wisata berupa batu yang sudah terkenal sebelum Watu Gajah ini. Namanya Watu Meja. Silahkan kalian searching di google saja yah mengenai wisata Watu Meja ini πŸ™‚

Dinamakan watu gajah karena watunya emang segede celeng, eh gajah lah tentunya πŸ™‚

Berikut perjalanan ke watu gajah.

Dari SMP Negeri 2 Jatilawang kami berjalan ke arah utara (Kalisadang dan Tunjung melewati jalan setapak dan arel persawahan).

Untuk menyingkat waktu, kami melewati pekuburan china (Bong China).

Berikut beberapa jepretan saya ketika melewati bong China.

Setelah melewati bong china, trek berikutnya adalah jalan setapak yang menanjak tentunya. Ya namanya juga naik-naik ke puncak bukit πŸ™‚

Baru berjalan sekitar setengah jam, tak terasa keringat dan air liur lelaki ini keluar juga. Ah, kasihan banget ini anak. Mari kita lihat penampakannya dari belakang. Untuk kepentingan investigasi, photo sengaja dibuat miring. Wkwkwkwk.
Ini photo Gueeeee!!!!!

Wah, ternyata lelaki itu adalah saya saudara-saudara. Hmmm… Maklumlah, selain sudah tampan, pendakian ini adalah pendakian yang terasa lama bagi saya. Padahal tingginya cuma seiprit saja alias gak tinggi-tinggi amat.

Mungkin karena saya sudah lama tak mendaki bukit kali yak. Terakhir melakukan pendakian, pada Desember 2006. Itu adalah pendakian terakhir saya. Waktu itu saya dan beberapa teman saya naik ke Gunung Slamet. Ahhh… Rindu kalian wahai temans….
Baiklah, kita lanjutkan lagi…………
Ternyata, yang mengalami kelelahan bukan hanya saya saja. Beberapa riders juga kecapekan… Wkwkwkk…
Jadilah kami beristirahat sembari menikmati keindahan alam Jatilawang dari bukit Kalisadang. Photo-photo euyyy……
Menara masjid Baabul Qudus Alun-alun Jatilawang dilihat dari bukit Kalisadang

Setelah kurang lebih 15 menit beristirahat, sampailah kami di Watu Gajah. Tapi apa yang terjadi saudara-saudara? Ternyata batunya tertutup rerimbunan semak belukar… Ah, sayang sekali. Mungkin karena musim hujan sehingga banyak tumbuhan perdu di Watu Gajah.

Watu Gajah tampak dari sebelah selatan… Itu lho yang tertutup semacam tumbuhan perdu πŸ™‚ seperti gundukan tanah yang tinggi πŸ™‚

Kecewa? Tidak juga sich…. Bagaimanapun juga perjalanan ke watu gajah ini sangat menyenangkan. Disamping cuaca sejuk, pemandangannya juga oke punya. Dari pada mandangin wajah elu! *huek!!!

Setelah tiba disana, kebetulan sekali ada tempat peristirahatan. Sebuah gubuk baru rupanya. Kembali kami menghabiskan waktu disana sembari mendengarkan lantunan lagu-lagu alam…. Suara burung kencing oy! Mbuehehe…

Sedang asyik-asyiknya menikmati suasana alam di watu gajah, tiba-tiba saja terdengar suara geledek menggelegar, Gerimispun turun perlahan. Lupakan sejenak cerita tentang biadadari dan pelangi, lha wong ini banyak anak orang yang kami bawa kesana, akhirnya demi keselamatan kami memutuskan untuk turun ke bawah. Kembali lagi ke pangkalan SMP Negeri 2 Jatilawang.
Eh, ada kisah lucu lho dibalik perjalanan kami kesana. Ceritanya, geng rempong (anak-anak penegak dari SMA Jatilawang yang merupakan alumni SMP Negeri 2 Jatilawang) hendak menyusul kami ke watu gajah. Tapi mereka TERSESAT saudara-saudara! Hahahaa….
Untung saja mereka tidak tersesat dihatiku! Eh tersesat di hutan… Masih di perkampungan tersesatnya So akhirnya kami bertemu mereka ketika kami sudah berada di lingkungan perkampungan ketika pulang.
Seperti biasa, namanya juga geng rempong, walaupun mereka terlihat capek, masih sempat–sempatnya photo-photo dikala hujan tiba dan bermain bola di lapangan sekolah….Hadeuhhh…
Beginilah penampakan mereka.

Sampai jumpa di petualangan berikutnya πŸ™‚