BUZZER

Posted on

Selamat malem sob 🙂

Bagaimana kabar kalian di malam yang gerimis ini? Menderita? Ah..sudahlah… Hidup di dunia ini hanya sekali.Selebihnya, kita akan hidup di dunia keabadian. So, bersedih boleh, tapi jangan terlalu lama. Nanti rugi sendiri. Hehehe.

Ramai. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan di televisi-televisi, koran-koran dan di media-media sosial lainnya.

Ramai yang bukan tanpa sebab tentu saja. Kalau boleh saya pilah nih, keramaian yang teramat ramai itu diantaranya adalah PILKADA DKI dan AKSI DAMAI 212.

Lihatlah di trending topik twitter, hampir setiap hari trending topiknya tak jauh-jauh dari itu. Di televisi apalagi. Bahkan di hari ini saja , ada salah satu televisi swasta nasional yang secara beruntun, dari pagi sampai sore menyiarkan berita yang itu-itu saja. Membosankan 🙂

Tapi namanya juga televisi swasta… Selain beritanya harus yang ramai-ramai, berita yang ditayangkan juga harus layak dan bisa dijual. Kalau tidak, mau dapat iklan dari mana? Mbuehehe…

Yang menarik lagi, hampir disetiap peristiwa-peristiwa yang ramai itu ada celah pekerjaan yang dapat menghasilkan duit banyak. Coba tebak? Pekerjaan apakah itu?

BUZZER!

Yupz, buzzer…  Kalian tahu kan pekerjaan yang satu ini? Pokoknya, enak ndak enak, suka ndak suka, buzzer adalah sosok yang hampir dikatakan senantiasa harus diadakan. Terpaksanya sekali, harus diada-adakan.

Yupz, buzzer dan pemodal yang membayarnya ibarat dua sisi mata uang. Saling terhubung dan saling menguntungkan.

Beberapa malam yang lalu, ada salah seorang buzzer yang diundang oleh salah satu televisi swasta nasional. Konon, bayarannya mencapai puluhan juta rupiah… WOW!

Bisa saja mereka mendapatkan lebih dari itu. Wong yang namanya buzzer itu ibarat intelejen yang kelihatan, tapi ndak juga kelihatan. Wah, maksudnya apa? Yaaa gituuu dech 😉

See also  HASIL PANEN MENURUN, INI REAKSI PARA PETANI DI KAMPUNGKU

Munculnya hatter dan loverer yang secara tiba-tiba akhir-akhir ini juga tak lepas dari peran para buzzer. Jadi, biar bagaimanapun juga, sebenci-bencinya kita terhadap hatter, toh mereka manusia juga. Butuh makan dan butuh uang… Jangan dibenci yah? Mbuehehe…

Nah, untuk mengakhiri postingan ini… Biarpun dimana-mana lagi kelihatannya ramai, toh di kampungku sini adem ayem tentrem marem 🙂

Memang pemandangan yang ramai itu terlihat di televisi, namun bagi kami yang orang kampung, keramaian itu masih kalah ramai dengan menonton pertandingan AFF secara beramai-ramai di warung sederhana sebelah rumahku. Biar cuman kacang sama segelas kopi, toh masih ada sisi keceriaan di hati kami. Keep calm gaes.…  Hahaha…

Wassalam…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *