MENIKMATI SORE DI KOMPLEKS STASIUN NOTOG

Kompleks Stasiun Notog

Bahagia tak harus mahal. Plesirpun ndak perlu jauh-jauh.
Setidaknya kalimat di atas sudah saya rasakan sendiri prends. Asli!

Bagi kalian, ini adalah berita bagus.
Kok bisa?
Yupz, saya anggap berita bagus karena kalimat yang saya utarakan dan selatankan tadi sudah teruji kebenarannya.

Bahagia tak harus mahal.
Plesirpun ndak perlu jauh-jauh.

Itu artinya, ngirit!
Good news kan bukan kalian. Hahaha….

Saya jadi inget salah satu tulisannya mbah Djiwo, Sang Presiden Jancukers, kurang lebihnya seperti ini.

Anak atau isteri kalian bisa jadi tidak ingin plesiran ke tempat jauh dengan biaya yang mahal. Cukup di rumah, nonton tivi atau bercengkrama bersama anggota keluarga, bisa jadi merupakan kebahagiaan yang diinginkan oleh anak isterimu.

Baper ketika saya baca itu.
Jomblo mas? Halah embuhhhh!!!! Hahaha…

Berawal dari perjalanan pulang pergi, suatu waktu saya melintasi jalur perbukitan ketika saya pulang kerja. Berangkatpun kadang melalui jalur itu. Jalur perjalanan yang saya maksud adalah jalur Banyumas-Jatilawang via Desa Karangendhep, Notog.

Jalur perbukitan mulai dari Karangendhep hingga daerah kecamatan Purwojati merupakan keasyikan tersendiir bagi saya. Selain jalunya rada sepi, suasana alam dan pegunungan sungguh mengagumkan.

Mulai dari hamparan sawah nan begitu indah, beberapa kali yang ditunggui batu-batu besar, dan hijaunya perbukitan menjadikan perjalanan melalui jalur itu sungguh memanjakan.

Ternyata bukan hanya saja yang sering melalui jalur itu. Rekan kerja saya juga sering melewati jalur itu. Apalagi kalau bulan puasa… Argh lumayan. Setidaknya mengurangi cacian yang biasa saya lakukan selama melewati jalur normal. Hahaha…

Pokoknya recommended sekali buat teman-teman yang hobi menikmati pesona alam yang bisa saya katakan masih lumayan perawan. Hehehe…

Dan sepengetahuan saya, beberapa jalur tikus di daerah tersebut justru lebih menarik lagi.

Beberapa pecinta motorcross sering menjadikan tempat tersebut sebagai area trabas.

Alam yang indah dan jalur pegunungan yang keren di jalur ini telah menarik banyak orang untuk senantiasa melewatinya. Satu lagi, ceweknya cakep-cakep 😉

Sutu sore saya kembali melalui jalur tersebut. Sampai di palang pintu kereta api, tepatnya di sebelah utara stasiun Notog (Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas) saya melihat banyak sekali orang yang berkumpul disekitar situ.

Kebetulan ada area yang cukup luas. Yupz, area dimana pembangunan double track kereta api belum jua selesai dikerjakan, disitu banyak anak-anak kecil dan orang tua bermain dengan gembira.Setidaknya itulah pengamatan saya.

Ketika kereta api lewat, itu bocah pada teriak-teriak kegirangan.

Bukan hanya bocah kecil dan orang tuanya saja, anak-anak muda yang kece-kece pun banyak yang nongkrong disitu.

Lantas saya berpikir, kayaknya asyik juga menikmati sore di sekitar situ.

Syahdan, akhirnya saya pun berangkat ke tempat tersebut bersama Al (El dan Dul belum lahir). Hahahaha…

Di belakang kami itulah palang pintu kereta api yang saya maksud.
Dan rel kereta api yang kami lalui ini adalah rel yang belum dipakai… So, amanlah buat jalan-jalan.Mo nungging disini juga boleh. Wkwkwkwk…
Nah, stasiun Notog berada di belakang lelaki ganteng inih…
Pemandangan di belakang adalah salah satu view yang bisa kalian nikmati kalau jalan-jalan atau touring ke daerah Notog ini…
Bagaimana saya tidak kesengsem alias jatuh hati untuk tidak melewati jalur ini.
Sayangnya, karena saya kesitu menjelang maghrib, beberapa view tidak sempat saya jepret.
Semoga lain kali saya bisa menjepretnya untuk sekedar saya bagi di blog sederhana ini.
Lantas, apa yang kami rasakan ketika datang ke tempat ini?
Ternyata bahagia lho gaes…
Setidaknya bisa istirahat sejenak dari aktivitas jualan online ku yang mulai ramai di shopee dan bukalapak. Hahaha..
Okey gaes, sekian dulu cerita dari saya.
Catet yah, bahagia itu tidak harus mahal.
Cukuplah engkau menikmati segala “kemewahan” yang tlah diberikan oleh Tuhan.
Salam bahagia 🙂
Cuzzz!!!

SETENGAH TAHUN BERSAMA KLX 150

Setengah tahun bersama Kawasaki KLX 150 G

Tak terasa, di Maret ini sudah setengah tahun bersama tunggangan baru saya Kawasaki KLX 150.

Sudah banyak cerita tentang kebersamaan ini. Mulai dari touring, travelling/wisata, nganter pesanan jaket berkodi-kodi, hingga jalan-jalan ke mall makai motor ini juga.

Untuk urusan perjalanan kerja, tentu saja motor ini sahabat setia. Lah wong saat ini saya cuman punya motor itu doang.

Alasan kenapa saya memakai Kawasaki KLX 150

Lupakan sendal jepitnya….   Belom mandi guah!!!

Sebagai orang yang tiap hari  hilir mudik di jalan dengan berbagai kesibukan, salah satu hal yang saya cari adalah kenyamanan.

Bayangkan bro, tiap hari jarak yang musti saya tempuh 100 kilometer, bahkan kadang beberapa kali lipatnya.

Yupz, selain sebagai tenaga honorer di salah satu sekolah negeri di Banyumas, saya juga berprofesi sebagai marketing mesin pertamini digitsl dan terkadang menjadi kurir untuk barang jualan sendiri. Hahaha….

Bagi kalian yang hidup di daerah kayak saya, pastilah tahu bagaimana kondisi jalanannya.

Jujur, jika kondisi jalan mulus lus, saya lebih suka mengendarai motor matic 😉

Jarak yang jauh dan kondisi jalan-lah yang menjadi alasan bagi saya untuk lebih memilih kawasaki KLX menjadi tunggangan keseharian saya.

Kebetulan saya pernah membaca kolom forum pada salah satu blog motor, kalau ndak salah punyanya cak Iwan Banaran. Disitu ada bro pembaca yang nanya tentang jenis motor yang pas buat pekerja seperti dia yang saban hari menempuh jarak jauh dengan kondisi jalan yang kurang bagus.

Dijawablah oleh pemilik blogger, Kawasaki KLX 150 salah satu solusinya.

Tapi benar juga. Setelah saya memutuskan untuk menggunakan motor ini, selain nyaman di jalan, saya juga merasa sering dilirik sama cewek-cewek cantik. Wekekekeekkkekkek

Dulu saya pernah pakai motor matic, dua kali dengan merek yang berbeda. Selain badan terasa pegal, perut juga sering dikocok-kocok selama melakukan perjalanan. ASELI. Menurut saya, matic tidak pas untuk keseharian saya yang terbiasa melalui jalan panjang nan berliku. Gkgkgkgk…

Tapi enaknya matic, kita ndak perlu kopling, nginjek gigi apalagi nginjek muka sampeyan. Tidakkk!!! Hahaha…

Tapi untuk jalanan sekelas jalan yang biasa saya lalui, sungguh menyiksa diri jika menggunakan matic standard. Ndak tahu kalau makek matic yang bongsor, N-Max misalnya 🙂

Jalan rusak, bergelombang, banyak lobang adalah kondisi yang biasa saya temui. Sebelum mennggunakan KLX, saya juga memakai motor cub alias motor bebek. Rada mendingan sih dibanding matic,

Hanya saja, getaran masih begitu terasa ketika melintasi jalan yang tidak rata, apalagi berlubang.

Jika lubang adalah salah satu musuh utama yang sebisa mungkin harus dihindari motor matic, bagi pengguna motor bebek, lobang ini bisa membikin rusak velg dan juga membikin rambut kita acak-acakan. Mbuehehhee….

Sedikit pengalaman tentang motor matic. Jika ada lobang, apalagi lobangnya gede kayak gajah bengkak, plis hindari sebisa mungkin. Sudah beberapa teman saya yang menjadi korban akibat menunggangi motor matic dan akhirnya mengalami kecelakaan parah, bahkan ada yang sampai tewas dikarenakan terlempar dari motornya ketika matic yang ia tunggangi masuk ke dalam lobang…
CATAT, HINDARI LOBANG SEKUAT MUNGKIN.

Selalu awas dan waspada jika kalian menggunakan motor matic di jalanan yang tidak rata. Pokoknya kudu ekstra hati-hati, apalagi kalau sedang berjalan di belakang kendaraan besar seperti bus atau tronton. Kudu waspada!

Lanjut cerita setengah tahun bersama KLX nya….

Ada yang bertanya ke saya, “Mas, sudah ikut trabas atau belum?”

Saya langsung jawab diplomatis, kapan-kapan. Hehehe.

Kawasaki KLX 150 ini memang identik dengan motor trabas. Oleh karena itulah, saya mengganti beberapa komponen seperti velg dan ban orisinilnya. Lha wong saya ndak suka trabas kok.

Saya memilih motor ini karena kenyamanannya saja. Jadilah saya ubah KLX 150 ini menjadi sepermoto macam D-Tracker 🙂

KLX 150 tersebut saya modif sedemikian rupa.

Kenapa sedemikian rupa?
Karena juga untuk menyesuaikan tinggi badan saya yang ndak nyampe 160 cm. Hahahaha…

Dan sekali lagi, di bulan yang ke-6 bersama KLX ini, saya sudah merasa nyaman.

Apakah akan berganti motor lagi? Bisa jadi nambah. Soalnya kalau belanja rada repot pakai motor KLX ini. Hahahaha…

Terima kasih KLX 🙂