DEAR DAD

“Ayah…… Papah temanku membiarkan nyamuk menggigit tangannya sampai kenyang agar tidak menggigit anaknya. Apakah ayah juga akan melakukan hal yg sama ?”
Sang ayah tertawa : “Tidak! Tetapi ayah akan mengejar setiap nyamuk sepanjang malam agar tidak sempat menggigit siapapun, termasuk kamu nak…”
“Oh iya yah… Kubaca tentang seorang ayah yg rela tidak makan agar anak-anaknya bisa makan kenyang. Akankah ayah akan melakukan hal yg sama ?”
Dengan tegas sang ayah menjawab, “Ayah akan kerja keras agar kita semua bisa makan kenyang & kamu tidak harus sulit menelan karena melihat ayah menahan lapar”.

 

Si anak tersenyum…:

 

“Aku bisa selalu bersandar padamu ayah!”
Sambil memeluk anaknya, sang ayah berkata : “Tidak Nak !. Tetapi ayah akan mengajarimu berdiri kokoh di atas kakimu sendiri agar tidak harus jatuh tersungkur ketika suatu saat nanti ayah harus pergi meninggalkanmu!”
Sang anakpun membalas pelukan hangat ayahnya sembari berbisik kecil, “Aku sayang ayah…..”
 
 
 
Begitulah seharusnya sang ayah, ia tidak hanya memapah, menuntun dan menunjukan, akan tetapi juga menguatkan.
Masih terngiang dalam ingatan saya ketika almarhum ayah begitu getolnya memberikan semangat kepada saya. Melalui cara-caranya yang mungkin terlihat kejam. Tapi setelah kepergian Beliau pada malam 21 Ramadhan, 5 tahun yang lalu, betapa nasihat-nasihat dan cara-cara mendidik Beliau yang “kejam” itu ternyata membuahkan hasil.
Sebagai anak pertama, saya harus bisa menggantikan posisi almarhum ayah. Dengan dua adik perempuan dan tiga keponakan serta ibu yang kami sayangi, betapa saya harus berdiri kokoh untuk bisa membahagiakan mereka.
Oh ya, salah satu hal yang paling sering diajarkan oleh almarhum ayah adalah tentang kemandirian. Sedari SD hingga saya kuliah, saya selalu mendaftar tanpa ayah maupun ibu. Latihan mandiri dan berani. Begitu ucap almarhum ayah ketika itu.
Ketika mereka-mereka banyak yang ditemani untuk mendaftar ke sekolah, saya dengan gagahnya datang tanpa orang tua.
Bukan itu saja, ketika ada beberapa teman yang “titip” ke salah satu guru di tempat saya mendaftar sekolah, ayah saya kekeuh untuk tidak “main mata” dengan guru maupun karyawan yang notabene masih saudara untuk titip agar saya diterima di sekolah tersebut.
Ayah saya berkata, “Sudahlah ndak usah titip-titipan. Kalau kamu diterima ya syukuri. Kalau tidak, sekolah di tempat lain!”
Masih banyak tauladan lainnya yang ayah berikan untuk saya.
Terima kasih pa….
Allohummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fuanhu… Wab ;alil jannata matswahu… Amiin…
*rindu bapak ;(

Nak….. (Teruntuk anak lelakiku, Al)

Nak, tahukah kau… hidup ayahmu tak seindah yg ayah bayangkan…
Tapi ingat-ingat ini nak, janganlah engkau berhenti dari sesuatu yang bernama “harapan”.
Mungkin ayahmu lemah dan lelah…. Tapi engkau nak… Janganlah menjadi lelaki yg lemah dan lelah dalam menghadapi segala macam cobaan….
Kelak jika ayah tiada, berdirilah engkau sebagai lelaki sejati. Lelaki yg tidak hanya melindungi dirimu saja…Tapi juga melindungi seluruh orang yang ayah cintai.
Nak, jika kelak engkau merindukan ayahmu, sebutlah aku dalam doa-doa kecilmu. Ayah akan hadir bersama jiwamu…
Memelukmu… dan mengecup setiap kesedihan yg ada padamu…
Nak, ingatlah ayahmu dalam sudut-sudut keindahanmu.
Ingatlah ayahmu dalam sudut-sudut kegembiraanmu…
Buanglah jauh-jauh segala hitam ayahmu..
Buanglah jauh-jauh segala lemah ayahmu…
Buanglah jauh-jauh segala pedih ayahmu…
Tetaplah engkau tegar dalam balutan ayat-ayat Tuhan…
Karena disanalah engkau akan temui kebahagiaan…
Nak, tertawalah bersama jiwaku
tersenyumlah bersama kalbuku
Ayah akan senantiasa bersamamu
selamanya……..