Lapangan Cabe

Sore itu, tak seperti biasanya si Panjul mengenakan pakaian lengkap ala pemain bola. Kaos, celana, sepatu, kasut, deker ia kenakan lengkap. Tak lupa ia juga membawa bola sepak yang baru saja ia beli di pasar loak terkenal di kecamatannya. Wah, pokoknya mantap murantap dech penampilan Panjul kali ini. Kayak pemain sepak bola ternama asal negeri tetangga, Dapid Bekam! Mbuehehehe.
 
“Mau kemana lu njul? tumben makai pakaian renang kek gitu. Ndak salah alamat kan elu?”
 
Baru beberapa meter Panjul keluar dari rumahnya, terdengar suara cempreng yang sudah sangat ia hafal sedari ia masih jadi orok. Siapa lagi kalau bukan suaranya si John Dhegle. Teman karibnya yang telah lama hilang. Namun seiring dengan banyaknya dupa dan mantra-mantra yang dibacakan kambing dan kucingnya, alhasil si John Dhegle berhasil pulang ke kampungnya dengan menaiki ojek monyet. Huh!
 
Kampret lu john! Ini bukan pakaian renang, tapi pakaian petugas penyedot tinja. Puas?”
 
Panjul langsung menjawab dengan gayanya yang bengis seperti para pantomim yang kehilangan mukanya 😉
 
“Gitu aja marah. Santai aja Njul!”
 
“Santai kambing maksud lu John?” Jawab Panjul sedikit sewot.
 
“Ya terserah lu njul. Santai kambing atau santai Kuta sama saja. Sama-sama berakhiran O. Hahahahaha!”
 
“Hmmm…. Seandainya yang bilang kek gitu adalah Cindy Crawford, maka sudah aku lempar bibirnya dengan bibirku ini. Tapi karena yang bilang kek gitu adalah elu John, maka elu akan gue lempar pakai kentut gue Terima ini, ciaattt!  Duuuut! Hahahaha.”
 
“Sompret lu Njul!”
 
“Makanya, kalau ngomong sama orang ganteng kek gue, elu harus ngaca dulu di kolam ikan milik mbah Setra.”
 
“Okey lah Njul. Ngomong-ngomong mau main bola dimana njul?”
 
“Di meja pingpong! Ya dilapangan sepak bola lah John. Gitu aja nanya. Makanya kalau ngilang jangan terlalu lama, jadinya lu tahu perkembangan kampung ini. Huh, dasar! Gue cabut nich John. Keburu Maghrib nanti. Oh ya, kapan-kapan gue mampir kerumah lu John. Sudah lama gue tidak ngambil celana lu. Boleh kan? Hahahaha!”
 
Cah edian! okey njul, gue juga udah kangen kumpul sama lu. Besok saja lu ke rumah gue. kebetulan besok nyokap gue bikin sambel goreng lidah tuyul. Ntar gue kasih semuanya ke elu dech njul. Mbuehehe!”
 
“Huh, kampret!”
 
Singkat cerita, si Panjul akhirnya sampai juga di lapangan bola favoritnya. Namun si Panjul merasakan ada keganjilan disana. Tiba disana, bukannya lapangan penuh rumput yang ia lihat, tapi kebun cabe. Nah lho, apakah si Panjul salah jalan? Atau salah lihat? Entahlah, yang jelas gue gak salah ketik. Mbuehehe.
 
Tiba-tiba saja si Panjul melihat ada papan yang terbuat dari kayu yang terpampang di sebelah gawang yang masih tersisa. Sontak ia langsung mendekati papan tersebut. Ternyata di papan tersebut tertulis kata-kata yang mengusik perhatian si Panjul.
 
Begini tulisannya :
 
KARENA PENGURUS SEPAK BOLA DI KAMPUNG INI SERING BERKELAHI GARA-GARA PEREMPUAN DAN RAMBUTAN, MAKA DEMI KEGIATAN PRODUKTIF YANG DAPAT MENGUNTUNGKAN PETANI, LAPANGAN INI DITUTUP DIUBAH MENJADI KEBUN CABE. BAGI YANG KEBERATAN BISA LANGSUNG MENEMUI SAYA LEWAT EMAIL MAUPUN MEDIA TIDAK SOSIAL LAINNYA.
 
TERIMA KASIH
 
TTD
 
LURAH HATI
 
Dengan wajah kecewa, akhirnya si Panjul kembali ke rumahnya sembari menyanyikan salah satu lagunya Ona Sutra yang berjudul BOLA.
 
“Bolaaaa…. tungguuu…..!”
 

Gak Nyambung

Hari ini si Panjul Baidewe benar-benar marah. Bagaimana tidak marah, baru saja ia dibully habis-habisan di dunianya Luna Maya, eh dunia maya maksudnya. Walaupun dunia maya bukanlah dunia yang  sesungguhnya, namun bully tetaplah bully. Dan sakitnya tuh disini ! #pantat. Wkwkwkwk.

Begini ceritanya. Sebagai pengacara, alias pengangguran banyak acara, si Panjul pastilah mempunyai banyak waktu luang. Nah, disela-sela waktu tersebut, sebagai generasi gadget tentu saja si Panjul tidak ingin menghabiskan waktu begitu saja. Sayang, begitu gumam si Panjul dalam hati. Singkat cerita, si Panjul mulai browsing menggunakan gadget barunya yang sudah berusia puluhan tahun. #fitnah !

Dasar lagi banyak pulsa, tanpa menunggu komando dari pembantu di rumah sebelah, si Panjul membuka salah satu portal yang berisi sesuatu yang menurutnya menarik. Yupz, berita tentang rencana kenaikan BBM ditengah turunnya harga minyak dunia. Hebat, gumam si Panjul. Bagaimana tidak hebat, di tengah merosotnya harga minyak dunia, di negaranya yang konon katanya juga negara penghasil minyak, ternyata harga minyak atawa BBM nya akan dinaikkan. Sungguh hebat ! #nah lho.

Sebagai lelaki cerdas dan berparas ketampan-tampanan, si Panjul pun berkomentar di portal berita tersebut. Begini komentar si Panjul :

“Yang lain turun, kok yang disini naik. Aneh ! Apakah mereka tidak berpikir bahwa dengan kenaikan BBM maka rakyat kecil yang terkena imbasnya. Ini contohnya (sembari mengupload gambar kutu rambut). Hayo para pejabat, bijaklah .”

Wah, seperti yang aku bilang, si Panjul memang cowok cerdas. Selain komentarnya panjang, kata-katanya juga sama sekali tidak bisa dimengerti oleh anak-anak yang buta huruf. Mengesalkan sekali. #salto.

Tapi Panjul ya Panjul. Ia merasa bangga dan puas dengan komentarnya. Ia merasa kalau komentarnya sudah sesuai dengan standard ISO. ISO ngopo to awakmu ? (bisa apa sih dirimu ?).

Tanpa dinyana, baru beberapa detik ia membuat komentar, ada reply atau balasan atas komentarnya dari sebuah akun yang bernama Blacan Kuburan. #ngeri-ngeri sedap nih namanya.

Begini balasannya :

“Lo tau apa sich ? Belagu amat  ! Mandi dulu sana di trotoar ! Yang namanya pemerintah pastilah memikirkan rakyatnya. Pemerintah akan memberikan kompensasi atas kenaikan BBM ini. Dasar kutu kupret ! kudisen, korengan ! Belajar lagi sono ama emak lo !”

Dhisyeg ! Serasa ditusuk jarum beracun, darah Panjul mulai berdesir membaca balasan komentarnya. Selain darahnya berdesir, rambut dikepalanya pun ikut berdiri. Tidak itu saja, rambut-rambutnya yang lainpun ikut berdiri. Termasuk, tetangganya si rambut pun ikut berdiri. #eh !

Belum sempat si Panjul membalas komentar yang menyakitkan itu, muncul lagi tanggapan atas komentarnya. Kali ini dari pemilik akun yang bernama pencari jablay sejati. Wuih, sadis !

Begini komentar dari pencari jablay sejati :

“Bego !”

Kembali darah Panjul mulai mendidih. Saking panasnya, bajunya mulai gosong. Bahkan celana si panjulpun mulai keluar asap. #sialan, ternyata si Panjul kentut.

Kalimatnya sedikit, tapi jlep banget ke uluh hati. Kembali si Panjul bermaksud untuk membalas tanggapan komentarnya itu. Namun, tanpa diundang dan tanpa melalui tes, tiba-tiba muncul lagi komentar dibawahnya. Kali ini dari pemilik akun yang bernama Malaikat Pencabut Daon.

Begini komentarnya :

“ Lo tu yah. Udah untung dikasih hidup di negeri ini. Jangan banyak bacot. Kalau lo ndak suka BBM naik, sana buat BBM tandingan ! Ga tau malu. Urat malu lo mana ? udah digadein yah sama capres lo yang ga jadi. Hallo…… sini gue cabut nyawa lo (sembari mengupload gambar kucing yang lagi kawin). Kampungan lo !”

Sembari meremas-remas paku, Panjul mulai beraksi. Tapi, lagi-lagi muncul lagi kalimat dalam kolom reply komentarnya. Cabe-caben yuuk. Begitu nama si pemilik akun itu.

“Udah dech cyin, ngapain mikirin BBM. Nekong ya panteslah. #naik maksudnya. Wong eke ajah kalau dicubit juga harus bayar kok. Cap cuss yuuk” (sembari mengupload gambar sapi yang lagi mabok).

Beruturut-turut, bully demi bully muncul :

 “Ndeso !” (dari akun yang bernama BANDAR TOGEL)

“Sana, lo aja yang jadi presiden ! Kamfret !” (Dari akun yang bernama SETIA SENGSARA)

“Makanya jangan jadi orang miskin. Mati aja lo !” (Dari akun yang bernama BAJINGAN LO)

“Orang gila… Orang gila…. Kaburrrrrrr….. “ (dari akun yang bernama Lontheku Terima Kasih)

“pilemnya dah dimulai tuh mas !” (Dari akun yang bernama RENTAL CD PORNO)

Ingin cepat kaya ? Sukses dalam berbisnis ? dapatkan tips-tipsnya melalui e-book ini. Dijamin dalam satu minggu Anda akan mendapatkan hasilnya. Satu kata, AMAZING !”  (Dari akun Master Sejahtera)

“Kucingnya mati tuh mas ! Sabar yah…. “ (Dari akun PERAWAT KUCING GARONG)

“Anda susah buang air besar ? Inilah solusinya ! Obat pencahar cap KODOK ! rasakan manfaatnya.” (dari akun bisnis sukses)

Si Panjul benar-benar sewot. Tanpa pikir panjang, si Panjul langsung membuat balasan di kolom reply. Begini balasannya :

“ SAYA LAGI BERAK. TOLONG JANGAN BERISIK. KARENA KUCING SAYA LAGI MAKAN, SAYA BOBO DULUAN. DISAMPING ITU, SAYA LAGI BETULIN GENTENG YANG RUSAK. TIBA-TIBA ADA NYAMUK MASUK SAMBIL BERNYANYI…. TRALALA TRILILI. BERAKNYA DI ATAP RUMAH. TAHU GAK SIH, KEMAREN ADA NENEK-NENEK MAKAN SIRIH MAKAN KAMBING. SATU NUSA SATU CELANA SATU DERITA SATU SATUNYA CINTAKU PADANYA. YANG BAHWASANYA AKU MULAI BERPIKIR, TIBA-TIBA ADA LAYANG-LAYANGN PUTUS EH AKIHFEYFGDVBDI7464T574DBVZDBVDVHIU94T894WNVKNDVKZDKV HDSB049 !!!!MGLB09MDVNDJVJDVJDHV !!!! “

Benar-benar gak nyambung !

Tapi memang hal-hal yang gak nyambung lagi ngetrend di negaranya si Panjul Baidewe. Kalau nyambung malah jadi ga KEREN !

Apa yang terlintas dalam pikiran kalian setelah membaca kisah ini ? Jangan-jangan gak nyambung juga ya ?

#Hahahahahaha

 picture by : everythingalsocomplain.com

DON’T JUDGE THE BOOK FROM THE KOPER

“Panjul ! Bangun ! ”

Seperti geledek di pojok rumah janda muda, eh di atas daun telinga maksudnya, teriakan yang sangat familiar di telinga si Panjul itu menggelegar keras. Terpampang nyata ! Begitu kata Princess-princessan yang sering sering nongol di acara televisi. Ya, suara nyokapnya si Panjul memang cetar menggoda. Kontan si Panjul yang sedang asyik-asyiknya mimpi basah (mimpi dikencingi sapi 😛  ) akhirnya terbangun.

Wadaauh, udah jam setengah delapan ! Modiar gue !” Gerutu Panjul dalam kamarnya. Akhirnya dengan jurus kucing mencuri dendeng, si Panjul segera berganti pakaian, langsung meluncur ke halaman depan nungguin angkutan pedesaan. Kira-kira, si Panjul mau ngapain yah ? Baiklah kita dulu ikuti pesan-pesan berikut ini. Cekidot !

Ceritanya, sejak malam tadi beras di rumahnya si Panjul habis. So, sebagai satu-satunya anak lelaki di rumahnya, si Panjul merasa ikut bertanggung jawab. Lah wong saban hari yang sering ngabisin nasi ya si Panjul. Bayangin saja, makannya 3 kali sehari. Tiga kali tiga, begitu rumus aslinya. Boros banget pokoknya. Kayak motor Binter. Ha ha ha. Nah, kebetulan si Panjul kemarin dapat uang dari hasil mancingnya di kolam tetangga sebelah ( walah, don’t try at home…  biar lucu nih ceritanya… wkwkwkwk). Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab, pagi ini si Panjul berencana untuk nempur alias beli beras. Dasar si Panjul, karena semalaman begadang nonton liga Champion antara Manchester vs Kalibener, akhirnya si Panjulpun kesiangan…. #Rasain Lu !

Akhirnya, angkutan pedesaan yang ditunggu nongol juga. Tanpa babibu dan babu babu, si Panjul langsung naik kedalam angkot tersebut. Beraneka macam penumpang yang ada didalamnya (buah-buahan kaleeee beraneka macam). Ada bakul gorengan, mbah-mbah yang mau nengokin cucunya, bapak-bapak berkumis yang berpita, ibu-ibu yang berdandan rock ‘n roll, mahasiswi yang pulang kampung, ABG yang mau ngamen, sampai anak sekolah yang bolos yang sengaja lagi muter-muter kampung karena baru kali ini bisa naik mobil. Pokoknya beraneka macam bingit dech.

Dasar hari sudah siang, disertai si Panjul belum mandi, hawa panaspun mulai merasuk ke dalam mobil angkutan yang penuh sesak tersebut. Alhasil, keringatpun bercucuran di sekitar badan para penumpang. Tak terkecuali si Panjul. Dengan kekuatan datang bulan, eh kekuatan bulan si Panjul langsung mengusap keringat yang ada di sekitar wajahnya. Namun, apa yang terjadi pemirsa ? Ketika si Panjul mulai mengelap wajahnya, awalnya, salah satu cewek yang duduk disamping Panjul cuman tertawa lirih. Lama kelamaan seluruh penumpangpun tertawa terbahak-bahak. Keras sekali. Sampai si supirpun menghentikan laju kendaraannya karena saking ramainya penumpang.

“Kok Ramai, ada apa nih saudara-saudara ?”

“Ini lho mas, lihat. Masa si Panjul mengelap mukanya makai celana dalam ? Sobek lagi !”

Gleg !

“Hahahahhaha……………!”

Kontan suara yang tertawapun bertambah banyak dan semakin riuh saja seperti suara penonton di lapangan karambol. Wkwkwkwkwk….

Gara-gara kesiangan, si panjul yang berniat mengambil sapu tangan, malah keliru mengambil celana dalam alias cawet alias cangcut. Huuuureeee……

Tapi, bukan si Panjul namanya kalau tidak cerdas. Dengan tenang, ia berkata pada seluruh penumpang di dalam angkutan tersebut.

“Inilah kebanyakan orang Indonesia, selalu menilai sesuatu dari yang tampak saja. Memang ini celana dalam, tapi bukankah ini adalah juga kain. Ya, bentuknya memang celana dalam, tapi bukankah ini adalah kain juga ? Dan bukankah kain bisa digunakan untuk mengelap apa saja. Termasuk mengelap gelapnya cinta yang ada dalam hati kamu kan de ? (Sambil ngelirik cewek cantik yang duduk disebelahnya…. #jlep banget ). Sebagai generasi muda, saya sangat menyayangkan kebanyakan orang Indonesia yang kalau menilai sesuatu hanya dari luarnya saja. Sebagai contoh kalau mau milih anggota Dewan. Milihnya anggota dewan, yang cantiklah, yang gantenglah kaya saya, yang banyak duitnyalah, yang pakai sepatu mlisning lah. Padahal hatinya bengis. Sungguh ironis.”

Begitu panjang ceramah si Panjul. Sampai akhirnya seluruh penumpang bertambah gerah. Dan panjulpun hilang arah. Karena angkutan yang ia naiki, ternyata salah jurusan. Tidak menuju ke mini market dimana ia mau membeli beras, tapi menuju ke kampung sebelah yang sama sekali tak ada warungnya. #Rasain lu Njul ! Hahahahaha…..

MASIH SAMA

Tak seperti biasanya, hari ini si Panjul tampak lusuh. Minum tak bergairah, makanpun tak enak. Bayangkan, sehari dia hanya makan delapan kali dan minum hanya menghabiskan sedikitnya empat galon mineral ukuran jumbo. Hanya dalam sehari. Sungguh mengenaskan. #loncat tembok

“Njul, lusuh amat kamu ? Makanya kalau mandi di irigasi, jangan di WC. Biar mukamu keren kayak artis Korea… Mmmm siapa tuh namanya…. Oh ya aku ingat… namanya…..JIAND BUSUK ! Hahahahahahha…….” #loncat tembok lagi… kali ini temboknya tinggi, akhirnya lo pade nyungseb semua… wkwkwkwk…

“Bercanda saja kau Lun. Mukaku lusuh bukan karena keseringen mandi di WC putri, tapi karena aku jarang mandi saja. Ya paling seminggu sekali dalam lima bulan. Maklumlah, lagi pusing mikirin nasib bangsa.” Jawab Panjul dengan gaya ke nenek nenekkan… #kali ini temboknya yang ngeloncat.

Oh ya, hampir lupa. Lelaki yang sedang bercakap-cakap dengan Panjul itu namanya Dailun. Dia sebaya dengan Panjul. Satu SD. Tapi Dailun tidak lulus. Lho kok tidak lulus ? Iya, bokapnya Dailun meninggal waktu Dailun masih kelas 5 SD. Penyakit paru-paru dan liver yang menyebabkan bokapnya Dailun meninggal. Keluarga Dailun, baik dari pihak bokap maupun nyokap merupakan kalangan keluarga yang tak punya alias misscal, eh miskin. Jangankan buat berobat, untuk makan sehari-hari saja bokapnya Dailun harus banting tulang, banting daging dan banting apapun yang  bisa dibanting. Ya tentunya demi menghidupi Isterinya, anaknya (Dailun dan kedua adik Dailun yang masih kecil). Setelah bokap Dailun meninggal, kini giliran Dailun yang menjadi tulang punggung keluarga. Dia bekerja serabutan. Mulai dari nyabut rumput sampai nyabut gigi tetangga sebelah. Baiklah, kita sudahi dulu cerita perihal keluarga Dailun. Terlalu sedih dilupakan, terlalu sedih dikenangkan. Setelah aku jauh berjalan… Dan kau….    #malah nyanyi…. #sampluk sisan !

Kembali ke tengtop…………..

“Kamu lagi ada masalah njul ? Kok tidak seperti biasanya. Biasanya kan kamu ceria njul. Loncat-loncatan di tiang listrik, menari-nari di atas antena parabola, dan nyanyi-nyanyi di kolong ember. Whats up bro ?” Si Dailun mencoba bertanya pada Panjul dengan menggunakan metode deduktif dan kualitatif. #Jlep !

” Ya aku kan sudah katakan tadi. Aku lusuh karena sedang memikirkan nasib bangsa. Masa kamu gak percaya Lun ?” Jawab Panjul sambil makan tembakau. #eh !

“Ha ha ha ha. Guayamu… le … le … Lah wong mikirin awakmu saja kamu belum becus. Masa kamu mau mikirn bangsa. Dari mana datangnya lintah… eh, dari mana ceritanya ? Ga usah belagu kelesss….”

“Wah Lun, kamu benar-benar mengejek kemampuanku yang super ini. #megang jidat. Begini Lun…. Beberapa hari ini aku tidurnya pagi.”

“Halah… Pagi-pagi tidur lah iya kamu Njul….” seloroh Dailun.

“Husss… Serius Lun ! Aku nonton tivi. Acaranya seru bingit tekong.. eh, tahu…. ” Panjul mulai beraksi sembari mengenakan kaosnya yang seksi.

“Acara apa itu Njul ? Film unyil yah ? Hahahahha……….”

“Ealah ni bocah. Ndak percaya sama bualanku. Itu Lun, acara tivinya menyuguhkan adegan yang ada walk outnya. Konon katanya, ada perubahan perihal coblosan  Bupati, Gubernur, sama wali kota . Seru bingit Lun….  Sampai pagi, live lagi. Wuihh seru…. Eh, selang beberapa hari lagi, ada adegan yang hampir sama. Kali ini masalahnya lain lagi Lun…. Itu lho…”

“STOP ! ” dengan gaya Polantas yang penuh wibawa, Dailun langsung menutup mulut Panjul dengan karung yang ia bawa. Entah kucing mana yang merasuki tubuhnya. Tiba-tiba wajahnya garang dan cara berbicaranyapun berubah. #Ksatria Baja Hitam kaleee.

“Dengerin ya Njul.  Mau coblosan model apapun, mau milih kayak apapun. Mau ini kek, mau itu kek. Pokoknya, apapun yang sedang diributkan di televisi itu, GUE KAGAK PEDULI !…. Toh dari dulu, semenjak bokap gue masih ada, sampai gue gede seperti ini, warung yu Jum masih sama seperti dulu. Reot !”

Panjul : ” ???????????!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

English in Galau……

Burung pipit masih bernyanyi di pohon mirah belakang rumah si Panjul. Suaranya melengking indah. Masih di tempat yang sama, si Panjul sedang menyirami beberapa tanaman cabe yang ia tanam beberapa minggu yang lalu. Tak henti-hentinya ia bersiul menyaingi nyanyian indah si pipit indah ningrum, eh… burungnya pipit…  ealahhh…  burung pipit maksudnya. Siulannya tak kalah merdu. Kadang terdengar…. kadang, tidak terdengar sama sekali. Mblebek, begitu orang Banyumas bilang.

“Njul…. tolong nyokap dong !”

Tiba-tiba terdengar suara wanita dari dalam rumah. Oh, ternyata nyokapnya si Panjul.

“Sebentar mam, nanggung nih. Masih ada beberapa tanaman cabe yang belum Panjul siram !”

“Cepetan ! ini kan sudah siang…. Berasnya abis. Tolong ke warungnya yu Jum. Beli beras sana !”

“Okey mami…. I’m coming….” Balas Panjul dengan nada yang aneh…. #kaya yang lagi baca…. hikz

“Gaya banget kamu njul… pake coming comingan segala…. Wong bahasa Inggris waktu kamu sekolah dulu cuma dapat 6 kok di raport…. Gaya banget !”

Kata nyokap Panjul sembari memegang dandang (Alat untuk menanak nasi. Bentuknya seperti pelor senapan angin, besar… ya cukup buat nampung cewek/cowok yang kamu PHP in… wehehehe).

“Enam itu besar lho mam….”

“Iya besar. Kalau diukir di gunung Slamet sana !”

“Wah mami… Nyindir bingit deh ah….”

“Ocre… Kalau kamu pintar, coba jawab pertanyaan nyokap kamu yang kece ini ….  #kali ini megang ember.   Apa bahasa Inggrisnya melihat matahari ? Coba jawab ! Kalau gak bisa jawab kamu tak hukum ngelilingin ember ini sebanyak 10 kali…  #hadehhh……

“Itu sih gampang mamiku chayank….   Melihat itu, see…. matahari, Sun…. jadinya, kalau melihat matahari ya, see the sun….  Iya kan mam ?”

“Salah !” Kata nyokapnya Panjul.

“Yang bener ajah mam. Panjul dah mbuka gugel trenslet nih”  #salto…..

“Melihat itu, see… matahari, sun…. jadi, kalau melihat matahari…….. seeeeeeeeeee Lauuuu………..”   #silau kelesss…..

Panjul : “???????!!!!!!!!!gGJIGF86693JFSBKLNF11111111111LFKG000000000000”

#GARUK-GARUK BOKONG

:p

ilustrated by : dreamstime.com

BBM oh BBM

Pagi ini si Panjul Baidewe kembali beraksi. Dengan sepatu mlisning dan gaya rambut barunya yang semok, ia nongkrong di salah satu POM BENSIN terkenal di kampungnya. Ya dimana lagi kalau bukan di warungnya yu Jum. Kebetulan yu Jum jualan bensin dan solar. Anak-anak muda di dusun si Panjul biasa menyebut warung yu Jum dengan banyak istilah. Ada yang nyebut dengan istilah POM BENSIN, warjok (warung pojok), mabes, cafe gaul, kantor cinta (maklum biasa ada pasangan yang hanya pacaran di pojok warung, tanpa membeli apapun, walau hanya sekedar beli orson sekalipun… wkwkwk), ada juga yang menyebutnya sebagai kantor rektorat. wuihhh… Pokoknya julukannya gemuk abis. yaa seperti yang jualan. Bulet mas broh 🙂

Sebagai tongkrongan favorit, warung yu Jum menyediakan berbagai makanan yang lagi digandrungi sama anak-anak gaul. Misalnya : rengginang, sempeleok, leper, pilus, dan themlek. Minuman yang dijualpun beraneka rasa, mulai dari rasa yang manis, sampai rasaku pada rasamu yang tak pernah hilang… cie cie ciee…

Seperti biasa, sebagai ketua Gank ICCAS ( Ikatan Cowok Cewek Cacat Asmara ), si Panjul langsung menyambar koran. Maklumlah sebagai komunitas gaul, si Panjul harus senantiasa baca koran, walaupun koran minggu lalu. Bahkan kadang-kadang koran bulan lalu. Maklumlah koran yang di baca si Panjul di warungnya yu Jum adalah koran bekas bungkus tempe. Weelaahhh…

“Wah, berita bagus nih yu…” Si Panjul memulai percakapan dengan teman dekat wanitanya, yaa siapa lagi kalau bukan yu Jum. Wanita setengah baya yang masih tampak kecantikannya seperti MaKdonna. Eh !

“Berita apa njul ?” tanya yu Jum.

“Harga BBM naik yu ! Ini kan berita gembira. Secara otomatis pendapatan di warung yu Jum, khususnya dari penjualan bensin akan bertambah. Bagus kan yu ?”

“Bagus bathukmu ! Kamu ini sok tahu bingit kaya wartawan yang nulis berita tanpa datang ke rumahnya mbah dukun bayi. Jika harga BBM naik, otomatis harga-harga lainnya ya naik. Mulai dari harga beras, gula, sayur mayur sampai harga celana kolorpun ikut naik plun. Gak ngaruh kelessssssss !”

“Wuih, gaul juga yu Jum ini… Pakai bahasa ale ale, coba yu Jum pakai bahasa sprite atau fanta ? wuihhh…. #minuman kali.

Bawa celana kolor segala. Buat ipi in ? ” Seloroh Panjul dengan gaya yang tentunya, lebih “tragis” lagi.

“Buat makan kamu njul ! Coba kalau kamu gak pakai kolor ? bisa mati mendadak aku ngelihat gergaji kamu !  Eh, njul kira-kira kamu punya solusi ndak untuk ngatasin kenaikan BBM ini ? Kamu kan cerdas, pintar, dan penyayang binatang. Coba njul, kasih masukan !”

“Gampang kok yu. Kalau BBM naik, ya SMS aja !” Jawab Panjul sambil berlalu meninggalkan warung yu Jum.

“Oalah…. CAH EDAN !”

KENTANG SI PANJUL

Hari ini si Panjul membawa sekeranjang kentang. Tak seperti biasanya, kali ini ia membawa begitu banyak kentang. Mengapa tak seperti biasanya ? Karena ia tak pernah membawa kentang. Mau di jualkah ? Ternyata tidak ! Bagaimana ia mau jualan, wong kerjanya saja sebagai montir di bengkel sepeda onthel yang tak laris-laris itu hampir tiap hari pulangnya sore. Weehhh ……

Wuih, ternyata si Panjul punya aktivitas baru. Seperti yang tadi sudah diberitakan di media sosial, bahwa bengkel sepeda onthel tempatnya bekerja adalah bengkel yang kurang laku…. Naaah disaat “nganggur” itulah si Panjul mengukir kentang yang ia bawa tadi. Namanya juga montir, maka ukirannya pun berisi gambar-gambar alat2 bengkel. Contohnya : Baut, Mur, Tang, Kunci inggris, dan Paijem… Untuk yang terakhir saya sebut, adalah nama mantan pacarnya yang memutuskannya tiga abad yang lalu.

Dengan begitu bengis dan sedikit putus nafas, akhirnya selesai juga karya-karya si Panjul yang luar binasa itu. Setelah selesai,kentang yang diukir itu diserahkannya kepada bosnya, si pemilik bengkel sepeda onthel.

“Untuk apa ini njul ?” Tanya bosnya.
“Untuk bos lah tentunya !” jawab Panjul sekenanya.
“Maksudku begini njul. Harus aku apakan kentang2 ini ? Buang, bakar, goreng, atau tak timpukkan ke kepala kamu ?”
“Simpan saja bos !”
“Maksudmu ?” Tanya bosnya keheranan.
“Ya, simpan saja bos. Taruh di koper bos yang paling besar.”
“Berapa lama ?”
“Terserah bos. Selama2nya juga tak apa2!” Jawab Panjul, kali ini ketus.
“Hahahaha… Sudah gila kamu njul ?”
“Mungkin sedikit gila bos” Jawab Panjul ketus.
“Bagaimana mungkin aku menyimpan kentang-kentang itu selamanya. Ga ada gunanya. paling busuk, bau, bisa jadi belatungan.Buat apa njul ?” kali ini bosnya yang giliran ketus.

“Begini bos, bos kan pengusaha. Biasanya kan pengusaha itu penuh inspirasi… Naah bayangkan kentang itu adalah kesalahan-kesalahan saya bos… ” Pinter ngeles juga ni si Panjul.
“Maksudmu apa njul ? jangan bertele2 kayak gitu ?” Tanya si bos penuh keheranan…
” Ya kalau kentangnya sudah lama kan membusuk bos. Kalau membusuk pantasnya diapakan bos ? di buang kan ? Iya ga bos ?”
” Yayaya… lanjutkan !” perintah bosnya…
“Ya seperti kentang itulah bos kesalahan saya. Saya punya banyak kesalahan sama bos. Jadi, tolong dong bos, jangan disimpan lama2 ya kesalahan2 saya selama saya bekerja di bengkel ini ! Intinya, mohon dibuang semua kesalahan saya di hati bos !”

“Oalaaah njul, njul… begitu saja ribet… Tentu saja aku maafkan njul… Kamu memang karyawan yang cerdas !”
“Terima kasih bos… Oh ya bos, ngomong-ngomong, sudah hampir 3 tahun ini saya berselingkuh dengan isteri bos. Di maafin kan bos ?”
“APA !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

*DHIZYEGH !!!