Sopir Ehem

Selamat malam bro dan sist bikers semua. Salam satu aspal!

Sore tadi merupakan salah satu sore terkamfret dalam hidup gue…. Ceileh, gue nich ye! Baiklah, saya ulangi… Gue!

Ceritanya begini. Tadi pas pulang kerja, sebagaimana biasa saya harus melewati salah satu rel kereta api yang terkenal dengan keangkerannya. Selain angker, rel kereta api yang saya lalui juga terkenal karena sering dilewati kereta api. Ya iya lah, masa dilalui jomblo akut macam elu? Mbuehehe.

Berhubung malam Jum’at, malam ini saya tidak akan bercerita mengenai keangkeran rel kereta api tersebut. Sungguh, dari pada ngomongin angker meng-angker, lebih baik kita bicarakan hubungan kita yang sudah telanjur jauh. Hah?

Hampir setiap hari, baik ketika saya pulang maupun berangkat kerja, entah kenapa ketika melalui pintu rel kereta api itu selalu saja ada kereta api yang lewat. Alhasil, hampir setiap hari saya bertemu dengan palang pintu kereta api yang dalam keadaan tertutup. Inilah salah satu keangkeran rel kereta api itu. Walaupun pintunya ditutup, tapi tuh pintu selalu saja tak pernah tertutup. Aneh kan?
*IQ berbintang pasti ndak bingung 🙂

Sama seperti hari kemarin, sore tadi sayapun terhalang pintu rel kereta api. Lumayan juga sih bisa untuk beristirahat sembari tengok kanan kiri. Kebetulan ada bikers cewek yang lumayan-lah kalau dibawa ke kondangan. Nggak malu-maluin gitu. eh!

Begitu si dodol lewat, eh… kereta api lewat, langsung saja saya bersama bikers lainnya tancap gas. Tapi apa yang terjadi saudara-saudara….. Baru saja rombongan bikers (yang dari arah saya) melewati rel kereta api, dari arah berlawanan, dengan santainya truk besar mengambil jalur kami.

Spontan kami langsung mengerem motor kami secara mendadak. Bagaimana tidak mendadak, lha wong truk besar itu secara tiba-tiba keluar dari jalurnya dan menutupi jalur yang akan kami lewati. Kontan saja semua kendaraan dari arah kami tidak bisa bergerak sama sekali. Macet!

Aneh bin ajib bin ajaib…. Biasanya keluar kata-kata “enak” dari para bikers. Tapi sore tadi, yang marah-marah ternyata penjaga palang pintunya. Mbuehehe…


Saya memang tidak mengeluarkan kata-kata “enak” dari mulut saya, tapi ingin sekali saya lempar sopir truk itu dengan sepeda motor saya. Tapi berhubung sepeda motor saya masih nyicil, akhirnya sepeda motor yang melempar saya. Eh!

Kemacetan tersebut hampir terjadi selama sepuluh menit. Yang bikin kami was-was adalah kedatangan kereta api berikutnya. Wa-was karena ada sebagian bikers yang terpaksa berhenti tepat di rel kereta apinya. Nah lho! bisa berabe kan kalau kereta berikutnya lewat?

Untunglah banyak pengemudi yang nrimo ngalah. Selamatlah si sopir dari amukan para bikers. Hanya omelan si penjaga palang pintu yang kayaknya bakalan dia ingat sampai tiba di warung remang-remang malam ini. Mbuehehe…


Ya, begitulah hidup…. Terkadang kita harus mengalah demi kehidupan banyak orang… Demi kemaslahatan ummat…. 


Dan mengalah itu bukanlah sesuatu yang hina. Untuk sopir ehem itu, lain kali mbok ya sampeyan jangan ugal-ugalan kek gitu. Ingat, papa pulang, mama bergoyang (Tulisan pada bak truk)


Salam bikers!



Satu pemikiran pada “Sopir Ehem”

  1. Hahaha…tulisannya meuni kriuk kriuk. Asyik bacanya. Iya,.sekali kali mengalah untuk kemaslahatan bersama ya..bisa dapat pahala lagi kalau iklas… Aamiin.

    Balas
  2. kalau ahdiahnya mobil mewah dan rumah megah, kayaknya bakalan pada iklas bu… hahahhaa….

    Ya itu dia bu… yang namanya hidup di jalan, memang harus ada sisi mengalahnya 🙂
    kalau maunya menang terus, wah…. bakalan repot tuh pak polisi 🙂

    Balas

Tinggalkan komentar