NAPAK TILAS LUHUR BANYUMAS

Selamat malam wahai penduduk yang mencintai tanah kelahiran. Pada malam Minggu yang syahdu ini Mas Darsono akan berbagi kisah yang berhubungan dengan tanah kelahiran. Tanah kelahiran siapa mas? Tanah kelahiran kami sebagai wong panginyongan/Banyumas.


Sebenarnya kegiatan napak tilas luhur Banyumas ini adalah bagian dari rangkaian acara pelantikan penggalang rakit Gugus Depan SMP Negeri 2 Jatilawang Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Tempat dimana dulu saya menimba ilmu dan sekarang menimba duit disana 😉 Kan sekarang saya bekerja di situ? Mbuehehe…

Gagasan napak tilas luhur Banyumas ini tidak terlahir begitu saja. Gagasan ini lahir dari keprihatinan kami selaku warga Banyumas pada khususnya, dan selaku warga Republik pada umumnya. Prihatin karena banyak anak-anak muda Banyumas yang seakan lupa dengan sejarah, budaya dan moyangnya. Untuk itulah diperlukan suatu cara yang menurut kami mengasyikan agar anak-anak muda ini minimal sekali bisa mengenal perihal perjalanan leluhur mereka.

Kebetulan waktu itu saya masih menjadi pembina pramuka (Sekarang tidak). Saya dan beberapa rekan pembina lainnya memutuskan untuk mengadakan pelantikan pramuka yang berbeda dengan format-format sebelumnya. Kalau biasanya kita mengadakan pelantikan di pangkalan (sekolah), maka kali ini kami memutuskan untuk untuk mengadakan pelantikan dengan tajuk “Napak Tilas Luhur Banyumas.”

Sesuai namanya, harapan kami semoga adik-adik pramuka ini yang notabene adalah orang Banyumas, mengenal perjuangan para leluhurnya, budaya, asal usul dan menumbuhkan rasa kecintaan terhadap tanah airnya.

Lalu kenapa acara ini diberi nama Napak Tilas Luhur Banyumas? Sengaja kami putuskan untuk memberi nama tersebut karena kegiatan yang akan kami laksanakan itu berupa tour dari satu tempat ke tempat lainnya yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah Banyumas.

Adapun tempat-tempat yang direncanakan akan kami kunjungi tersebut adalah :
1. Makam Raden Joko Kaiman (Pendiri Banyumas).
2. Pendopo Duplikat si Panji di kota lama Banyumas (Pendopo aslinya sudah di pindah ke Purwokerto).
3. Kantor kecamatan Banyumas yang dulunya merupakan tempat kediaman pemimpin Banyumas. Ya bisa dikatakan sebagai istananya Banyumas lah gitu 🙂
4. Masjid Nur Sulaiman (Salah satu masjid tertua di kota lama Banyumas yang merupakan salah satu cagar budaya di Jawa Tengah).
5. Museum Wayang Banyumas.
6. Pendopo asli si Panji di Purwokerto.
7. Jalan raga semangsang Purwokerto.
8. Jalan Kyai Pekih Purwokerto.
9. Museum BRI .
10. Monumen Jenderal Soedirman di Karanglewas (kurang lebih 3 kilo meteran sebelah barat Purwokerto)

Namun dari rencana sepuluh item yang juga merupakan destinasi wisata di kabupaten Banyumas tersebut kami kunjungi, kami hanya sampai pada poin ke-6. Yupz, perjalanan terpaksa harus berakhir di Pendopo asli si Panji yang berada di kompleks gedung DPRD Kabupaten Banyumas yang berlokasi di sebelah utara alun-alun purwokerto. Hujan dan angin yang sangat lebat disertai petir mengharuskan kami untuk tidak melanjutkan perjalanan berikutnya. Coba kalau ada Doraemon, ah… Pasti bakalan saya minta alat untuk menghilangkan hujan angin itu. Wkwkwkwkwk.

Napak Tilas Luhur Banyumas


Setelah melaksanakan apel pemberangkatan sekitar jam 7.30 WIB, kami langsung berangkat ke kota lama Banyumas. Rombongan terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menggunakan mikrobus. Sedangkan kelompok yang kedua adalah kelompok bikers alias penunggang kuda besi, termasuk saya 🙂

Mereka bukan model… Mereka hanyalah lelaki-lelaki baper…. Xixixixi….

Selpie dulu walaupun belum mandi kembang….

Mereka bukanlah tentara kumpeni…. 

Pesan mikrobus-nya bisa online lho…. cukup SMS sama sopirnya 🙂

Kalau yang ini lagi di pesawat mini… xixixiix

Itu yang badannya atletis adalah boss pemilik mikro.. Kebetulan juga teman satu SMP… Yeahh.. reunian 🙂

Demi kebaikan untuk hubungan ini, maka para bikers tidak dipublikasikan di muka umum 🙂

Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih empat puluh menit sampailah kami di tujuan pertama kami, makam Raden Joko Kahiman di desa Dawuhan Kecamatan Banyumas. Oh ya, sekedar diketahui saja bahwasanya di Dawuhan ini merupakan makam para kerabat Mataram. Jadi tidak hanya makam Raden Joko Kaiman saja disana. Banyak para petinggi Mataram yang dimakamkan disana. Dan sampai saat ini, banyak para kerabat Mataram dan keturunan Raden Joko Kaiman berziarah kesini, termasuk Beliau Bapak Prabowo Subianto
Berpose di depan makam Raden Joko Kahiman

Mukamu mana mas? Mana mukamu?
Nah, khusus gerombolan Bikers, karena saking kompaknya, mereka tiba di lokasi tidak bersamaan. Usut punya usut ternyata mereka mampir dulu ke rumah saya. Kan rumah saya dekat dengan kota lama Banyumas? Hahaha…
Seperti yang sudah saya jelaskan pada gambar, ada salah satu bos mikro yang kebetulan adalah teman saya. Dan kebetulannya lagi adalah ada beberapa pembina damping yang juga merupakan alumnus SMP Negeri 2 Jatilawang. AKhirnya sembari napak tilas, kami juga reuni kecil-kecilan. Beginilah penampakan kami waktu saya punya jenggot 🙂
Setelah tiba di makam Raden Joko Kaiman, seluruh peserta kecuali yang sedang halangan segera berwudlu. Lha kok wudlu? Kapan lagi tidak mendo’akan sang pendiri kadipaten kalau bukan saat ini. Bukankah wajar mendo’akan pemimpin apalagi seorang pendiri tanah kelahiran kami? 🙂
Sebelum acara do’a/tahlil dilaksanakan, terlebih dahulu para rombongan yang sebagian besar adala anak-anak muda ini diberi penjelasan perihal perjalanan hidup sang Pendiri kadipaten. Salah satu guide yang juga kepercayaan kuncen setempat memberikan penjelasan kepada kami.
Perjalanan hidup sang Adipati sedang dipaparkan

Raden Joko Kaiman merupakan pendiri dan bupati pertama Banyumas. Nama kecil Beliau adalah Jaka Semangun. Ayah beliau bernama Raden Harya Banyak Sosro. Berdasarkan cerita, Jaka Semangun atau Raden Joko Kaiman ini diangkat anak oleh Kyai Sambarana atau Kyai Mranggi Semu.

Nyai Mranggi Semu (ibu angkat R, Joko Kaiman) bernama asli Raden Ayu Ngaisah. Raden Ayu Ngaisah ini merupakan adik kandung dari Raden Banyak Sosro (Ayah kandung R. Joko Kaiman). 
Nah, perlu diketahui juga bahwa kakek dari Raden Ayu Ngaisah ini adalah Raden Harya Baribin (Putera Prabu Brawijaya IV dari Majapahit). Sedangkan nenek Beliau adalah puteri bungsu dari Pabu Linggawastu dari Kerjaan Pakuan Parahiyangan (Jawa Barat). Jadi, darah yang mengalir pada Raden Joko Kaiman merupakan trah perpaduan dari dua kerajaan besar di nusantara ini, Majapahit dan Pakuan Parahiyangan.
Lantas, bagaimana ceritanya kok Raden Joko Kaiman ini menjadi pendiri dan adipati/bupati pertama Banyumas? Marilah kita simak setelah pesan-pesan berikut ini. Halah!

Berdirinya Banyumas tidak lepas dari peristiwa terbunuhnya Adipati Wargautama. Adipati Wargautama merupakan penguasa Wirasaba yang dibunuh oleh seorang gandhek (bentara pendamping raja) suruhan Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Peristiwa pembunuhan ini terjadi di Desa Bener Kecamatan Lowano, Purworejo.
Diceritakan, Sultan Hadiwijaya merasa terhina lantaran puteri bungsu Adipati Wargautama yang dipersembahkan kepadanya sebagai tanda kesetiaan dikabarkan sudah tidak perawan lagi oleh ki Demang Toyareka. Sebuah informasi menyesatkan yang akhirnya pada suatu hari nanti menimbulkan penyesalan yang teramat dalam di hati sang Sultan.
Sebelum peristiwa itu terjadi, R. Joko Kaiman sudah dinikahkan dengan salah satu puteri Adipati Wargautama yang bernama Raden Ayu Kartimah.
Adipati Wargautama memiliki lima orang anak, Raden Ayu Kartimah, Ngabehi Wargawijaya, Ngabehi Wirakusuma, Ngabehi Wirayuda, dan terakhir Rara Sukartiyah.
Kembali kepada cerita pembunuhan di atas. Merasa berita yang kadung diterima oleh sultan adalah berita yang salah, maka sultan Pajang memanggil putera adipati Wargautama. Namun tak satupun mau kesana lantaran takut mengalami nasib yang serupa dengan ayah mereka. Akhirnya R. Joko Kaiman beserta isterinya, Rara Sukartiyah mewakili saudara-saudaranya menghadap Sultan.
Setelah bertemu dengan sultan, bukan teguran ataupun hukuman yang didapatkan oleh Joko Kaiman, melainkan penganugerahan kepercayaan kepada R. Joko Kaiman untuk menggantikan mertuanya sebagai penguasa di Wirasaba dengan gelar Adipati Wargautama II.
Kemudian untuk merangku saudara-saudaranya, R. Joko Kaiman membagi Kadipaten Wirasaba menjadi empat bagian. Oleh karena membagi Wilayah menjadi empat bagian inilah, R. Joko Kaiman juga dikenal sebagai Adipati Mrapat (berasal dari kata papat/Empat)
Peristiwa pembagian wilayah ini tentu saja atas seizin Sultan. Terjadinya pembagian wilayah ini tepanya pada tahun 1582 M.
Adapun empat wilayah yang dibagi sekaligus para Adipatinya adalah sebagai berikut :
1. Kadipaten Purbalingga diamanatkan kepada Ngabehi Wargawijaya
2. Wilayah Merden diamanatkan kepada Ngabehi Wirakusuma, berubah menjadi Kadipaten Cilacap
3. Wilayah Banjarpertambakan diamanatkan kepada Ngabehi Wirayuda, menjadi Kadipaten Banjarnegara
4. Wilayah Kejawar, R. Joko Kaiman
Di Kejawar inilah R. Joko Kaiman membuka hutan Mangli yang kemudian dijadikan pusat pemerintahan baru yang diberi nama Banyumas. Nama Banyumas itu sendiri muncul ketika peristiwa babat hutan Mangli. Diceritakan ketika babat hutan tersebut dikerjakan, tiba-tiba muncul kayu mas gelondongan yang terbawa arus sungai Serayu. Dari peristiwa itulah maka nama hutan yang sedang dibabat itu diberi nama Banyumas (Banyu = air, mas = emas). Kayu emas itu kemudian dijadikan soko guru kadipaten.
Itulah cerita asal muasal Kabupaten Banyumas.
Kembali ke kegiatan napak tilas. Setelah sejarah hidup R. Joko Kaiman diceritakan, kamipun mengadakan do’a bersama berupa tahlil di makam pendiri Banyumas tersebut.
Berikut beberapa kegiatan yang kami rekam ketika berada di makam Dawuhan.
Berdo’a langsung di depan makam sang Adipati

Yang lain pada pulang, ini si Pety malah pose kaya binaraga… eh…

Setelah napak tilas di makam Dawuhan, kami pun menuju destinasi selanjutnya, bekas pusat kadipaten Banyumas yang sekarang dijadikan kantor Kecamatan Banyumas. Lokasinya masih sama yaitu di kota lama Banyumas 🙂
Jaraknya tidak begitu jauh dari lokasi pertama, kurang lebih 4 sampai 5 kilometeran ke arah timur. Sekedar saran saja, kalau teman-teman mau berkeliling di kota lama Banyumas ini alangkah baiknya bersama guide yang sudah tahu persis perihal kota lama Banyumas ini. Banyak kok informasi tentang guide ini. Jika masih bingung, langsung saja sobat datang ke museum wayang Banyumas. Museum ini berada di sebelah utara alun-alun Banyumas. Di museum itu ada beberapa guide yang sangat bisa diandalkan 🙂
Langsung ke tekape… 
Inilah penampakan dari kantor kecamatan sekaligus pendopo duplikat si Panji. Letaknya pada satu lokasi tentunya.
Pendopo si Panji yang berada di luar kantor kecamatan… Dulu merupakan pusat pemerintahan kadipaten Banyumas

Bangunan di sekitar pendopo

Di pendopo ini 🙂

Setelah kami sampai di pendopo, langsung kami pasrahkan sepenuhnya semua penjelasan perihal pendopo beserta bangunan lainnya kepada sang pemandu wisata. Maklumlah, kami belum mempunyai ilmu yang cukup tentang sejarah dan berbagai kisah yang ada di kompleks isatananya Banyumas ini. Hehehe…

Mulai memasuki yang punya wilayah

Pertama kali memasuki kompleks bangunan ini kita kan disuguhkan pada semacam lorong. Kalau kita lihat sekilas, model seperti ini biasa kita dapatkan pada bangunan-bangunan, khususnya istana atau benteng yang ada di tanah Jawa ini.

lorong

Dibagian dalam bangunan terdapat ruangan dengan ciri khas bangunan kuno.

entah ruangan apa ini

Masih di bagian belakang pula, terdapat lahan kosong. Konon dulu dijadikan sebagi tempat latihan berkuda bagi para penghuni istana.

Dan yang tak kalah menariknya adalah adanya sumur kecil yang diberi nama sendang mas atau sumur mas. Sampai sekarang tempat tersebut sering dijadikan sebagai tempat ritual khusus. Saya tidak begitu tahu persis tentang ritual tersebut. Yang jelas, ketika kami kesana ada sesaji dan alat-alat guna melakukan kegiatan ritual tertentu berupa kemenyan dan minyak duyung, minyak yang biasa digunakan untuk ritual tradisional di daerah Banyumas ini.
Sendang/sumur mas

Ramai-ramai melihat sendang mas

Dengan antusias melihat dan mendengarkan langsung penjabaan sumur mas ini

Kebun belakang bangunan

Bagian depan

Setelah puas menyusuri bangunan, kamipun bergegas menuju ke museum wayang sendang mas Banyumas. Lokasinya dimana? Sebelah timur persis pendopo si Panji bro 🙂 Masih satu komplek tentunya.

Apa saja sih koleksi di museum ini? Yuuk kita intip 🙂
Oh ya, tiketnya murah kok. Berapa? Pokoknya ndak nyampai 5K. Hehehe…
Namanya juga museum wayang, maka koleksinya pun adalah wayang dan berbagai benda tradisonal lainnya yang berhubungan dengan wayang. Apa istimewanya? Wayang yang ada disini bukan hanya wayang versi gagrak Banyumasan saja dan bukan hanya wayang kulit. Ada berbagai jenis wayang disini. Termasuk wayang china kalau tidak salah 🙂

Selain wayang, koleksi lain yang dimiliki oleh museum wayang Banyumas ini adalah benda-benda pusaka seperti keris, gamelan, foto-foto bupati Banyumas dari bupati pertama sampai saat ini, foto-foto banyumas tempo doeloe, ada juga artefak kuno yang sudah berusia ribuan tahun.
Koleksi benda-benda kuno 

Penjara Belanda tempo dulu (sekarang LP Banyumas)

Sekarang puskesmas Banyumas, dulunya dooschool

artefak kuno

Foto salah satu Bupati Banyumas… Itu photographernya sampan banget yak?

Sekian laporan dari museum wayang Banyumas. Oh ya, untuk masjid Nur Sulaimannya tidak saya foto. Kebetulan pas sholat disana diantara kami tak ada yang sempat memotret. Kelaparan bro!

Setelah napak tilas di kota lama Banyumas, kamipun melanjutkan ke Purwokerto. Namun sayang, hujan disertai angin dan petir mengakhiri perjalanan kami untuk ke petilasan selanjutnya. So, perjalanan kami hanya berakhir di pendopo asli si Panji di kompleks gedung DRPD kabupaten Banyumas di kota Purwokerto.
Oh ya, bagi yang belum tahu saja, bahwa ibu kota kabupaten Banyumas adalah Purwokerto. Sedangkan kota lama Banyumas ini merupakan kota yang dulunya dijadikan sebagai pusat pemerintahan oleh para Adipati Banyumas sebelum akhirnya berpindah ke Purwokerto.
Banyak cerita tentang perpindahan ini, termasuk cerita tentang pemindahan Pendopo si Panji yang konon tidak boleh menyeberangi sungai Serayu. Akhirnya pemindahan pendopo si Panji dari kota lama Banyumas ke Purwokerto ini harus memutar melewati Semarang. Nah lho?

Kota lama Banyumas ini terletak di sebelah selatan Purwokerto. Kurang lebih 15-20 kilometeran dari Purwokerto. Bagi kalian yang sering pulang pergi JOGJAKARTA-PURWOKERTO via Sokaraja, pastilah kalian melewati kota lama Banyumas ini.
Sekian cerita mengenai napak tilas luhur Banyumas ini. Semoga bermanfaat.

10 pemikiran pada “NAPAK TILAS LUHUR BANYUMAS”

  1. ga tau kalo banyumas ini banyak tempat wisata… pas ke purwokerto 2013 pas keliling jawa, kita cuma semalam di purwokertonya.. padahl aku trmasuk seneng kalo dtg ke museum2 sejarah gini mas.. suka ngebayangin seandainya punya mesin waktu, pengen liat lgs sejarahnya :D..

    pembina pramuka toh mas.. aku dulu juga pramuka , tapi giliran pergi2 kyk jambore, ga pernah ikut :D.. ga diksh orang tua -__-.

    Balas
  2. Tempat wisata disini banyak banget bu 🙂
    hanya saja, ini sih menurut saya, kurang promo… hehehe… Dan salah satu tujuan saya ngeblog di blog yg satu ini adalah mengenalkan beberapa destinasi wisata di banyumas yg kurang terekspos 🙂 Paling yang terkenal hanya Baturraden….

    Wah ada museum yg bagus juga di Purwokerto mbak, museum BRI … Kan pendiri BRI orang Purwokerto. Koleksinya lumayan… Semoga lain waktu bisa saya posting disini 🙂

    Iya.. tapi mulai thn pelajaran ini sudah tidak lagi. Diganti bu… kebetulan juga hari kuliah saya sama dg hari eskul pramukanya 🙂
    walah… jambore malah tidak ikutan? xixixi… tapi menuruti ortu adlh kewajiban 🙂

    salam kenal bu… makasih menyempatkan waktu baca tulisan ini 🙂

    Balas
  3. Pelantikane seperti jalan-jalan wisata ae mas, asik juga kayake, selain pelantikan juga bisa mengajak andika pramuka melihat kembali sejarah masa lalunya, yang penting bukan kenangan masa lalunya, pahit mas.

    Bisa ditiru ini. Kalau tempat sya biasanya penjelajahan ke hutan atau pendakian gitu

    Balas
  4. Yg penting bukan mengenang mantan…. begitu kira2… ixixix…

    Naek gunung/penjelajahan alam juga udah biasa bro… ini lg pengen ganti suasana saja sekalian mengenalkan kembali ttg perjuangan para leluhuhr terdahulu 🙂

    Balas
  5. Kok tahu?
    Iya pak… saya aseli Gentawangi, tapi sekarang tinggal di Kalibagor 🙂

    Siap!!!
    🙂
    Maturnuwun pak sampun kersa rawuh teng warung kula 🙂

    Balas

Tinggalkan komentar