DEAR DAD

“Ayah…… Papah temanku membiarkan nyamuk menggigit tangannya sampai kenyang agar tidak menggigit anaknya. Apakah ayah juga akan melakukan hal yg sama ?”
Sang ayah tertawa : “Tidak! Tetapi ayah akan mengejar setiap nyamuk sepanjang malam agar tidak sempat menggigit siapapun, termasuk kamu nak…”
“Oh iya yah… Kubaca tentang seorang ayah yg rela tidak makan agar anak-anaknya bisa makan kenyang. Akankah ayah akan melakukan hal yg sama ?”
Dengan tegas sang ayah menjawab, “Ayah akan kerja keras agar kita semua bisa makan kenyang & kamu tidak harus sulit menelan karena melihat ayah menahan lapar”.

 

Si anak tersenyum…:

 

“Aku bisa selalu bersandar padamu ayah!”
Sambil memeluk anaknya, sang ayah berkata : “Tidak Nak !. Tetapi ayah akan mengajarimu berdiri kokoh di atas kakimu sendiri agar tidak harus jatuh tersungkur ketika suatu saat nanti ayah harus pergi meninggalkanmu!”
Sang anakpun membalas pelukan hangat ayahnya sembari berbisik kecil, “Aku sayang ayah…..”
 
 
 
Begitulah seharusnya sang ayah, ia tidak hanya memapah, menuntun dan menunjukan, akan tetapi juga menguatkan.
Masih terngiang dalam ingatan saya ketika almarhum ayah begitu getolnya memberikan semangat kepada saya. Melalui cara-caranya yang mungkin terlihat kejam. Tapi setelah kepergian Beliau pada malam 21 Ramadhan, 5 tahun yang lalu, betapa nasihat-nasihat dan cara-cara mendidik Beliau yang “kejam” itu ternyata membuahkan hasil.
Sebagai anak pertama, saya harus bisa menggantikan posisi almarhum ayah. Dengan dua adik perempuan dan tiga keponakan serta ibu yang kami sayangi, betapa saya harus berdiri kokoh untuk bisa membahagiakan mereka.
Oh ya, salah satu hal yang paling sering diajarkan oleh almarhum ayah adalah tentang kemandirian. Sedari SD hingga saya kuliah, saya selalu mendaftar tanpa ayah maupun ibu. Latihan mandiri dan berani. Begitu ucap almarhum ayah ketika itu.
Ketika mereka-mereka banyak yang ditemani untuk mendaftar ke sekolah, saya dengan gagahnya datang tanpa orang tua.
Bukan itu saja, ketika ada beberapa teman yang “titip” ke salah satu guru di tempat saya mendaftar sekolah, ayah saya kekeuh untuk tidak “main mata” dengan guru maupun karyawan yang notabene masih saudara untuk titip agar saya diterima di sekolah tersebut.
Ayah saya berkata, “Sudahlah ndak usah titip-titipan. Kalau kamu diterima ya syukuri. Kalau tidak, sekolah di tempat lain!”
Masih banyak tauladan lainnya yang ayah berikan untuk saya.
Terima kasih pa….
Allohummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fuanhu… Wab ;alil jannata matswahu… Amiin…
*rindu bapak ;(

Nak….. (Teruntuk anak lelakiku, Al)

Nak, tahukah kau… hidup ayahmu tak seindah yg ayah bayangkan…
Tapi ingat-ingat ini nak, janganlah engkau berhenti dari sesuatu yang bernama “harapan”.
Mungkin ayahmu lemah dan lelah…. Tapi engkau nak… Janganlah menjadi lelaki yg lemah dan lelah dalam menghadapi segala macam cobaan….
Kelak jika ayah tiada, berdirilah engkau sebagai lelaki sejati. Lelaki yg tidak hanya melindungi dirimu saja…Tapi juga melindungi seluruh orang yang ayah cintai.
Nak, jika kelak engkau merindukan ayahmu, sebutlah aku dalam doa-doa kecilmu. Ayah akan hadir bersama jiwamu…
Memelukmu… dan mengecup setiap kesedihan yg ada padamu…
Nak, ingatlah ayahmu dalam sudut-sudut keindahanmu.
Ingatlah ayahmu dalam sudut-sudut kegembiraanmu…
Buanglah jauh-jauh segala hitam ayahmu..
Buanglah jauh-jauh segala lemah ayahmu…
Buanglah jauh-jauh segala pedih ayahmu…
Tetaplah engkau tegar dalam balutan ayat-ayat Tuhan…
Karena disanalah engkau akan temui kebahagiaan…
Nak, tertawalah bersama jiwaku
tersenyumlah bersama kalbuku
Ayah akan senantiasa bersamamu
selamanya……..

 

Selamat Jalan Pak……

Direktur Politeknik yang bersahaja itu telah kembali ke pelukan Sang Pecinta tuk slamanya…..
;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;

Syahdan, di suatu sore yang menawan, saya beserta beberapa mahasiswa lainnya sedang bersenda gurau di depan teras kampus.
Kampus yang juga menjadi kantor Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Banyumas tersebut selalu ramai di setiap akhir pekan, terutama menjelang ashar.
Di jam seperti itulah biasanya kami bersantai menikmati sore sembari bercerita ini dan itu…Jarang membahas materi perkuliahan bro… Ndak guna! Hehehhee…
Lagi asyik-asyiknya ngobrol, perlahan sebuah angkot berhenti di depan kampus.
Seorang lelaki tua dengan tas jinjing ala pemuda tahun 70-an turun dari angkot tersebut.
Celana “cutbre” dan gaya rambut yang “tanpa gaya” menjadi salah satu ciri lelaki tinggi dan kurus tersebut.

Wajah “sangar” dengan kumis tebal melintas menjadi daya tarik tersendiri bagi kami.
Setelah membayar pada supir, kulihat lelaki itu sesekali batuk ketika mulai melangkahkan kakinya. Usianya tiada lagi muda…
Kata petugas administrasi di kampusku, lelaki tua yang masih tampak gagah itu adalah mantan salah satu pejabat di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
Pejabat?
Sungguh pertanyaan yang menggelitik hati saya….
Perlu kalian ketahui, sekelas karyawan (bukan dosen lho) yang bekerja di sana saja bisa dengan mudah membeli mobil… Tapi lho kok orang ini malah ngangkot saban hari?


Entahlah….
Seingatku, Beliau memang punya mobil. Tapi jangan membayangkan kalau mobilnya adalah mobil yang wah! Tidak….Dan seingatku juga, paling sebulan atau bahkan dua bulan sekali lelaki tua ini berangkat ke kampusku menggunakan mobilnya… Padahal rumahnya terbilang jauh dari kampus tempat kuliahku itu.
Lelaki tua yang sederhana itu adalah Direktur Politeknik kami, Bapak Saechan….
Konon, berdirinya kampus kami dan juga politeknik Cilacap tak bisa dilepaskan dari peran Beliau.

Kembali ke cerita….
Tanpa dikomando siapapun, aku dan teman-teman kuliahku berdiri menyambut Beliau…

Assalaamu ‘alaikum….
Salam yang begitu tulus dengan wajah yang “biasa-biasa saja” (Beliau jarang tersenyum soalnya… Hehehehe) terucap dari Beliau.
Sontak kami menjawab salam tersebut… Tanpa babibu, satu persatu dari kami mencium tangan Beliau yang… ah, kasar ternyata….. Dan itupun menjadi salah satu pertanyaan batinku…
Dalam lain waktu, saya diajak oleh salah satu teman kuliahku, Barok namanya, untuk bersilaturahmi ke dalemnya Beliau.
Temanku Barok itu, mau menjagokan diri menjadi perangkat desa di kampungnya. Berhubung kuliahnya belum selesai, ia bermaksud meminta tanda tangan pada lembaran kertas yang bertuliskan “Surat Keterangan Kuliah.”
“Wong sudah jelas-jelas kuliah, ngapain pakai surat keterangan rok? esih peteng apa?” (masih gelap apa). Ledek ku ke Barok…

“Halah mbuh!” Jawab dia… Enek kayaknya dia.. hahahhaaa….

Dengan menggunakan sepeda motor matic ku, meluncurlah kami ke dalemnya pak Saechan, direktur politeknik kami.

Berhubung kami belum tahu dalemnya, kamipun bertanya ke si anu dan si itu.
Tak lama, sampailah kami di dalemnya Beliau.
Lagi-lagi, bayangan ku salah… Rumah Beliau tak seperti yang aku bayangkan…
Beberapa anak muda sedang mengutak-atik mobil di depan rumah Beliau.
Yupz, ternyata bagian depan rumah Beliau dijadikan sebagai bengkel. (Ndak tahu sekarang masih ada apa tidak).

Dengan mengenakan sarung dan menggunakan kaos oblong yang kelewat sederhana menurutku, Beliau menemui kami berdua.

Ah, sungguh pemandangan yang lagi-lagi menohok hati. Seorang direktur dan mantan pejabat kampus kok sesedehana ini…. Ah, jadi malu saya 🙁

“Mau daftar jadi perangkat mas?” Tanya Beliau ke Barok.
“Injih pak… Ikhtiar…” Jawab barok.
“Kalau ikhtiar yang sungguh-sungguh!”
Singkat tapi begitu dalam kata-kata Beliau itu.

Begitu Beliau selesai menandatangani surat keterangan kuliah tersebut, Beliau menasihati kami agar tetap bersemangat dalam mencari ilmu, khususnya kuliah kami di politeknik. Jangan sampai ndak selesai… Kata Beliau.

Sebenarnya masih banyak lagi cerita-cerita perihal kesederhanaan, perjuangan, dan aneka cerita lainnya yang masih tersisa.
Tapi belum bisa aku ceritakan semuanya disini….
Pagi ini, aku baru membuka WA……
Dan grup politeknik berada di urutan pertama…
Dan inilah pesan yang langsung muncul di grup tersebut :



“Innalilahi wa inalillahi rojiun.
Telah berpulang ayahanda kami tercinta Drs. H. Saechan,MSc pd hari rabu,26 April 2017 jam 23.41. Jenazah di semayamkan di rumah duka Jln Suparto 37 Purwosari. Dan akan di kebumikan di pemakaman umum desa Nusajati kec Sampang Cilacap berangkat dari rmh duka pukul 09.00 WIB”


Pesan tersebut muncul di beranda paling atas di grup itu.
Tiba-tiba, bayangan wajah Beliau yang tegas dan sederhana langsung muncul dihadapanku…. Beragam cerita tentang Beliau seakan terajut satu demi satu…
Melalui tulisan ini, saya sampaikan terima kasih yang tiada terhingga untuk Bapak 🙁
Bapak bukan hanya guru, dosen ataupun direktur… Tapi Bapak adalah ayah bagi kami semua di kampus…

Selamat jalan pak 🙁


اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارًاخَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَاَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَاَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ. اَللهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرَنَا وَكَبِيْرَنَا وَذَكَرِنَا وَاُنْثَانَا. اَللهُمَّ مَنْ اَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَاَحْيِهِ عَلَى اْلاِسْلاَمِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلاِيْمَانِ. اَللهُمَّ لاَتَحْرِمْنَا اَجْرَهُ وَلاَتُضِلَّنَا بَعْدَهُ بِرَحْمَتِكَ يَآاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Wow, masih ada Bufon di Champions League!

Met sore prends… Ini mungkin postingan yang tidak biasa. Kenapa tidak biasa? Karena postingan kali ini berkisah, ceileh berkisah…. yups, berkisah tentang dunia sepak bola. Nah, jarang banget. Biasanya kan saya bahas mantan. Halah… Mup on mas! Mup on!

Halah..Mup on mah gampang… Yaang sulit itu, cari penggantinya! Ya nggak mblowww? *sembari ngangkat celana dalem bergambar Doraemon milik elu! Wkwkwkwk….

Ceritanya, tadi pagi (pagi-pagi bingit) saya terjaga dari mimpi basah bagus. Eh, bohong. Saya terjaga karena begitu bangun tidur, ndak tahu kenapa mata ini sulit saya pejamkan. Akhirnya, klik, saya pencet itu tombol granat televisi milik isteri saya. Wow… ternyata ada champions league brow… Dan nggak nanggung-nanggung, yang maen Juventus vs Barcelona… Wow… Mantabz bibir men!


Entah sudah berapa bulan saya ndak menikmatin yang namanya muke-muke pemain bola. Baik itu yang cantik maupun yang tampan. Apalagi yang ketampan tampanan macam Niki Setiawan. Wkwkwkwkk….  (Kemana ajah nih bocah…Ndak pernah nongol di rumah gue). Kamvrt!

Singkat kata singkat cinta, duduk manislah saya di depan tivi sembari nikmatin kopi ESPRESSO. (Moga-moga dapat project review dari pabriknya…. Mbuehehehehee……..)

Ada yang bikin saya kaget, ada Bufon disitu? 

Kalian tahu siapa Bufon? Ya, dia adalah sepupu saya salah satu penjaga gawang kaporit favorit saya.

Lalu kenapa kaget? Biasa saja mas!

Ya kagetlah… Entah sudah berapa tahun saya ndak nonton yang namanya liga Itali. Dan jujur saja ini (mungkin malu-maluin) saya baru tahu kalau ternyata oom Bufon masih setia menjadi penjaga gawang.

Asal lu tahu ajah ya men, semenjak saya SMA, Om Bufon sudah menjadi keeper. Artinya apa? Sudah lebih dari 15 tahunan (mungkin hampir 20) Beliau sudah tampil di liga Itali. Huft, ketahuan dech gue tuanya… Wkwkwkkwkwkwkwk…..

SUMBER : BROWSING MENGGUNAKAN GOOGLE CHROME


Itulah kenapa saya kaget! Ternyata, di usia yang tidak muda lagi, Om Bufon masih berlaga di dunia persepakbolaan eropah sanah… Warbiasah…. Padahal gue ajah nih, udah mengap-mengap kalau main putsal 😉

Lalu bagaimana performanya? Ternyata masih jos!

Dengan kepala dan gigi saya, saya lihat tuh om Bufon berhasil menghalau bola dengan sempurna…

Head to head dengan kang Iniesta, bola yang ditendang kang Iniesta beliau tampik dengan tangannya. Wow!

Suarez juga sama…

Beberapa tendangan, sundulan yang mengarah ke gawangnya berhasil dia halau. Warbiasah saudarah-saudarah… Hasil terakhir 3-0 untuk Juventus. 

Jujur saja saya rada kecewa juga. Karena tak satu golpun tercetak dari kaki sang Messiah… Arghhh…

Sudahlah, mup on ya Mes! 🙂

Mengingat waktu sudah sore dan saya harus pulang, saya cukupkan dulu postingan kali ini. Oh ya hampir lupa. Setelah peluit wasit berbunyi sebagai tanda selesainya pertandingan, terlihat juga salah satu mantan pemain Juve yang dulu menjadi salah satu pemain favorit saya di liga Eropa. Siapa dia? Pavel Nedved! Arghhh… Pagi yang indah. Karena saya bisa mengenang beberapa pertandingan hebat di liga Italy semasa sayah masih unyu-unyu di musim dahulu… Wkwkwkwkwkk…

SUMBER : BROWSING MENGGUNAKAN GOOGLE CHROME


Forza Nyonya Tua!

Halah.. apa kuwe artine? 
🙂


Berbahagialah Menjadi Manusia Nusantara

Assalaamu ‘alaikum sedulur -sedulurku yang terkasih. Saya harap sampeyan semua dalam keadaan sehat wal afiat. Bagi yang sedang sakit, saya do’akan semoga lekas diangkat penyakitnya dan gugurlah dosa-dosa sampeyan semua. Amiin.

Tak lupa juga saya berdo’a, semoga karir dan pekerjaan sampeyan semua gilang gemilang bak bintang di pojok sekolah TK sana. Halah, itu mah lukisan dinding-nya bakul jajanan di TK situ 🙂

Disertai rintik hujan dan nafsu bercinta  makan yang lagi berkurang, saya posting sebuah tulisan yang bersumber dari pengalaman saya ketika saya masih muda ketika itu. Yupz, pengetahuan ini saya dapat ketika saya berusia 19 tahun. Maaf saya ndak mengupload foto saya ketika masih imut-imut tersebut. Lagi ndak ada tikus maupun binatang buas semacamnya yang lagi nongkrong di celana kamu. Itulah alasan saya. Titik!

Flashback ke zaman muda waktu itu…. Pada waktu itu saya sedang menimba ilmu pelet administrasi pada salah satu lembaga pendidikan yang ternama di Purwokerto.

Salah satu intruktur kami bercerita panjang lebar tentang pengalamannya ketika kuliah di negeri Ratu Elizabeth. 

Ketika Beliau kuliah disana, pada suatu waktu ada kesempatan untuk berkeliling ke beberapa negara yang ada di sekitar Inggris. Namun bukan itu yang menjadi kisah utama postingan ini.

Beliau adalah “penggila” buku. Ketika itu, Beliau menemukan sebuah buku yang berasal dari negeri Belanda.

Buku yang menohok jiwa Beliau sebagai orang Jawa asli (sepengetahuan saya, Beliau adalah priyayi yang sangat menjunjung tinggi adat istiadat Jawa) adalah isi buku dari Belanda tersebut.

Apakah isinya? Ternyata nama-nama warna.

Halah, nama warna kok menohok jiwa, emangnya broadcast-nya mas Darsono yang lagi jualan buku? Halah!

Yupz, bagaimana tidak tertohok, ternyata nama-nama warna yang ada di buku tersebut adalah nama-nama warna yang diciptakan oleh masyarakat jawa.

Tertohoknya lagi, sebagai orang Jawa justru Beliau baru tahu nama-nama warna tersebut di negeri orang, bukan di tanahnya sendiri!

Salah satu nama yang ada di buku tersebut adalah banteng ketaton.

Sepengetahuan kami, banteng ketaton adalah banteng yang terluka. Ketika reformasi dulu, banteng ketaton adalah simbol yang ditujukan kepada salah satu partai besar yang kebetulan bendera partainya bergambar banteng.

Tahukah kalian, ternyata banteng ketaton adalah nama warna. Ya, nama warna seperti hijau, merah dan biru.

Masyarakat jawa menggunakan nama tersebut untuk dua warna yang bercampur menjadi satu. Warna hitam dan warna merah. Percampuran antara warna hitam dan warna merah ini, oleh masyarakat jawa diberi nama banteng ketaton. Nah lho?

Selain itu, ada satu lagi nama yang ternyata adalah juga nama dari dua percampuran warna lagi. Apakah itu? ijo royo-royo!

Yupz, ternyata ijo royo-royo adalah juga nama warna yang dicetuskan oleh masyarakat Jawa. 

Ijo royo-royo adalah nama untuk percampuran warna hijau dan kuning 🙂

Hanya bengong kaya jomblo akut kambing ompong. Itulah yang terjadi di kelas kami ketika sang instruktur itu menerangkannya kepada kami.

Kenapa bengong? ya eya lah, lha wong kami baru tahu tentang hal tersebut.

Bagi teman-teman yang belajar move on sejarah, bisa jadi itu adalah hal yang tidak asing. 

Mungkin teman-teman pernah mendengar atau mungkin pernah membaca buku, THE HISTORY OF JAVA. 

Buku yang ditulis oleh Thomas Stamford Raffles tersebut, konon katanya bersumber dari buku-buku kuno yang ada di salah satu istana yang ada di Jawa ini.

Dan konon kabarnya, oom Raffles mengangkut ribuan naskah dan buku-buku luar biasa yang ditulis oleh para leluhur kita ke negeri Belanda sana. Untuk apa? Itulah yang menjadi pertanyaan besar saya selama ini. Untuk apa?


Bagi saya, Belanda adalah penjajah yang super cerdas. Mereka tidak hanya menjajah kita secara fisik saja, akan tetapi, secara pemikiranpun kita dijajah sedemikian rupa oleh mereka.

Contoh konkritnya adalah cerita tentang Ken Arok yang konon katanya adalah keturunan penjahat. Saya yakin, banyak diantara orang Jawa yang mempercayai kisah tersebut. Ken Arok dan keturunannya adalah keturunan penjahat, perampok, pemerkosa!

Ahai… ternyata mitos tersebut adalah cerita hoax yang tujuannya adalah menurunkan moralitas para priyayi Jawa yang pada waktu itu lagi semangat-semangatnya mengobarkan semangat perjuangan melalui organisasi-organisasi modern. Yupz, 1908… Masih ingat dengan tahun itu?

Tokoh-tokoh pergerakan waktu itu, baik dari Jawa maupun luar Jawa adalah keturunan para bangsawanan. Mengapa priyayi-priyayi Jawa yang menjadi sasaran tembak? Itupun masih menjadi misteri tersendiri buat saya.

Tapi saya yakin, sekali lagi, Belanda adalah penjajah yang cerdas. Entah kenapa saya berkeyakinan kalau insting mereka begitu tajam tentang karakter manusia jawa, khususnya para priyayinya yang notabene merupakan keturunan raja-raja besar yang pernah menguasai wilayah yang teramat luas di belahan dunia ini. Bukannya lebay atau apalah, tapi kalau kita mau menilik kebesaran Majapahit misalnya, betapa kerajaan ini merupakan salah satu imperium besar yang pernah ada di dunia ini. Begitu disegani dan dihormati oleh imperium lain yang juga sudah ada pada waktu itu.

Dan entah kenapa saya juga berkeyakinan kalau ketajaman insting Belanda itu adalah buah dari pengetahuan yang mereka dapatkan dari pembelajaran mereka pada kitab-kitab/naskah kuno yang berasal dari moyang kita.

Lihatlah ramalan Jayabaya yang begitu nyata… Mulai dari keruntuhan kerajaan-kerajaan nusantara, hingga hari kemerdekaan yang TEPAT sesuai dengan ramalannya… Bahkan, ramalan-ramalan Beliau masih menjadi kenyataan hingga saat ini. Wallahu a’lam..

Jadi, untuk apa Raffles (bukan hanya dia saya pikir) membawa dan mempelajari kitab-kitab kuno tersebut ke negara asalnya?

Prasangka buruk saya mengatakan, kalau salah satu tujuan mereka membawa kitab-kitab tersebut adalah justru untuk mematikan kejawaan orang jawa itu sendiri. Sebab, kalau orang-orang jawa mengenal kejawaannya, pastilah akan menjadi bumerang tersendiri bagi kaum penjajah.

Apa maksud dari pernyataan saya tersebut? Seperti kata pepatah, jika ingin merusak suatu negara, cukuplah rusak perempuannya.

Jika ingin tetap bercokol sebagai penguasa nusantara, hilangkanlah pengetahuan masyarakat nusantara tentang jati dirinya….

Dan dahsyatnya, pengaruh penjajah itu masih berlaku hingga sekarang.

Lihatlah bagaimana anak-anak muda sekarang begitu kagum terhadap budaya-budaya yang berasal dari luar sana, baik itu seni, olahraga, bahkan sekedar tampang mereka saja begitu digandrungi. Mbuehehehe.

Padahal, kita adalah keturunan bangsa yang besar. Keturunan para ksatria yang berhasil membangun sebuah imperium besar yang begitu disegani di dunia ini.

Kita punya sastra yang luar biasa… 

Kita punya peninggalan bangunan yang hingga saat ini, mereka, orang-orang barat masih mengagumi dan masih mempelajari bangunan hebat tersebut. 

Bayangkan, sebelum ada teknologi semen seperti saat ini, nenek moyang kita telah berhasil membuat bangunan-bangunan spektakuler macam Borobudur, prambanan dan bangunan spektakuler lainnya.

Saya tidak bermaksud merendahkan maupun meninggikan bangsa lain. Saya hanya sedang prihatin dengan kondisi bangsa ini, khususnya generasi muda yang masih belum paham tentang “posisi” dirinya sebagai manusia nusantara.

Betapa teknologi telah banyak mengubah mereka menjadi “penganut” barat, Timur, dan Barat Daya, tanpa paham siapa dia, siapa bangsanya, siapa moyangnya?

Bro, saya tidak begitu heran dengan menara di Perancis sana, maupun menara di Itali sana… Bagi saya, membuat candi Borobudur di jamannya adalah hal yang luar biasa! 

Untuk mengakhiri postingan ini… Semoga kita semua bisa menjaga pusaka warisan moyang kita. Termasuk sikap toleransi yang akhir-akhir ini dirasa kurang.

Katakan kepada orang-orang barat sana… Sebelum mereka mengkampanyekan Hak Azasi Manusia, sebelum mereka mengkampanyekan toleransi dan pluralisme, bangsa kita sudah memiliki semua itu.

Sejak Majapahit kita sudah hidup berdampingan secara damai. Sekali lagi, jangan tertipu dengan cerita hoax yang mengatakan kalau pada zaman Majapahit warganya terkotak-kotak bahkan tercerai berai karena agama. JANGAN PERCAYA!

Itulah salah satu hoax yang sudah digembar gemoborkan oleh penjajah dari dulu. Hoax yang pada suatu waktu bisa menjadi bom waktu bagi bangsa ini sendiri.

Yakinlah, sebagai manusia nusantara, sedari dulu kita sudah memiliki hukum dan adat yang melindungi bukan hanya manusianya saja, tapi juga lingkungannya… Itulah yang kita sebut sebagai kearifan lokal. Kearifan yang sudah terbentuk semasa moyang kita dahulu. Kearifan yang belum tentu dimiliki oleh semua masyarakat dunia.

Berbahagialah menjadi manusia nusantara yang sedari dulu sudah memiliki kalimat bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa (Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan atau mendua dalam kebenaran).

Wallahu a’lam…
Wassalam…








HIDUP APA ADANYA SAJA

Assalaamu ‘alaikum prends…

Pagi, pagi, paagiiii…

Apa kabarnya nih sampeyan semua? baik bukan? Bukaaan!

Sembari menahan tangan yang masih boyeh ini karena tadi kesemutan, saya tulis postingan ini dengan sedikit makian. KENAPA WIFI nya masih mati? Kamfret!!!

Tapi karena judul pastingan ini adalah HIDUP APA ADANYA SAJA, maka gue (biar keren) menggunakan kuota internet yang seadanya. Mudah-mudahan saja ada donatur pulsa yang lewat terus kasih anak gadisnya ke gue… #huek!

Tanpa banyak cingcong, judul ini sebenarnya terinspirasi oleh blognya mas Saptuari Sugiharto. Itu lho, pengusaha sekaligus penulis buku-buku best seller yang sungguh menyentuh hati. Bagi yang belum tahu buku-bukunya, dibawah ini gue sertakan penampakan buku-buku Beliau yang menyentuh kalbu. Aw aw aw…

Ada yang unik dari cover-cover buku tersebut. Ada yang tahu? Kalau cover dari ketiga buku tersebut disatukan, kayaknya akan menghasilkan sesuatu 😉

Kembali ke judul….

Sebagai manusia, apalagi di zaman yang serba iklan ini, sungguh yang namanya godaan yang berujud apa saja yang bersifat konsumtif benar-benar mengganggu sistem peredaran kemanusiaan kit. Wkwkwkwk….

Ya bagaimana tidak terganggu, sebagai manusia yang notabene merupakan hamba Tuhan, terkadang karena menginginkan benda-benda yang diiklanin itu kita justru menjauh bahkan tak jarang banyak yang lupa dengan Tuhan. Hayo ngaku…

Pengin beli A kita mau lakukan apa saja. Pengin beli B, kita pun rela harus pontang panting banting tulang bahkan maaf, banting ituan… ehem… demi mendapatkan apa yang kita inginkan… Tolong dicatat, apa yang kita inginkan…. Bukan apa yang kita butuhkan.

Saya sendiri tak jarang kena penyakit seperti itu. Paling gampang itu adalah godaan iklan yang berujud smartphone dan sepeda motor… Hehehehe…

Bukan smartphone atau motornya yang kadang bikin saya keselek, tapi foto SPG nya… Mbahahahhaaa….

Beberapa saat yang lalu saya berbincang dengan guru saya yang baru saja mengikuti pelatihan di salah satu pondok pesantren ternama di Purwokerto. Pelatihan yang diselengarakan oleh omas Islam Nahdlatul Ulama di Banyumas tersebut dihadiri oleh pengurus besar nya dari Jakarta.

Nah, dalam acara tersebut, salah satu yang menjadi pembahasan adalah masalah umat dan kebangsaan.

Salah satu masalah umat yang saat ini menjadi musuh besar kita bersama adalah sikap hidup konsumtif yang pada akhirnya akan berujung pada hedonisme.

Itu adalah salah satu tantangan besar pada umat kita saat ini.

Bagaimana tidak menjadi tantangan, kalau kita mau jujur, berapa sih waktu yang kita gunakan untuk mengkaji keilmuan diri, mengaji misalnya. Coba sampeyan jawab, berapa jam coba?

Tapi kalau yang namanya IKLAN, hampir setiap menit dia nongol di televisi, radio, internet dan media massa lainnya.

Sungguh tak seimbang kan?

Setiap saar kita dijejali dengan penawaran berbagai barang (baca=dibujuk untuk konsumtif), namun disisi lain, kita hanya meluangkan sedikit waktu untuk meningkatkan kualitas diri kita, terutama kualitas yang berhubungan dengan hubungan kita terhadap Tuhan Sang Pencipa Alam. Sungguh peperangan yang maha dahsyat.

Tidaklah salah kalau Baginda Rasulullah Muhammad SAWA bersabda kalau Jihad yang paling besar adalah jihad melawan hawa nafsu.

Kalau diteruskan kayaknya bakalan panjang nih postingan. Nah, berhubung saya bukan ustadz apalagi kyai, saya pikir salah satu solusi yang bisa kita praktekan adalah HIDUP APA ADANYA SAJA.

Tidak mengada-ada!

Bukan  berarti kita pasrah dan diam saja…Bukan!

Raihlah apa yg menjadi kebutuhan dan keinginan, namun tidak berlebihan. Tidak berlebihan yang bagaimana mas? Saya pikir masing-masing dari diri kita harus paham potensi dan kemampuan kita masing-masing.

Itulah sebabnya kenapa belajar dan belajar tidak boleh terhenti dalam diri kita.

Belajar tentang kekauatan diri, belajar tentang kepantasan diri, belajat tentang hakikat kita sebagai pemimpin di muka bumi (kholifatul fil ardh) sekaligus menjadi hamba (makhluk) dari Sang Maha Kuasa (Kholiq).

Sekian, semoga bermanfaat.

Wassalaam 🙂

JANGAN TAKUT MENGELUH

Ye ye ye… Akhirnya bisa nulis kembali disini. Entahlah, saya merasa ada kebahagiaan tersendiri ketika saya bisa meluangkan waktu untuk menulis disini. Waktu luang adalah hal yang sangat langka untuk saya saat ini. Ya kayak makhluk seperti saya ini, langka! *Emangnya badak bercula satu? Mbuehehehe.

Bahkan, untuk menulis postingan inipun saya harus mencuri waktu. Berdusta pada guru… Eaaaa!

Beberapa pekan terakhir merupakan pekan yang “membosankan” bagi saya. Membosankan karena banyak hal yang harus saya selesaikan secepatnya. Mulai dari kerjaan kantor yang berjubel (persiapan PKKS, DNS peserta Ujian Nasional, verval PD dan PTK, bertemu dengan beberapa konsumen yang memesan jaket (ini aseli bikin saya puter otak juga.. Ah… kapan-kapan saya ceritakan), sampai dengan mengurus pekerjaan yang rumah yang menumpuk gara-gara Mbak Mar, orang yang bisa bantu beres-beres rumah, keluar dengan alasan ingin jualan kerupuk (bangga juga sih saya). Argh, memang sih tidak boleh mengeluh, begitu kata beberapa teman saya. Tapi ternyata saya klimaks juga. Mengeluh gitu lhoh… Mbeuehehehe….

Harapan saya sih, semoga keluhan ini menjadi bermanfaat. Nah lho… Maksudnya apa?

Begini…. Saya yakin, bahkan haqqul yaqien kalau tak ada manusia sempurna di dunia ini, termasuk kamu.. Iya kamu!  🙂

Apatah lagi saya, konon, beberapa Nabi-pun pernah mengeluh kepada Tuhan.

Dan dari situlah saya mulai berani berkata bahwa tidak selamanya selingkuh itu indah. Eh…  Tidak selamanya mengeluh itu berakhir dengan ketidakindahan.

Pernah saya mengeluh kepada teman saya. Gara-garanya banyak konsumen saya yang pada nunggak bayar kaos dan jaket yang dibeli ke saya. Alhamdulillah, teman saya tersebut kasih modal ke saya.

Pernah juga mengeluh ingin membeli hape karena hapeku terlalu jadul, eh… tembung ndilalah saya dikasih rezeki dari Allah untuk membeli hape dengan fitur yang saya inginkan. Alhamdulillah yah..sesuatu….

Masih banyak keluhan saya yang lainnya yang alhamdulillah berakhir manis. 

Tapi, apakah semua keluhan saya selalu berakhir manis? Tentu saja tidak!

Ada beberapa keluhan yang belum jelas jluntrungannya mau kemana alias kagak jelas mau berakhir seperti apa. Bahkan ada yang berakhir tragis.

Memang benar, tak sepenuhnya sesuatu yang bernama proses itu bisa dijalani dengan sempurna. Toh sebagai manusia, saya pasti mempunyai rencana. Tapi Tuhan juga punya rencana. Tinggal ketetapan siapa yang hendak berjalan/berlaku. 

Dan itulah proses yang kadang sebagai manusia justru kita menjadi lemah. Padahal sekali lagi, rencana Tuhan adalah yang terbaik buat umat-Nya. Dan seluruh proses yang sedang kita jalani hanyalah salah satu bentuk ujian yang pada akhirnya pula akan berguna untuk kita kedepannya.

So, sudahkah Anda kawin di hari ini?

Halah….




Waktu Cepat Berlalu Yak?

Selamat pagi-pagi banget gaes… Sudahkah kalian bangun di minggu pagi-pagi banget ini? 
Belum mas!
Ah, elu ternyata ayam… Eh, kalah sama ayam maksud mimin (minal minul maksudnya….wekekkek). Ayam saja masih berkokok. Masa kepala kamu masih ditutupin sarung? Cuman matanya yang kelihatan kayak ninja. Trus, itu … bawa tivi segala.  *MALING MBOK?

Baiklah, kita tinggalin dulu muka elu yang masam itu. Kembali ke topik kita yang kagak jelas jluntrungannya ini. Waktu cepat berlalu yak? Itu judul postingan blog ini di pagi yang sangat pagi-pagi ini (jam 04.oo WIB gaes).
Saya tidak tahu apakah kalian juga merasakan hal yang sama. Waktu terlalu cepat berputar. Coba kalian bayangin mantan kalian….ealah… Coba kalian bayangin masa kecil kalian. Gemana? Udah kebayang kan? Atau jangan-jangan tidak pernah kecil kayak saya? Mbuehehe…

Bagaimana? Masih ingat kan. Kayak baru kemarin kan? Tahu-tahu kita udah gede dan banyak utang kayak gini… Hahahahaa……….
That’s a life gaes… And have to go on 🙂

Nah, kurang lebih begitulah perasaan yang sedang saya rasakan di pagi yang pagi-pagi banget ini. Perasaan baru kemaren daftar kuliahnya, eh ndak tahunya minggu besok sudah ujian tengah semester. Aseli, kagak terasa banget dan serasa cepat kek odong-odong yang lagi jalan di komplek rumah saya 🙂
Ya seperti yang sudah kami beritakan sebelumnya, bahwasanya mulai tahun ini saya kuliah lagi (hueekkk).
Jurusan yang saya ambil yaitu jurusan PURWOKERTO-CILACAP. halah….

Kali ini saya kuliah yang saya ambil lumayan melenceng dengan yang sudah-sudah. Apalagi yang sudah-sudah sudah… Nah lho. Emang kuliah berapa kali? Entahlah… Kalau aku sih IYES… ndak tahu mas Anang 🙂
Sekarang saya ngambil teknik informatika. Sebelumnya teknik komputer. Wah… Satunya software, satunya lagi hardware. Jadinya ya EWER EWER EWER…. Padahal sebelumnya ngambil jurusan administrasi … wkwkwkwkwkk….

Itulah hidup.Saya sih yakin kalau setiap apa yang kita lalui dengan sabar dan subur, maka kita akan menuai hasil yang memuaskan dan menggairahkan… Oh yesss…

Aseli…Kuliah kali ini bikin otak harus ekstra bekerja keras. Lha wong hampir tiap hari ketemu sama yang namanya bahasa pemrograman. HTML, C+, DELPHI, PHP, LDR… eh!
Pokoknya gitu dech.
Intinya… SAYA BUTUH DO’A DARI TEMAN-TEMAN SEMUA AGAR SAYA DIBERIKAN KEMUDAHAN DAN KELANCARAN DALAM MENGHADAPI UJIAN BESOK.
Halah… Wong minta do’a saja kok muter-muter kaya mau selingkuh sama sang mantan 🙂
Pokoknya gitu dech. Berhubung sudah mulai siang, saya akhiri postingan ini dengan kalimat… SUKSES YAH UNTUK KITA SEMUA.

Keep spirit and pray!
Amiin…
Met mingguan yah 🙂

BERKEBUN DAN MANFAATNYA

BERKEBUN DAN MANFAATNYA Assalaamu ‘alaikum dan salam penuh cinta untuk sobat semua. Apa kabar? Baik bukan? Yuk kita lanjutkan jogetnya… Berangkat!
🙂

Setelah beberapa hari memusatkan perhatian pada perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71, saatnya kembali beraktivitas sebagaimana biasanya.

Untuk pekerjaan, kembali bertemu dengan web Data Pokok Pendidikan (DAPODIK). Sebagai warga negara biasa, kembali bersosialisasi dengan tetangga rumah tanpa embel-embel “persaingan lomba.” Hehehe.

Dan sebagai blogger ganteng, kembali dech posting-posting berbagai cerita yang semoga menginspirasi dan bermanfaat buat saudara-saudara semua. Syukur-syukur pada mau berbagi ide, saran dan gagasan untuk menambah perbendaharaan ilmu dan pengetahuan. Yang penting, jangan berbagi kekasih hati 😉

BERKEBUN DAN MANFAATNYA

Nah, untuk yang satu ini tak kalah pentingnya untuk saya bagi disini. Siapa tahu ada yang mau meniru amal perbuatan saya yang kece ini. Halah! Apa itu? Berkebun 🙂

Berkebun tuyul apa berkebun janda mas? Pokoknya berkebun! 🙂

Bagi yang memiliki lahan luas di sekitar rumah, mungkin tidak terlalu sulit untuk melakukan aktivitas berkebun ini. Tapi bagi yang lahannya sempit, bahkan mungkin tak ada lahan kosong bisa jadi berkebun merupakan hal yang teramat sulit bahkan mustahil.

Untuk saya termasuk pada kategori yang masih memiliki lahan yang lumayan lah untuk berkebun. Ada lahan kosong disebelah rumah saya. Tidak terlalu luas sih. Tapi masih bisa dimanfaatkan buat ditanami berbagai macam tanaman. Berkebun mas? Bisa dibilang seperti itu lah. Oh ya, ukuran lahan di sebelah rumah 4 x 12 M.

Sebagai orang kampung, saya sudah terbiasa melakukan hal-hal yang berhubungan dengan tanam menanam. Almarhum kakek, nenek, dan almarhum ayah saya -lah yang dulu mengajari saya cara memanfaatkan lahan kosong beserta cara menanam dan merawat beberapa jenis tanaman.

Tanaman favorit yang biasa di tanam di lahan sekitar rumah diantaranya adalah cabai, pisang, pepaya dan jambu.

Nah, khusus di rumah saya yang saya tempati saat ini, saya juga menanam beraneka macam tanaman yang menurut saya bermanfaat. Ada cabai, ketela, pisang, kunir, jahe, kelapa, mangga dan pepaya. Khusus pepaya gagal total alias tidak berbuah. Untuk sebabnya masih dalam tahap investigasi petugas rahasia pederal rumah tangga. Mbuehehe….

Berikut penampakan kebun kecil saya 🙂

BERKEBUN DAN MANFAATNYA

Kalau menurut saya nih, yang namanya berkebun itu banyak manfaatnya lho. Berikut beberapa manfaat berkebun, tentu saja versi coretan blogger kuper 🙂
Pertama, Tidak ada lahan yang terbuang percuma. Yupz, dengan ditanami berbagai jenis tanaman, otomatis lahan kosong kita menjadi lebih berguna. Ada hasilnya man!

Kedua, Menghemat biaya belanja rumah tangga. Contohnya tanaman cabai. Tidak perlu susah-susah keluar duit untuk membeli cabai. Lha wong tinggal petik 🙂

Ketiga, Bisa dijadikan sabagai usaha sampingan. Nah ini dia buat kamu yang senang jualan. Ternyata dengan berkebun kita bisa mendapatkan tambahan penghasilan uang. Caranya? Tentu saja dengan menjual aneka hasil perkebunan di rumah kita 🙂
Keempat, Menyehatkan. Kok bisa? Inilah yang saya alami sendiri. Dengan berkebun, maka mau tidak mau badan kita akan terbiasa untuk bergerak setiap pagi dan sorenya, kadang siang juga. Bergerak bagaimana? Ya itu, mulai dari menyiram, menyiangi, hingga memetik/memanen. Khusus menyiram tanaman, saya sengaja menggunakan ember yang agak besar. Kenapa mas? Sekalian buat olahraga tentunya. Angkat beban bro! Mbuehehehe. Tapi jujur, dengan berkebun seperti itu, saya yang saat ini jarang berolahraga, alhamdulillah bisa berkeringat juga tuh layaknya sedang berolahraga lho 🙂 Menyehatkan!

Setelah kalian membaca postingan ini, apa yang terlintas di benak kalian? Mau berkebun? Coba saja ptaktekkan. Semoga bermanfaat.

BERKEBUN DAN MANFAATNYA

Oh ya, buat kamu yang tidak memiliki lahan yang luas, sekarang sudah jaman canggih bro. Bisa kok kamu browsing-browsing via google chrome buat nyari cara berkebun di lahan yang sempit. Sudah banyak lho yang posting perihal berkebun di lahan sempit.
Intinya, jika kamu ada kemauan untuk berkebun, halangan apapun akan bisa kamu lewati. Just click on your google chrome. Cari caranya, praktekkan!
Semoga bermanfaat.
Salam blogger!
Wassalaamu ‘alaikum wr.wb.




MERDEKA ITU ……

Merdeka!!!

KEPADA MANTAN

Merdeka itu …..
Bebas ngomong ini ngomong itu ke mantan

Merdeka itu…..
Bebas senggol ini senggol itu ke mantan

Merdeka itu…..
Bebas beri ini beri anu ke mantan

KEPADA PACAR

Merdeka itu…..
Bebas main sini main situ tanpa izin terlebih dahulu

Merdeka itu…..
Bebas BBM-in si anu dan si itu dengan sebebas-bebasnya

Merdeka itu…..
Bebas ngebohongin kamu kapan saja

KEPADA SELINGKUHAN

Merdeka itu…..
Entahlah….
😉

KEPADA TEMAN

Merdeka itu…..
Bebas bohong ini bohong itu kapan saja

Merdeka itu…..
Bebas kadalin kamu kapan saja

Merdeka itu…..
Bebas manfaatin kamu sesuka suka gue

Merdeka itu…..
Kita bisa naik bulan bersama sembari menyanyikan lagu “SAHABAT-nya” SO7

Merdeka itu…..
Pokoknya selalu bersama walau kadang saling terluka dan melukai

KEPADA NEGARA

Merdeka!!!

Sudahlah… Daripada terlalu sibuk ber-ini ber-itu, berkhayal ini berkhayal itu, maka sebaik-baik mengisi kemerdekaan adalah berbuat baik untuk siapa saja, termasuk negeri ini.

Bagaimanapun kondisi keadaan negara ini, sebagai generasi muda yang kece dan tanpa ketebelece, sudah seharusnyalah memberikan yang terbaik untuk negeri ini. Kerja nyata! Mungkin itu kata sederhananya.

Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Segalanya menjadikan Republik ini menjadi negara yang makmur, aman, adil dalam naungan-Nya. Amiin.

DIRGAHAYU INDONESIA.
MERDEKA!!!