CAWET

Assalaamu ‘alaikum wr.wb.

Selamat sore warga….

Sebelumnya saya minta duit yang sebanyak-banyaknya karena judul postingan kali ini agak sedikit vulgar, “CAWET” alias celana dalam. Nah, biar ndak penasaran cawetnya mau diapain atau cawetnya seperti apa, yuuk langsung saja kita ke Te Ka Pe… Cekidot!

Begini ceritanya….

Pada suatu siang yang indah, Kemplu (untuk kepentingan tagihan utang, nama saya samarkan) naik angkutan pedesaan/koprades guna membeli beras (kalau di desa saya, istilahnya adalah nempur).

Ya dasar Kemplu, seharusnya-lah sih belinya tadi pagi. Namun gara-gara kesiangan, akhirnya Kemplu nempur pada siang harinya.

“Asem… Gara-gara main gaple sama geng Bodhol!” Begitu gumam kemplu dalam hati.

Semalam Kemplu memang pulang agak pagi. Seperti biasa, sebagai warga yang baik hati setiap malam Minggu-nya dia ronda bersama beberapa temannya yang biasa ia sebut sebagai geng Bodhol. Namun tak seperti malam-malam biasanya, ronda semalam mereka merasa sangat asyik main gaplenya. Akibatnya mereka pulang agak pagi. Padahal biasanya jam 10 saja mereka sudah pulang. Hah? Ronda kok jam 10 pulang? *Maaf, itu bukan urusan saya!

Kembali ke dalam koprades….. Saking panasnya cuaca, butiran demi butiran keringat keluar dari tubuh Kemplu yang bau menyan itu. Apalagi di dalam koprades penuh sesak dengan penumpang. Baik penumpang yang hidup semisal Kemplu, maupun penumpang yang mati semacam beras, sayuran, rinjing, cething,centhong dan barang-barang keperluan lainnya yang biasa digunakan oleh orang-orang di desa.

Saking banyaknya keringat, maka secara sigap si Kemplu mengusap keringat-keringat yang bercucuran di badannya itu.

Namun apa yang terjadi saudar-saudara?

Tiba-tiba saja seluruh manusia yang ada di dalam koprades tertawa dengan kerasnya. Si Kemplu pun jadi bingung… What happen? 

“Kemplu…. Kemplu… Mbok ya kalau mau ngusap keringat pakai sapu tangan! Jangan pakai itu……!”

“Apa” Kemplu balik bertanya….

Oalaah… Ternyata yang dipakai buat ngusap keringatnya si Kemplu bukanlah sapu tangan, akan tetapi CAWET alias celana dalam…

Si Kemplu baru sadar, tadi ketika berangkat mau nempur dia memang tergesa-gesa. Ya maklumlah, kesiangan. Saking tergesa-gesanya dia, bukan sapu tangan yang dia sambar lalu dimasukkan ke saku celana, akan tetapi cawet yang dia ambil. Mending cawet baru. lah ini…. cawet yang sudah usang… Bolong-bolong lagi… Bagaimana tidak diketawain? Hahahaha….

Tapi Kemplu ya Kemplu… Dibalik raut mukanya yang blo-on dan ndak karu-karuan itu, sebenarnyalah Kemplu adalah jenis manusia yang cerdas dengan nilai IQ di atas 15. (?) Maka dengan spontan dan penuh wibawa, si Kemplu bilang begini :

“Ah, dasar manusia dari negeri embuh… Ya beginilah hasil didikan dari sekolah dan tontonan yang menjemukan di negeri ini!”

“Apa maksudmu Plu?” Kali in sang sopir bertanya kepada Kemplu.

“Ya beginilah keadaan secara umum masyarakat kita…. Selalu saja menilai sesuatu dari luarnya saja.. Selalu menilai sesuatu dari yang nampak saja! Ini memang cawet, tapi ini kan adalah juga kain…. Jadi bisa dong aku gunakan untuk mengelap keringatku ini? Iya kan? Apanya yang lucu?”

“Kamu memang gemblung Plu! Sekolah dimana dulu?” Begitu seloroh yu Tukijem, wanita tua yang sudah puluhan tahun dengan setia menjual jamu gendongnya.

Tapi bener juga ya si Kemplu. Rata-rata manusia disini kalau menilai sesuatu terkadang memang dari luarnya saja.

Sangat hormat dan kagum pada orang kaya yang parlente, tutur bahasanya sopan, rajin kasih sumbangan…. Akan tetapi, dia adalah koruptor dan tukang selingkuh! Nah lho…

Sedangkan orang yang urakan, miskin, ngomongnya kasar, sering kali dinilai dengan nilai 3 atau 4, padahal dia adalah orang yang baik.

Sekian cawet dari saya… MANA CAWETMU?

Wassalam…

Night Blue

“Mas, tolong jemput ade. Sepeda motor ade dipakai oleh ibu sore tadi. Jadinya ade tak bisa pulang. Kan sudah tidak ada angkutan umum kalau malam-malam seperti ini  mas. Tolong banget ya mas!”

Begitu membaca pesan singkat di handphone yang sudah mulai buram ini, aku langsung memacu motor matic kesayanganku menuju kota kecil itu. Kota dimana terdapat ribuan cerita tentang aku dan kehidupanku. Ah, namanya juga kota kecil. Jika jarum jam sudah menunjuk ke angka lima, maka mustahil ada angkutan umum yang masih berlalu lalang. Hanya menghambur-hamburkan bensin saja. Di sore seperti itu, mana ada para calon penumpang. Sekali lagi, maklumlah kota kecil.

Selang setengah jam akhirnya aku sampai di tempat kerja wanita pujaanku itu. Kekasih? Belum! Kakak adik? Apalagi itu! Entahlah, aku bingung untuk menamai apa perihal hubungan kami berdua ini.

“Sudah makan mas?”

“Wah, kebetulan belum de! Ade sudah makan?”

Hmm, wanita manis dihadapanku ini hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Baiklah, kita makan yuk de di warung lesehan itu saja!”

Secara otomatis tanganku langsung mengarah pada salah satu warung ayam bakar yang memang sudah biasa kami singgahi. Tanpa panjang kata apalagi panjang ingatan, kami langsung makan di warung itu. Rasa dingin yang mulai bertamu dibadanku seakan hilang dimangsa kehangatan makan malam.

“De, hari sudah mulai malam. Kita harus bergegas.” Begitu selorohku ketika nasi yang ada dihadapanku mulai menghilang. Hehe.

“Iya mas. Perasaanku kok jadi tidak enak yah!”

“Sudahlah de, santai saja. Mungkin karena ade kelelahan karena kerja sampai larut malam seperti ini!”

Brakkk!

“Apa-apaan kau! Pulang selarut ini bersama dia!”

Belum sempat aku berkata-kata, pintu rumah wanita yang kujemput ini hampir saja mengenai wajahku. Pintu yang terbuat dari, ah entahlah kayu apa, ditutup dengan sangat keras oleh ibunya. Persis di depan wajahku. Sekilas, kulihat ada butiran air bening yang mengalir dipipi gadis cantik yang baru saja kujemput ini.

Tidurlah Hen!

Sehabis bertemu denganmu, entah kenapa aku selalu lupa bahwa aku pernah berjumpa denganmu. Aneh? Tidak juga! Karena itu hampir terjadi berulang-ulang.

Sama halnya dengan yang terjadi pada sore tadi, “Kak, tadi malam aku lupa mengembalikan bunga ini padamu!”

Tadi malam? Apa yang terjadi semalam? Bukankah aku tak kemana-mana? Tapi kenapa tadi sore Rara berkata seolah-olah semalam dia berjumpa denganku. Bawa bunga segala. Aku benar-benar heran dibuatnya.

“Hen, apa yang sedang kau pikirkan? Hari sudah menjelang pagi. Tapi kenapa engkau masih belum tidur juga?”

“Mak, apakah semalam aku bepergian keluar rumah? Perasaan aku hanya berbaring disini semalaman. Tolong mak jawab pertanyaanku ini! Aku benar-benar bingung dengan keadaanku saat ini.”

“Kau tidak kemana-mana Hen! Hanya pikiranmu saja yang kemana-mana. Sudahlah, tidur sana! Besok, pagi-pagi sekali kita harus ke rumah sakit lagi. Istirahat sana!”

Ke rumah sakit lagi? Ah, apa-apaan pula ini. Menurutku keadaanku baik-baik saja. Seluruh tubuhku terasa sehat. Bahkan tadi pagi ketika hari masih gelap, aku bisa berlari jauh. Jauh sekali. Benar-benar jauh. Padahal aku sama sekali tak mengenakan selembar pakaianpun.

Rumah sakit? Sakit apa aku ini?

KALI KELUK

Geger kembali terjadi di kampung Sangga. Kali ini, Tosin, berandal kampung Sangga yang terkenal memiliki ajian welut putih ditemukan tewas bersimbah darah. Mayatnya ditemukan di pinggiran kali Keluk. Mengenaskan! Mungkin begitu kalimat yang tepat untuk menggambarkan keadaan mayat si Tosin.

Bagaimana tidak mengenaskan, kepalanya hancur. Seluruh isi kepala si Tosin keluar berhamburan. Lehernya nyaris putus. Lengan sebelah kirinya hilang. Dan bukan itu saja, alat kelamin si Tosin hilang entah kemana.

Seluruh warga yang penasaran berhamburan menuju tepi kali Keluk. Kali yang membelah desa Sangga menjadi dua dukuh itu memang selalu menyimpan misteri. Dan pagi ini, ditepian kali itu, si Tosin ditemukan tewas secara mengenaskan.

“Kang, apa benar dia si Tosin?”

“Iya Ja. Dia memang  Tosin. Gelang yang ia pakai dan tentu saja tatto berbentuk huruf jawa itu tak bisa membohongi kita!”

“Hmmm…. Kira-kira, siapa yang mebunuhnya kang? Atau jangan-jangan….”

“Entahlah Ja… Aku juga bingung. Tosin memang berandal. Dia maling yang selalu lolos dalam setiap buruan. Tapi kali ini… ah, sungguh aneh. Siapa yang bisa membunuhnya? Atau jangan-jangan dia mati sendiri? Hmmmm…”

Suasana semakin ramai saja. Tiba-tiba, dari seberang kali Keluk terlihat lelaki renta menggunakan jubah hitam pekat mendekati mereka. Bukan jubah atau wajah sang lelaki tua itu yang membikin kecut warga yang sedang menyaksikan mayat si Tosin, namun, cara menyeberangi kali itu yang membikin kecut para warga kampung Sangga. Lelaki itu menaiki perahu putih. Perahu yang berjalan sendiri, tanpa bantuan apapun.

Perlahan tapi pasti, lelaki renta itu mulai mendekati kerumunan warga yang sedang mengerubuti mayat si Tosin. Tak satupun kalimat yang keluar dari mulut mereka. Suasana mendadak hening. Dan ditengah keheningan itulah, sang lelaki renta yang menaiki kapal putih itu mengangkat mayat si Tosin. Dimasukkannya mayat si Tosin kedalam perahu putihnya.

Setelah tubuh hancur si Tosin masuk ke perahu, tiba-tiba saja langit di atas desa Sangga berubah hitam. Angin berhembus kencang. Kabut putih mulai menyelimuti sekitar kali Keluk. Bersamaan itu pula, sang lelaki renta bersama perahunya hilang begitu saja. Bak ditelan bumi.

Seluruh warga hanya terperangah. Kali Keluk, kali dengan air yang jernih itu kini berubah merah. Ya, airnya merah. Dan baunya anyir. Anyir seperti darah si Tosin.

“Pergilah kalian! Pergi!”

Suara menggelegar yang muncul dengan tiba-tiba itu menyadarkan warga yang sedari tadi hanya diam. Sontak, mereka lari berhamburan meninggalkan kali Keluk. Kali dengan sejuta misteri. Sampai kini.

MEMBUNUHMU

Gadis berkacamata itu masih saja menyunggingkan senyumnya. Ah, jilbabnya yang anggun mulai mengusik ketentraman hatiku.

Masih seperti kemarin… Aku hanya bisa menatapmu dari balik jeruji kamar ini.

“Siapakah engkau?”

Begitu gumamku dalam hati. Namun apalah artinya pertanyaan tanpa sebuah jawaban. Bukankah itu hanya menyakitkanku saja. Ya, sakit. Sama seperti takdirku yang meringkuk di kamar biadab ini.

“Saudara Bondan, ada yang ingin menemuimu. Silahkan bersiap-bersiap menemui tamumu itu. Oh ya, wajahnya boleh juga!” Sipir bermata sipit ini sepertinya mengejekku. Ah, sudahlah! Tak ada gunanya pula bermusuhan dengan anjing seperti dia.

“Assalaamu alaikum….”

Deg! Ternyata tamuku kali ini adalah gadis itu. Gadis berkaca mata dengan kerudung lebar yang aku curi wajahnya dari jeruji besi itu kemarin pagi.

“Maaf pak. Sedari kemarin saya mencari Bapak. Ketika kemarin saya hendak menemui Bapak, tiba-tiba isteri Bapak menyuruh saya untuk menemuinya terlebih dahulu di kantin penjara ini. Dan Beliau meminta agar hari ini saja saya menemui Anda. Oh ya pak, saya mohon maaf karena belum memperkenalkan diri saya. Nama saya Fatimah. Saya pengacara isteri Bapak. Saya hanya ingin memberitahu Bapak, isteri Bapak, Ibu Nelly, bermaksud mengajukan gugatan cerai pada Bapak. Besok adalah hari dimana Bapak dibebaskan. Saya harap Bapak bisa bekerja sama dengan baik untuk mengurus perihal perceraian Anda dengan ibu Nelly.”

Damn! Gadis muda ini ternyata pengacara isteriku. Besok aku bebas dari penjara sialan ini. Tunggu saja Anthony, aku akan membunuhmu.

Kau tidak hanya menyebabkan aku masuk ke dalam penjara laknat ini. Tapi kau juga telah meninggalkan luka kelelakianku. Perselingkuhanmu dengan isteriku sungguh menyakitkanku. Kini, aku diambang perceraian. Dan membunuhmu adalah satu-satunya cara untuk membahagiakan hidupku. Bersiaplah Anthony!

Inlander

Sungguh, untuk kesekian kalinya aku merasa dibohongi oleh para petinggiku di Holland sana. Hmm, inlander yang ada di depanku ini adalah bukti nyata kalau petinggi-petinggi di negeriku benar-benar pembual.

“Apa yang Tuan pikirkan? Silahkan Tuan ambil nyawa saya ini. Tapi sekali lagi, jawab dulu pertanyaan saya tadi! Apakah tindakan Tuan di tanah kami ini sudah sesuai dengan ajaran Agama Tuan?”
Untuk kesekian kalinya, perkataan inlander ini benar-benar mencabik-cabik jiwaku.
Dia benar, sebagai penganut Kristen, aku memang tidak diajarkan untuk mengambil milik orang lain dengan semena-mena. Walaupun aku merasa bahwa tanah ini adalah milik kami, namun cara kami untuk mendapatkan tanah ini sungguh tak sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada pada ajaran agamaku.
Aku percaya bahwa karena kekuasaan Tuhanlah kami dapat menaklukan negeri ini. Tapi sungguh ironi. Penaklukan yang konon oleh para penguasa di negeriku sana sudah dimulai sejak lama, namun pada hakikatnya penaklukan itu hanyalah pepesan kosong belaka.
Bagaimana dikatakan sudah menaklukan, sedangkan perlawanan demi perlawanan dari inlander seperti orang ini sudah ada sejak dulu kala. Dan sekarang, manusia macam ini masih banyak di tanah perlawanan ini. Bahkan makin banyak sahaja. Hmmm…
Bagaimana mungkin juga dikatakan telah menaklukan ketika hati-hati mereka memberontak di tengah-tengah mulut mereka yang terbungkam. Ah, pembual semua para petinggi di kerajaanku sana!
Dahulu,sebelum aku ditugaskan di tanah ini, mereka bilang kalau inlander-inlander macam itu orang adalah orang-orang bodoh. Nyatanya, ketika aku menginjakkan kakiku di tanah ini, betapa banyak orang-orang yang sudah biasa membaca buku-buku tebal yang aku sendiri tak tahu buku apa waktu itu.
Mereka terbiasa membaca itu di tempat-tempat ibadah mereka. Mereka menyebut tempat itu sebagai langgar. Ada juga yang menyebutnya Mesjid. Biasanya mereka membaca buku tebal itu ketika pagi-pagi sekali dan ketika malam hari. Mereka biasa berkumpul disana. Aku lihat ada salah satu orang yang menurutku sedang memberikan pidato atau apapun itu. Dan mereka yang mendengarnya senantiasa membawa buku tebal. Kadang juga buku tipis.
Bukan di langgar atau mesjid sana aku melihat inlender-inlander itu membaca. Di suatu tempat yang disebut padepokan, aku juga sering melihat anak-anak muda yang biasa disebut dengan cantrik sedang membaca buku tebal. Kusam bukunya. Tapi yang jelas, tak sepenuhnya omongan para penguasa di negeriku sana bisa dipercaya. Mereka para inlander ternyata sudah tak asing lagi dengan tulisan.
Bahkan, mereka memiliki peninggalan-peninggalan budaya yang luar biasa menurutku. Mulai dari alat-alat yang bisa mereka gunakan untuk bercocok tanam, alat-alat dapur dan yang membuatku kagum, ada belasan bangunan yang sudah berusia ribuan tahun masih dengan gagahnya berdiri disini.
Kesimpulanku, mereka para inlander bukanlah bangsa bodoh!
Ah, sungguh sukar dipercaya. Ketika aku bertemu dengan salah satu sahabatku yang berpura-pura menjadi bagian dari mereka, muslim, begitu sebutan mereka, sahabatku yang asli orang Holland ini mengatakan kalau kebiasaan belajar sesungguhnya sudah ada sejak zaman dahulu di tanah ini. Namun para penguasa dan penulis buku di kerajaan kita menutupinya.
“Kau tahu kan kebiasaan para pejabat di kerajaan kita. Mereka inlander! Kita harus memberikan stempel khusus bagi mereka. Bodoh, melarat, bau, terbelakang, dan aneka rupa kejelekan untuk mereka agar kita sebagai penguasa dinilai lebih segalanya di atas mereka!”
“Bagaimana Tuan? Apakah yang Tuan lakukan di negeri ini, merampas tanah kami, merampas makanan-makanan kami, merampas apa saja yang tuan inginkan disini… sudah sesuai dengan ajaran agama yang Tuan anut? Jika Tuan masih belum bisa menjawab pertanyaan saya, cepat tembakan bedil itu ke kepala saya. Mungkin Tuan akan puas setelah membunuh saya. Tapi saya jamin kalau saya lebih puas dibanding Tuan. Lebih baik saya mati dengan pelor di kepala atau di dada saya dari pada saya mati sia-sia di pinggir jalan sana! Hidup mulia menjadi manusia merdeka, atau mati syahid sebagai manusia terhormat adalah kehendak hidup saya!”
Untuk kesekian kalinya aku terhenyak. Tiba-tiba aku sadar kalau aku belum menjawab pertanyaan inlander ini.
Aku hanya bisa menatap wajah lelki muda ini dengan hening. Seketika itu juga, tiba-tiba aku teringat seseorang yang usianya kurang lebih sama dengan anak muda ini. Anakku… Ya, anakku. Sedang apa dia di tanah kelahiranku sana?

PENGUNGSI (BANJIR DARAH DI KAMPUNG JATI)

Malam benar-benar mencekam di kampung Glagah. Penyerangan dan pembunuhan yang dilakukan oleh pasukan Belanda dan antek-antek mereka pada malam sebelumnya benar-benar membuat warga kampung trauma. Bahkan sebagian besar dari mereka sudah mulai mengungsi semenjak pagi tadi.

Dengan dikawal beberapa pemuda kampung yang masih hidup, sebagian warga kampung Glagah diungsikan ke tempat yang lebih aman. Kampung Jati tujuan mereka.

Selama ini kampung Jati adalah kampung yang dianggap paling aman. Entah kekuatan apa yang melindungi kampung itu. Yang jelas, setiap laskar pejuang yang masuk ke kampung itu, dapat dipastikan aman dari tentara-tentara Belanda dan antek-anteknya yang memuakkan itu.

“Kang, sebentar lagi tugas kita selesai. Lihatlah bukit itu! Dibalik bukit itulah tujuan perjalanan kita. Kampung penyelamat, kampung Jati.”

Suara pemuda yang berparas tampan dengan kumis tipis yang membentang lebar itu sedikit memecahkan suasana. Sementara yang diajak berbicara hanya mengangguk saja. Maklumlah, dia adalah lelaki bisu. Lelaki yang tidak bisa berkata-kata lagi. Lelaki dimana setahun yang lalu ditangkap oleh antek-antek Belanda.

Bengis! Begitu mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi lelaki itu ketika tertangkap setahun yang lalu. Yang menyedihkan, orang-orang yang menangkapnya adalah kaum pribumi. Kaum yang seharusnya bersama-sama melawan Belanda, bangsa kejam yang tak berperikemanusiaan. Namun anehnya, justru mereka menjadi anjing-anjing Belanda. Bajingan!

Semenjak penangkapan itu, lelaki paruh baya yang bernama Karsa itu tidak lagi bisa berkata-kata. Lidahnya dikuliti oleh anjing-anjing Belanda yang menangkapnya. Sementara matanya yang satu, dicukil oleh salah satu perwira Belanda yang menginterogasinya. Untunglah, ia bisa melarikan diri. Salah satu pejuang yang dipenjara bersamanya mendadak syahid di tengah malam. Sebelum pejuang itu menemui kesyahidannya, ia memberikan hadiah kepada Karsa berupa jimat. Kantong Macan namanya. Dengan jimat itulah, Karsa berhasil melarikan diri dari bajingan-bajingan itu.

Syahdan, sampailah mereka di kampung Jati. Mendadak, hidung para pemuda dan pengungsi dari kampung Glagah mencium bau aneh. Bau yang sudah tak asing lagi bagi mereka. Bau yang pernah ada di kampung mereka malam tadi. Darah!

Mayat-mayat bergelimpangan disana sini. Tak ada kobaran api ataupun bekas pertempuran di kampung Jati. Namun penghuninya, ah bagaimana dengan penghuninya? Tak satupun dari mereka yang hidup. Semua mati mengenaskan. Usus-usus mereka keluar. Kepala mereka hancur. Semua mayat sama. Sama seperti itu. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Kang, apa yang akan kita lakukan disini?”

Mata para pengungsi itu saling bertabrakan. Tak ada isak, tak ada tangis. Hanya sapuan angin yang menghempas hati mereka yang mulai rapuh. Perlahan… tapi pasti.

Dan tiba-tiba, suara gagak terdengar dari langit yang mulai menghitam. Kelam!

PADA SUATU MALAM DI HUTAN SUATU PULAU

“Syarif, terserah kau sekarang! Yang jelas, aku bukanlah lelaki pengecut yang menembak seseorang tanpa senjata. Aku adalah lelaki yang memiliki harga diri. Dan perjuangankupun ini adalah dalam rangka menegakkan harga diri kami selaku muslim yang selama ini teraniaya. Syarif, aku memang saudaramu. Dan tidak sepantasnyalah kita saling berhadapan seperti ini. Tapi inilah jalan hidupku. Aku tak mungkin mengikutimu, pun sebaliknya. Syarif, aku berharap, diakhirat nanti kita berbagi kebahagiaan bersama. Sama seperti dua puluh tahun yang lalu. Masih ingatkah kau Syarif?”

Aku hanya terpaku mendengar perkataan sahabat baik-ku itu.

Dua puluh tahun yang lalu…..

Ya, dua puluh tahun yang terasa singkat bagi kami.

Aku masih ingat kala terakhir bertemu dengan sahabatku ini. Pagi itu, dengan dihantarkan kedua orang tuaku, aku berpamitan pada guru kami tercinta, almarhum romo kyai Muslim.

Di kediaman Beliaulah terakhir aku bertemu dengan Rusmin, sahabatku itu. Baru dua minggu ia berkhidmat di kediaman romo kyai Muslim.

Aku masih ingat kata-kata perpisahan yang aku ucapkan kepadanya.

“Rus, aku berharap suatu saat nanti kita bertemu dalam suasana yang menggembirakan.”

Ia hanya mengangguk sembari memelukku erat.

Kulihat ada air bening mengalir dalam matanya yang sendu itu. Dekapannya semakin mengguncang.

Tak terasa tangis kamipun berhamburan laksana embun pagi yang membunuh sunyi.

Delapan tahun bersama di pesantren. Delapan tahun dalam bilik yang sama. Suka duka kami rasakan. Dan saat ini kami harus berpisah.

“Syarif! Cepat tembak kepalaku! Aku ingin syahid Syarif! Aku ingin Syahid! Cepat tembak kepalaku Syarif!!!”

Tiba-tiba aku terhenyak demi mendengar kata-kata sahabatku yang perkasa ini.

Kini, kami berhadapan lagi. Dia yang kukenal sebagai Abu Rozak, Imam Pasukan Mujahidin di pulau ini, ternyata adalah Rusmin.

Rusmin, sahabatku terkasih. Sahabat yang dulu merawatku ketika aku terkena busur panah ketika kami latihan dulu di pesantren. Sahabat yang pernah membelaku mati-matian ketika lurah pondok pesantrenku menuduhku sebagai pencuri pakaian di tempat kami nyantri. Sahabat yang pernah….. Ah, Rusmin…… apa yang harus aku lakukan padamu!

Aku hanyalah aparat yang harus taat pada pimpinan. Harus taat pada hukum. Harus taat untuk menjalankan apapun demi negara tercinta.

DORRR!!!

Tiba-tiba tubuhku terhuyung lemas.

Serasa berat sekali kepalaku…. Dan tiba-tiba rasa dingin mulai menghampiriku. Ah, entah dari mana peluru ini bisa menembus dadaku.

“Syarif!  Syarif!……”

Lambat laun ku dengar suara Rusmin, sahabatku terkasih, berteriak histeris memanggil namaku.

Dan kini di hadapanku, ada sosok tinggi besar bersayap. Nafaskupun semakin tersengal…..

LASIH, SANG KEMBANG DESA

Malam semakin larut. Biduan-biduan cantik dari grup organ tunggal yang sedang meramaikan pesta pernikahan itu semakin menggairahkan. Tidak hanya suara saja yang mereka pamerkan. Keseksian gerakan tubuh dan desahan-desahan menggemaskan mereka keluarkan dengan penuh candaan. Tamu undangan dan penonton semakin malas untuk meninggalkan kemeriahan pesta itu.

Sementara itu di kamar pengantin, sang pengantin pria sudah bersiap-siap menunaikan kewajibannya. Senyumnya merekah, matanya tajam seperti singa yang hendak menangkap mangsanya.

Lasih, begitu nama sang mempelai wanita, masih tertegun dihadapan lelaki yang telah dengan sah menikahinya. Tidak seperti sang mempelai lelaki, perasaannya justru berseberangan dengan lelaki yang ada dihadapannya.

Ah, andai dia tahu, ini bukan pertama kalinya aku merasakan keringat lelaki. Dan sebentar lagi mungkin dia tahu. 

Apa yang harus aku lakukan? Apakah dia akan rela menerima keadaanku yang sesungguhnya? Atau… jangan-jangan malam ini menjadi malam terakhir dalam hidupku. Ahhh…. Mati aku…. Begitu batin Lasih berkata.

Lasih, kembang desa yang cantik, kini pulang ke kampungnya. Ia hanya pulang untuk menikah. Tidak ada lagi alasan kepulangannya selain itu. Ia tak pernah ditanya apa pekerjaannya di kota. Bahkan calon suaminya pun tak pernah menanyainya.

Lasih, kembang desa yang baru pulang ke kampungnya, hanyalah penghibur di ibu kota sana. Entah apa yang akan terjadi di malam pertamanya.

THANKS FOR THE MEMORIES

Aku tak tahu, apa lagi yang harus aku lakukan setelah melepasmu pergi. Dahan cemara masih basah waktu itu. Sementara dedaunan limau masih menunggui embun dengan cantiknya. Oh sungguh mengharukan. Tak terasa butiran air jernih menetes di pipi mungilku. Sekali lagi, apa yang harus aku lakukan setelah aku melepas kepergianmu?

Bukit di utara sana berdiri dengan tegarnya. Ingin sekali aku menirunya. Tapi…. bisakah aku?

Seperti merpati yang kehilangan satu sayapnya, begitulah gambaran jiwaku waktu itu. Perlahan namun pasti, kau bunuh sisa-sisa rindu yang terkadang masih menyapaku. Begitu kejamkah dirimu? Dan untuk kesekian kalinya, apa yang harus aku lakukan setelah melepas kepergianmu?

Lukisan wanita yang berjudul “Violet” itu masih menempel di dinding kamarku. Lukisan yang kau berikan sepuluh tahun yang lalu. Lukisan yang kau buat sendiri dengan jari-jari indahmu itu. Masih ingatkah kamu?

Sepasang sapu tangan dengan bordir “hati” ditengahya masih kulihat di almari pakaianku. Sapu tangan yang dulu kau beli dengan keringatmu sendiri. Sapu tangan yang memikat hati siapa saja yang melihatnya. Masih ingatkah kamu?

Sementara di sisi ruangan lain di rumahku, masih saja kulihat bonsai indah yang mulai mengering. Bonsai yang kau bawa sendiri dengan sepeda motor bututmu yang dulu. Masih ingatkah kamu?

Setiap pagi, kicauan kenari masih terdengar dari rumah sebelah. Kicauan yang dulu kau banggakan dengan segenap perkataan manismu. Masih ingatkah kamu?

Ah, terlalu banyak hal yang semestinya aku buang jauh ke telaga sana. Apalagi sekarang, ketika aku melihatmu dipelaminan itu. Pelaminan yang dulu kau harapkan, sekarang terkabul jua. Hanya satu yang membuatku terluka. Sangat terluka…..

Aku…… tak ada disampingnya.